Ternyata Bukan Harimau, Jepang Purba Dihuni Singa Gua Selama Zaman Es

Selama ini, banyak ilmuwan meyakini bahwa Jepang purba pernah menjadi “tempat perlindungan” harimau pada Zaman Es. Namun penelitian terbaru justru membalikkan anggapan tersebut. Fosil-fosil kucing besar yang selama puluhan tahun diklasifikasikan sebagai harimau, ternyata milik singa gua (Panthera spelaea)—spesies singa purba yang kini telah punah.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dan langsung memicu evaluasi ulang sejarah migrasi predator besar di Asia Timur.

“Temuan kami menantang pandangan yang berlaku bahwa harimau pernah mencari perlindungan di Jepang dan bahwa persebaran singa gua terbatas di Timur Jauh Rusia dan timur laut China,” tulis para peneliti. “Temuan ini memberikan bukti bahwa singa, bukan harimau, yang mengolonisasi Kepulauan Jepang pada akhir Pleistosen.”

**Ketika Jembatan Darat Menghubungkan Asia dan Jepang**

Hari ini Jepang dikenal sebagai habitat beruang cokelat dan beruang hitam Asia. Namun antara 129.000 hingga 11.700 tahun lalu, saat periode Pleistosen Akhir, kondisi Bumi sangat berbeda.

Zaman Es menyebabkan permukaan laut turun drastis. Penurunan ini membuka jembatan darat yang menghubungkan Asia daratan dengan Kepulauan Jepang. Melalui jalur inilah berbagai hewan besar bermigrasi, termasuk predator puncak seperti singa dan harimau.

Secara umum, singa gua menghuni wilayah Eurasia bagian utara, sementara harimau lebih banyak tersebar di wilayah selatan. Meski begitu, keduanya kadang bertemu di wilayah yang disebut para ilmuwan sebagai “sabuk transisi singa–harimau”, zona yang membentang dari Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Rusia bagian timur.

**Analisis DNA Membongkar Kesalahan Puluhan Tahun**

Di ujung timur zona ini terletak Jepang—yang selama ini dianggap sebagai refugium (wilayah perlindungan) harimau pada Pleistosen Akhir. Namun, bukti terbaru berkata lain.

Penelitian sebelumnya mengidentifikasi fosil kucing besar di Jepang berdasarkan ciri morfologi (bentuk tulang). Karena bentuk kerangka singa dan harimau memiliki kemiripan, kesalahan identifikasi pun terjadi.

Untuk memastikan kembali klasifikasi tersebut, tim peneliti dari berbagai institusi, termasuk Universitas Peking, meneliti ulang 26 fosil subfossil kucing besar dari berbagai situs di Jepang.

Mereka menggunakan pendekatan modern, antara lain analisis DNA mitokondria dan genom inti, paleoproteomik (analisis protein purba), penanggalan molekuler Bayesian, dan penanggalan radiokarbon.

**Tidak Ada Bukti Genetik Harimau**

Hasilnya mengejutkan. “Kami menemukan bahwa semua sisa ‘harimau’ kuno Jepang yang menghasilkan data molekuler ternyata, secara tak terduga, adalah singa gua,” ujar peneliti Shu-Jin Luo dan timnya.

Dari sampel yang diteliti, lima fosil menghasilkan genom mitokondria yang hampir lengkap dan satu genom inti parsial. Analisis filogenetik menunjukkan bahwa seluruh spesimen tersebut termasuk dalam garis keturunan singa gua Pleistosen Akhir yang dikenal sebagai spelaea-1.

Tak satu pun bukti genetik harimau ditemukan dari periode tersebut di Jepang.

**Bertahan 20.000 Tahun Lebih Lama dari Eurasia**

Analisis radiokarbon menunjukkan salah satu spesimen hidup sekitar 31.060 tahun lalu. Namun para peneliti memperkirakan singa gua sudah tiba di Jepang antara 72.700 hingga 37.500 tahun lalu, saat jembatan darat menghubungkan Jepang utara dengan Asia daratan selama periode glasial terakhir.

Menariknya, singa gua ini bahkan mencapai wilayah barat daya Jepang—area yang sebelumnya dianggap lebih cocok bagi habitat harimau.

Di Jepang purba, singa gua hidup berdampingan dengan serigala, beruang cokelat, beruang hitam Asia, dan populasi manusia awal. Sebagai predator puncak, mereka memainkan peran penting dalam ekosistem.

**Keunikan Paleogeografi Jepang**

Yang lebih mengejutkan, singa gua tampaknya bertahan di Jepang setidaknya 20.000 tahun lebih lama setelah spesies tersebut punah di Eurasia. Bahkan kemungkinan lebih dari 10.000 tahun setelah mereka lenyap dari Beringia timur (wilayah sekitar Alaska modern).

Menurut tim peneliti, ketahanan ini kemungkinan besar terkait dengan sejarah paleogeografi Jepang yang unik.

“Kelangsungan hidup singa gua yang lebih lama ini mungkin mencerminkan sejarah paleogeografi unik Jepang,” tulis mereka. “Temuan ini memperluas batas persebaran singa gua di Asia Timur dan memperhalus pemahaman kita tentang seberapa jauh ke selatan sabuk transisi singa–harimau bergeser pada periode tersebut.”

**Mengubah Peta Persebaran Predator Purba**

Saat ini, singa dan harimau tidak lagi berbagi wilayah. Pada awal abad ke-20, aktivitas manusia menyebabkan penyusutan besar-besaran habitat keduanya di Eurasia barat daya. Kini, populasi terdekat singa dan harimau terpisah lebih dari 300 kilometer di India.

Namun pada Pleistosen Akhir, interaksi antara keduanya mungkin jauh lebih sering terjadi. Temuan dari Jepang ini menunjukkan bahwa dinamika persebaran singa dan harimau di masa lalu jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan.

**Benteng Terakhir Singa Gua**

Jepang ternyata bukanlah “surga harimau” purba, melainkan salah satu benteng terakhir singa gua di Asia Timur.

Para peneliti menegaskan bahwa studi lanjutan sangat penting. “Peninjauan ulang fosil singa dan harimau di Eurasia lintang menengah akan sangat penting untuk memperjelas dinamika persebaran spesies dan memahami pergeseran sabuk singa–harimau,” simpul mereka.

Penemuan ini bukan hanya soal mengganti label “harimau” menjadi “singa”. Lebih dari itu, ia membuka kembali bab penting dalam sejarah evolusi predator besar dan menunjukkan betapa teknologi genetika modern mampu mengoreksi kesalahan ilmiah yang bertahan pul


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Klasik Semasa Kecil: Sersan Grung-Grung, Rahasia Goa Jepang

Seri Misteri Favorit: Misteri Gua Jepang

Seri EFEO – Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha