Terungkap: Manusia, Bukan Gletser, yang Memindahkan Batu Stonehenge

Perdebatan selama puluhan tahun tentang Stonehenge akhirnya menemukan titik terang. Pertanyaan besar bagaimana batu-batu raksasa penyusun monumen prasejarah ini bisa tiba di Dataran Salisbury, Inggris selatan, kini terjawab.

Apakah batu-batu tersebut terbawa secara alami oleh gletser pada zaman es, atau justru dipindahkan dengan sengaja oleh manusia purba? Sebuah penelitian terkini memberikan jawaban yang lebih tegas: manusialah—bukan gletser—yang mengangkut batu-batu Stonehenge melintasi wilayah Britania Raya.

Temuan ini sekaligus menggugurkan teori lama yang dikenal sebagai glacial transport theory atau teori transportasi gletser.

**Asal Batu dari Lokasi yang Sangat Jauh**

Stonehenge diperkirakan dibangun sekitar 5.000 tahun silam. Batu-batu ikoniknya, terutama bluestone dan Altar Stone seberat sekitar 6,6 ton, selama ini diyakini berasal dari wilayah yang sangat jauh.

Bluestone diketahui berasal dari Perbukitan Preseli di Wales barat, sekitar 225 kilometer dari Stonehenge. Sementara itu, Altar Stone diduga berasal dari Inggris utara atau bahkan Skotlandia, dengan jarak minimal 500 kilometer.

Teori gletser menduga bahwa batu-batu ini terbawa es raksasa pada Zaman Es terakhir, lalu “ditinggalkan” di Inggris selatan sehingga mudah dimanfaatkan oleh manusia purba. Namun, riset terbaru menunjukkan skenario ini tidak sesuai dengan bukti geologis.

**Analisis Mineral Mengungkap Fakta**

Dalam studi yang dipublikasikan pada 21 Januari di jurnal Communications Earth and Environment, para peneliti menganalisis butiran mineral mikroskopis—khususnya zirkon dan apatit—yang ditemukan dalam sedimen sungai di sekitar Stonehenge.

Dengan memanfaatkan laju peluruhan radioaktif alami, para ilmuwan dapat menentukan usia butiran mineral tersebut. Usia ini berfungsi layaknya sidik jari geologis, yang bisa mengungkap asal-usul batuan di suatu wilayah.

Logikanya sederhana: jika gletser benar-benar membawa batu dari Wales atau Skotlandia ke Dataran Salisbury, maka sisa mineral dari batuan tersebut seharusnya tertinggal di sedimen lokal dan cocok dengan usia batuan di daerah asalnya.

Namun, setelah menganalisis lebih dari 700 butir mineral, para peneliti tidak menemukan kecocokan signifikan dengan batuan dari Wales barat maupun Skotlandia.

**Mineral Berasal dari Batuan Lokal**

Sebaliknya, hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar zirkon berusia antara 1,7 hingga 1,1 miliar tahun, periode ketika wilayah Inggris selatan tertutup pasir yang terpadatkan.

Sementara itu, mineral apatit menunjukkan usia sekitar 60 juta tahun, saat kawasan tersebut masih berupa laut dangkal subtropis.

Temuan ini mengindikasikan bahwa mineral-mineral di sekitar Stonehenge berasal dari batuan lokal, bukan dari wilayah jauh yang terbawa gletser. Dengan kata lain, lapisan es pada Zaman Es terakhir tidak pernah mencapai Dataran Salisbury.

**Bukti Kehebatan Manusia Prasejarah**

Kesimpulan ini memperkuat pandangan bahwa pembangunan Stonehenge bukanlah hasil kebetulan alam, melainkan proyek besar yang direncanakan dengan matang oleh manusia prasejarah.

Mengangkut batu seberat beberapa ton sejauh ratusan kilometer—bahkan mungkin menggunakan perahu—menunjukkan tingkat organisasi, teknologi, dan motivasi spiritual yang luar biasa untuk zamannya.

“Bukti ini semakin menegaskan bahwa batu-batu paling eksotis di Stonehenge tidak tiba secara kebetulan, melainkan dipilih dan dipindahkan dengan sengaja,” tulis para peneliti.

Lebih dari sekadar monumen batu, Stonehenge kini semakin dipahami sebagai simbol ketekunan, kecerdikan, dan ambisi manusia purba—sebuah pencapaian monumental yang melampaui batas alam dan waktu.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

National Geographic: Batupedia