Sebuah studi terbaru mengungkap kemungkinan mengejutkan tentang asal-usul Titan, bulan terbesar Saturnus. Alih-alih terbentuk miliaran tahun lalu seperti kebanyakan satelit alami lainnya, Titan diduga lahir “baru” sekitar 400 juta tahun lalu—dari tabrakan dahsyat dua bulan besar yang saling menghantam.
Jika hipotesis ini benar, peristiwa kosmik tersebut tak hanya melahirkan Titan, tetapi juga dapat menjelaskan berbagai misteri lama tentang sistem Saturnus, termasuk asal-usul cincin ikoniknya.
**Keunikan Titan di Antara Bulan-Bulan Lain**
Titan adalah bulan terbesar kedua di tata surya setelah Ganymede milik Jupiter. Diameternya mencapai sekitar 5.150 kilometer—sekitar 1,5 kali lebih besar dari Bulan Bumi dan bahkan sedikit lebih besar dari planet Merkurius.
Keunikan Titan tak berhenti pada ukurannya. Bulan ini memiliki atmosfer tebal yang didominasi nitrogen, dengan kepadatan sekitar 1,5 kali atmosfer Bumi. Titan juga merupakan satu-satunya benda langit selain Bumi yang diketahui memiliki cairan stabil di permukaannya—bukan air, melainkan metana.
Kombinasi atmosfer tebal dan keberadaan danau metana menjadikan Titan salah satu kandidat paling menarik dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
**Bukti Sejarah Misi Cassini-Huygens**
Pada 2005, wahana Huygens milik Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dibawa oleh misi Cassini NASA, berhasil mendarat di Titan. Ini menjadikan Titan satu-satunya bulan selain Bulan Bumi yang pernah didarati wahana antariksa.
**Paradigma Baru dari Data Cassini**
Selama ini, para ilmuwan meyakini Titan terbentuk miliaran tahun lalu melalui proses akresi—yaitu penggabungan bertahap debu dan batuan kecil di sekitar Saturnus.
Namun studi baru yang dipublikasikan di The Planetary Science Journal dan diunggah di server pracetak arXiv pada 9 Februari oleh peneliti dari SETI Institute menunjukkan kemungkinan berbeda.
Berdasarkan data dari wahana Cassini, tim peneliti mengusulkan bahwa Titan terbentuk sekitar 400 juta tahun lalu akibat tabrakan dua bulan besar yang massanya relatif setara.
**Hyperion sebagai Saksi Bisu Tabrakan**
Tabrakan itu bukan hanya melahirkan Titan. Para peneliti juga menduga bahwa bulan kecil Saturnus bernama Hyperion terbentuk dari puing-puing sisa benturan tersebut—mirip dengan teori pembentukan Bulan Bumi setelah protoplanet Theia menghantam Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
**Petunjuk dari “Bulan yang Hilang”**
Saturnus saat ini diketahui memiliki sedikitnya 274 bulan, terbanyak di antara seluruh planet di tata surya. Namun para ilmuwan lama mencurigai bahwa satu bulan besar kemungkinan pernah “hilang”.
Orbit Saturnus terhadap Matahari memiliki kemiringan yang cukup besar dibandingkan planet lain (kecuali Uranus). Kemiringan ini memungkinkan kita melihat cincin Saturnus dengan jelas, tetapi juga mengindikasikan bahwa pernah ada benda masif yang memengaruhi gravitasi Saturnus.
**Resonansi Orbit sebagai Kunci**
Petunjuk pentingnya adalah hubungan orbit unik antara Titan dan Hyperion. Hyperion berada dalam resonansi orbit dengan Titan: Hyperion mengelilingi Saturnus tiga kali untuk setiap empat kali orbit Titan.
Penulis utama studi ini, Matija Ćuk dari SETI Institute, menyatakan: “Kami menyadari bahwa hubungan resonansi Titan-Hyperion ini relatif muda, hanya berusia beberapa ratus juta tahun. Periode ini bertepatan dengan waktu ketika bulan tambahan itu menghilang. Jadi mungkin Hyperion tidak selamat dari kekacauan tersebut, melainkan justru terbentuk karenanya.”
**Simulasi Pembentukan Titan**
Melalui simulasi berbasis data Cassini, tim peneliti menyimpulkan bahwa dua bulan besar—yang mereka sebut “Proto-Titan” dan “Proto-Hyperion”—saling bertabrakan. Dari tabrakan itulah Titan terbentuk, sementara Hyperion muncul dari puing-puingnya.
**Keterkaitan dengan Cincin Saturnus**
Hipotesis ini bahkan lebih jauh lagi. Para peneliti menduga bahwa tabrakan tersebut mungkin juga melahirkan beberapa bulan lain yang kemudian perlahan bergerak mendekati Saturnus dan bertabrakan dengan satelit yang sudah ada.
Rangkaian tabrakan ini menciptakan medan puing yang akhirnya membentuk cincin Saturnus sekitar 100 juta tahun lalu.
Jika benar, ini berarti cincin Saturnus relatif muda dalam skala kosmik—meski kesimpulan ini bertentangan dengan studi lain yang menyebut cincin Saturnus jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
**Penjelasan untuk Orbit “Miring”**
Selain itu, tabrakan besar ini juga bisa menjelaskan orbit “miring” dua bulan Saturnus lainnya, yaitu Iapetus dan Rhea, yang memiliki kemiringan berbeda dibanding satelit-satelit lain di sekitarnya.
**Mengapa Permukaan Titan Minim Kawah?**
Satu misteri lain yang mungkin terjawab adalah sedikitnya kawah tumbukan di permukaan Titan. Jika Titan memang jauh lebih muda—hanya berusia sekitar 400 juta tahun—maka ia memiliki waktu lebih singkat untuk dihantam meteorit dibanding bulan-bulan tua lainnya.
Sebelum tabrakan, Proto-Titan kemungkinan memiliki permukaan penuh kawah seperti Callisto, bulan milik Jupiter. Namun setelah tabrakan dan pembentukan ulang, Titan yang kita kenal sekarang memiliki “usia permukaan” yang jauh lebih muda.
**Misi Dragonfly akan Mengonfirmasi Teori**
NASA saat ini tengah mempersiapkan misi ambisius bernama Dragonfly, wahana mirip drone yang dijadwalkan meluncur pada 2028 dan diperkirakan tiba di Titan pada 2034.
Setibanya di sana, Dragonfly akan menjelajahi permukaan Titan untuk mempelajari komposisi kimia, geologi, dan potensi habitabilitasnya. Misi ini berpeluang mengonfirmasi apakah Titan benar-benar lahir dari tabrakan dua bulan raksasa—sekaligus membantu mengungkap lebih banyak misteri tentang cincin Satur
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan