Tikus Laboratorium yang “Menghirup Alam” Lebih Tenang: Alarm bagi Riset Biomedis

Ungkapan populer di internet seperti “touch grass”—yang kerap dipakai untuk menyarankan seseorang agar keluar rumah demi menenangkan pikiran—ternyata tidak sepenuhnya sekadar candaan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa saran tersebut memiliki dasar ilmiah, setidaknya pada tikus laboratorium.

Riset yang dipublikasikan pada Desember lalu di jurnal Current Biology menemukan bahwa tikus yang hidup di lingkungan alami luar ruangan menunjukkan tingkat kecemasan yang jauh lebih rendah dibandingkan tikus yang seumur hidup berada di kandang laboratorium.

Temuan ini sekaligus membuka kembali perdebatan besar: seberapa relevan hasil eksperimen hewan laboratorium terhadap kondisi manusia di dunia nyata?

**Kondisi Hidup yang Sangat Berbeda**

Dalam kondisi alami, tikus—seperti halnya manusia—hidup dalam lingkungan sosial yang kompleks. Mereka terus bergerak, mencari makan, menggali tanah, serta menghadapi berbagai risiko, termasuk ancaman predator. Aktivitas fisik dan tantangan lingkungan ini membentuk respons psikologis dan biologis yang dinamis.

Sebaliknya, tikus laboratorium umumnya hidup di kandang kecil seukuran kotak sepatu, bersama dua atau tiga sejenisnya. Makanan dan air tersedia secara teratur, tanpa tantangan berarti.

Menurut Matthew Zipple, penulis utama studi dan peneliti pascadoktoral di Cornell University, kondisi ini sangat tidak alami.

“Meneliti obat hanya pada tikus seperti ini hampir sama dengan membatasi penelitian manusia pada tahanan di sel isolasi,” ujar Zipple.

**Eksperimen dengan Labirin Plus**

Untuk menguji dampak lingkungan terhadap kondisi psikologis tikus, Zipple dan timnya membandingkan dua kelompok: tikus yang tetap tinggal di laboratorium dan tikus yang dipindahkan ke kandang luar ruangan dengan rumput, tanah, serta paparan langit terbuka.

Keduanya diuji menggunakan labirin berbentuk tanda plus dengan dua lengan tertutup dan dua lengan terbuka tanpa dinding. Alat ini sudah lama digunakan sebagai standar pengukuran kecemasan pada tikus.

Biasanya, tikus laboratorium akan mencoba menjelajahi lengan terbuka sekali, merasa terancam, lalu menghindarinya pada percobaan berikutnya. Respons ini begitu konsisten hingga lengan terbuka dianggap sebagai pemicu kecemasan.

Namun hasilnya berbeda drastis pada tikus yang hidup di luar ruangan. Tikus yang terbiasa dengan lingkungan alami tidak menunjukkan ketakutan berlebih terhadap lengan terbuka. Bahkan setelah beberapa kali pengujian di bawah cahaya terang laboratorium, mereka tetap menjelajah area terbuka dengan durasi yang sama seperti pada percobaan pertama.

**Perubahan Signifikan dalam Seminggu**

Menariknya, tikus laboratorium yang sebelumnya menunjukkan kecemasan tinggi juga mengalami perubahan signifikan setelah dipindahkan ke luar ruangan. Setelah satu minggu hidup di alam terbuka, mereka menghabiskan waktu dua kali lebih lama di lengan terbuka dibandingkan tikus yang tetap tinggal di kandang.

Andrea Graham, ahli ekologi evolusioner dari Princeton University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut penggunaan labirin standar sebagai cara yang “sangat kuat untuk menunjukkan keterbatasan praktik penelitian konvensional.”

**Sistem Imun Juga Berbeda**

Masalahnya tidak berhenti pada aspek perilaku. Penelitian lain menunjukkan bahwa tikus kandang juga memiliki profil sistem imun yang berbeda dibandingkan tikus yang hidup di lingkungan alami dan terpapar tanah, tumbuhan, serta mikroorganisme.

Graham mencontohkan kasus terkenal pada 2006 terkait obat TGN1412. Obat ini tampak aman dan efektif meningkatkan sistem imun pada tikus laboratorium. Namun saat diuji pada relawan manusia, justru memicu reaksi imun ekstrem yang hampir fatal.

Penelitian lanjutan menemukan bahwa pada tikus laboratorium, obat tersebut mengaktifkan sel imun penenang. Sebaliknya, pada tikus yang hidup di lingkungan alami, obat yang sama memicu respons imun berlebihan hingga tubuh menyerang dirinya sendiri.

“Jika kita hanya meneliti beberapa genotipe tikus dalam lingkungan yang secara imunologis dan psikologis ‘membosankan’, kita tidak akan mampu memahami spektrum respons manusia yang sesungguhnya,” kata Graham.

**Tantangan Penelitian Masa Depan**

Menggunakan kandang semi-alami memang membutuhkan biaya lebih besar dan mengurangi kontrol ketat terhadap variabel eksperimen—sesuatu yang selama ini menjadi zona nyaman para peneliti biomedis.

Namun Zipple menilai pendekatan ini justru bisa menghemat waktu dan biaya dalam jangka panjang. Dengan menguji obat pada tikus yang hidup lebih alami, peneliti dapat lebih awal mengidentifikasi mana obat yang berpotensi berhasil pada manusia dan mana yang kemungkinan besar akan gagal.

Saat ini, tim Zipple juga tengah meneliti bagaimana perbedaan lingkungan memengaruhi proses penuaan pada tikus. Tujuan besarnya adalah menyusun daftar karakteristik biologis dan psikologis yang serupa antara tikus laboratorium dan alam liar—serta daftar sifat yang sangat berbeda.

“Dengan begitu, kita bisa lebih bijak menerjemahkan hasil riset dari laboratorium ke klinik,” ujarnya.

**Pesan untuk Dunia Sains dan Manusia**

Studi ini memberikan pesan sederhana namun penting: kehidupan yang terlalu steril dan terisolasi dapat mengubah perilaku dan biologi secara mendasar. Bagi dunia sains, temuan ini menjadi pengingat bahwa memahami manusia—dan penyakitnya—mungkin membutuhkan model penelitian yang lebih dekat dengan realitas kehidupan itu sendiri.

Dan mungkin, saran untuk sesekali “menyentuh rumput” memang layak dipertimbangkan—bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan percobaan yang selama ini menjadi tulang punggung riset medis modern.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan