Ular Berevolusi Jadi Kanibal? Ini Penjelasan Ilmuwan yang Mengejutkan

Sebuah studi terbaru menemukan perilaku kanibalisme pada ular telah muncul setidaknya 11 kali secara terpisah dalam sejarah evolusi. Fenomena ini ternyata bukan sekadar “kelainan”, melainkan strategi bertahan hidup.

**Bukan Kelainan, Tapi Adaptasi**

Kanibalisme mungkin terdengar ekstrem dan menjijikkan bagi manusia. Namun di dunia hewan, praktik memakan sesama spesies bukanlah hal asing.

Laba-laba dan belalang sembah, misalnya, dikenal melakukan kanibalisme saat kawin. Kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ular pun berkali-kali berevolusi menjadi kanibal—dan tampaknya ada alasan evolusioner di baliknya.

Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan pada 2 November 2025 di jurnal Biological Reviews mengulas lebih dari 500 laporan perilaku kanibalisme pada ular.

Hasilnya mengejutkan: perilaku ini telah muncul secara independen setidaknya 11 kali dalam garis keturunan evolusi ular.

**Perspektif yang Keliru dari Sudut Pandang Manusia**

Peneliti utama studi tersebut, Bruna Falcão, mahasiswa pascasarjana biologi di University of São Paulo, menekankan bahwa sudut pandang manusia sering kali keliru dalam memahami fenomena ini.

“Bagi kita manusia, kanibalisme bukan sesuatu yang umum—itu terasa aneh dan menjijikkan,” kata Falcão.

“Tetapi bagi ular, itu baik untuk mereka; itu meningkatkan kebugaran ekologis mereka. Ini adalah strategi.”

Artinya, dalam kondisi tertentu, memakan sesama ular justru dapat meningkatkan peluang bertahan hidup dan reproduksi.

**Keuntungan Evolusioner yang Nyata**

Secara umum, kanibalisme dalam dunia hewan sering dikaitkan dengan berbagai keuntungan evolusioner, seperti mengendalikan jumlah keturunan, mengurangi persaingan sumber daya, mengatasi kelangkaan makanan, dan sebagai bentuk predasi oportunistik.

Dalam konteks ular, para peneliti menduga perilaku ini sering dipicu oleh tekanan lingkungan, terutama saat sumber makanan lain terbatas.

**Data yang Mencengangkan**

Tim peneliti mengumpulkan 503 laporan kanibalisme yang melibatkan 207 spesies ular dari berbagai belahan dunia. Laporan tersebut mencakup ular liar maupun ular yang hidup di penangkaran, serta berasal dari hampir semua benua tempat ular hidup.

“Tak satu pun dari kami menyangka bahwa ular bisa sekanibal ini, dan tidak ada yang benar-benar membicarakannya,” ujar Falcão.

“Semakin kami mencari, semakin banyak kasus yang kami temukan.”

Temuan ini menunjukkan bahwa kanibalisme bukanlah kejadian langka atau kebetulan, melainkan fenomena yang berulang dalam sejarah evolusi ular.

**Tiga Keluarga Ular Paling Sering Kanibal**

Penelitian menemukan bahwa kanibalisme paling sering dilaporkan pada tiga keluarga ular besar:

**1. Colubridae (29%)**
Ini adalah keluarga ular terbesar di dunia. Menariknya, kelompok ini biasanya tidak dikenal sebagai pemangsa ular lain. Karena itu, para peneliti menduga bahwa kanibalisme dalam keluarga ini kemungkinan besar dipicu oleh stres lingkungan, seperti kekurangan makanan.

**2. Viperidae (21%)**
Keluarga ini mencakup ular-ular berbisa seperti viper. Namun, sebagian besar kasus kanibalisme pada kelompok ini terjadi di penangkaran. Kondisi seperti ruang sempit dan pasokan makanan terbatas diduga menjadi pemicunya.

**3. Elapidae (19%)**
Keluarga ini mencakup kobra. Berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, kasus kanibalisme pada elapidae tidak terlalu mengejutkan karena kobra memang dikenal memangsa ular lain di alam liar.

**Faktor Pola Makan dan Anatomis**

Hampir setengah dari spesies ular kanibal dalam studi ini memiliki pola makan generalis—artinya mereka memakan berbagai jenis mangsa. Fleksibilitas diet ini diduga mempermudah mereka untuk menjadikan sesama ular sebagai pilihan makanan saat dibutuhkan.

Namun, tidak semua ilmuwan sepenuhnya setuju dengan interpretasi tersebut.

“Terkait gagasan bahwa kanibalisme lebih umum pada spesies generalis, saya agak skeptis terhadap data yang disajikan,” ujar Xavier Glaudas, ahli biologi yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Selain pola makan, struktur rahang juga menjadi faktor penting. Ular yang mampu membuka rahangnya sangat lebar memiliki peluang lebih besar untuk memangsa ular lain. Tidak ada laporan kanibalisme pada spesies yang tidak memiliki kemampuan ini.

**Kemunculan Berulang yang Menakjubkan**

Salah satu temuan paling mencengangkan adalah bahwa kanibalisme muncul setidaknya 11 kali secara terpisah dalam pohon evolusi ular.

Ini berarti perilaku tersebut tidak diwariskan dari satu nenek moyang tunggal, melainkan muncul berulang kali sebagai respons terhadap kondisi tertentu.

Ular sendiri merupakan salah satu cabang evolusi paling sukses di dunia hewan. Mereka hidup di semua benua kecuali Antartika dan mampu beradaptasi dengan hampir semua relung ekologi.

Karena itu, kemunculan kanibalisme di berbagai garis keturunan mungkin mencerminkan kemampuan adaptasi oportunistik ular terhadap lingkungan.

“Sangat mengejutkan bahwa kanibalisme bisa berevolusi secara independen 11 kali dalam garis keturunan ular,” kata Falcão.

**Masih Banyak Kasus yang Belum Terungkap**

Meski telah menganalisis ratusan laporan, para peneliti mengakui bahwa studi ini belum mencakup seluruh kasus kanibalisme pada ular. Banyak catatan lama tersebar dalam buku dan arsip yang sulit diakses.

Artinya, kemungkinan besar masih ada banyak kisah kanibalisme ular yang belum terdokumentasi secara ilmiah.

Penelitian ini membuka perspektif baru tentang bagaimana perilaku yang dianggap “menyimpang” oleh manusia justru dapat menjadi strategi evolusioner yang efektif di alam liar.

Bagi ular, kanibalisme bukanlah tindakan ekstrem tanpa makna—melainkan pilihan adaptif saat kondisi menuntutnya.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kaum Demokrat Kritis: Analisis Perilaku Pemilih Indonesia

Evolusi: Dari Teori ke Fakta