Planet tidak abadi. Mereka lahir, berkembang, dan pada akhirnya “mati”. Namun, berapa lama sebenarnya umur rata-rata sebuah planet? Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung miliaran tahun.
Umur sebuah planet sangat bergantung pada banyak faktor — mulai dari jenis bintang yang diorbitinya, ukuran planet itu sendiri, hingga proses geologi di dalam perutnya. Bahkan, definisi tentang “kematian” planet pun masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.
**Perjalanan Panjang dari Debu Menjadi Dunia**
Semua planet berawal dari sesuatu yang sangat kecil: butiran debu mikroskopis di dalam cakram gas dan debu yang mengelilingi bintang muda. Astrofisikawan Sean Raymond dari University of Bordeaux menjelaskan bahwa butiran debu tersebut saling bertabrakan dan bergabung, tumbuh menjadi benda yang semakin besar melalui serangkaian tabrakan kosmik.
Dalam proses yang berlangsung jutaan hingga ratusan juta tahun ini, lahirlah embrio planet. Planet raksasa gas seperti Jupiter dan Saturnus terbentuk dari inti batuan dan es yang sangat besar, lalu menarik gas di sekitarnya hingga menjadi raksasa.
Sementara itu, planet berbatu seperti Bumi mengalami fase akhir berupa tabrakan dahsyat dengan planet-planet muda lain dan benda langit kecil, setelah cakram gas di sekitar Matahari menghilang. Meski demikian, ilmuwan masih memperdebatkan urutan pasti proses pembentukan ini.
**Definisi “Kematian” Planet yang Ambigu**
Menentukan kapan sebuah planet “berakhir” ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Menurut ilmuwan planet Matthew Reinhold dari Stanford University, ada dua cara melihat akhir kehidupan planet.
Pertama, ketika planet benar-benar hancur — misalnya ditelan bintang atau bertabrakan dengan objek lain. Kedua, ketika kondisi planet berubah drastis sehingga tidak lagi seperti “dunia” yang dulu kita kenal.
Dengan kata lain, sebuah planet bisa saja masih ada secara fisik, tetapi telah kehilangan karakteristik pentingnya, seperti atmosfer, lautan, atau aktivitas geologi yang mendukung kehidupan.
**Nasib Bumi: 9,5 Miliar Tahun Menuju Akhir**
Bumi adalah contoh yang baik untuk memahami umur planet. Saat ini, Matahari menghasilkan energi melalui reaksi fusi nuklir, mengubah hidrogen menjadi helium di intinya. Namun, sekitar 5 miliar tahun lagi, hidrogen itu akan habis.
Ketika itu terjadi, Matahari akan mengembang menjadi raksasa merah sebelum akhirnya runtuh menjadi sisa bintang yang lebih kecil. Dampak bagi Bumi sangat dramatis: Matahari yang makin terang akan memanaskan Bumi hingga lautan menguap.
Bumi mungkin akan tertelan oleh Matahari yang mengembang. Jika selamat, Bumi bisa terlempar keluar tata surya dan mengembara di ruang antarbintang. Berdasarkan perhitungan ini, total umur Bumi diperkirakan sekitar 9,5 miliar tahun.
**Keistimewaan Planet di Sekitar Katai Merah**
Menariknya, Bumi kemungkinan tidak akan hidup selama sebagian besar planet lain di alam semesta. Mengapa? Karena Matahari adalah bintang katai kuning, sedangkan sebagian besar bintang di alam semesta adalah katai merah — bintang yang lebih kecil, lebih dingin, dan membakar bahan bakarnya jauh lebih lambat.
Bintang katai merah bisa bertahan hingga triliunan tahun. Namun, bukan berarti planet di sekitarnya juga hidup selama itu.
Dalam simulasi yang dilakukan Reinhold terhadap planet mirip Bumi yang mengorbit katai merah, ditemukan bahwa proses internal planet justru bisa mengakhiri “kehidupan” planet lebih cepat daripada kematian bintangnya.
**Geologi sebagai Kunci Kehidupan Planet**
Planet layak huni membutuhkan aktivitas geologi aktif, seperti tektonik lempeng. Proses ini memungkinkan nutrisi bergerak antara mantel dan permukaan, serta menggerakkan siklus karbon-silikat — sistem alami pengatur suhu planet.
Siklus karbon-silikat bekerja seperti “termostat” Bumi, menjaga iklim tetap stabil dalam jangka panjang.
Dari pemodelan tersebut, ditemukan bahwa konveksi mantel bisa bertahan 30 hingga 90 miliar tahun sedangkan pelelehan mantel dapat berlangsung 16 hingga 23 miliar tahun.
Artinya, planet berbatu di sekitar katai merah kemungkinan akan kehilangan aktivitas geologinya dan menjadi “mati secara internal” jauh sebelum bintangnya padam. Meski begitu, mereka tetap bisa mempertahankan kondisi stabil selama miliaran tahun.
**Dilema Bintang Besar: Hidup Singkat, Planet Terbatas**
Sebaliknya, bintang yang lebih besar memiliki umur jauh lebih pendek karena membakar bahan bakar nuklirnya dengan cepat. Sebagai contoh, bintang tipe A hanya bertahan sekitar 100 juta hingga 1 miliar tahun.
Planet yang mengorbit dekat bintang semacam ini kemungkinan hanya akan bertahan selama umur bintangnya.
Selain itu, planet raksasa gas juga bisa “mati” dengan cara berbeda: kehilangan atmosfernya akibat radiasi intens dari bintang. Semakin dekat jaraknya ke bintang dan semakin kuat radiasinya, semakin besar kemungkinan atmosfernya terkikis.
Namun, gravitasi yang kuat dapat membantu planet mempertahankan atmosfernya. Proses ini bisa berlangsung dari jutaan hingga miliaran tahun, tergantung kombinasi faktor tersebut.
**Akhir yang Ekstrem: Tabrakan hingga Pengembara Kosmik**
Dalam skala waktu yang sangat panjang — triliunan hingga kuadriliunan tahun — peluang peristiwa langka meningkat. Planet bisa bertabrakan dengan planet lain, terlempar keluar dari orbitnya, bahkan terlempar keluar dari galaksi dan mengembara tanpa bintang selamanya di ruang hampa.
Pada akhirnya, nasib terakhir sebuah planet bergantung pada bagaimana alam semesta itu sendiri berakhir. Jika alam semesta terus mengembang selamanya, planet-planet yang terlepas dari bintang akan mengembara dalam kegelapan abadi.
**Rentang Umur Planet yang Sangat Bervariasi**
Jawabannya: sangat bervariasi.
– Planet seperti Bumi: sekitar 9–10 miliar tahun
– Planet di sekitar
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: