Ular Makin Sering Masuk Rumah? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya dan Ini Bukan Kebetulan

Pernahkah Anda merasa belakangan ini berita tentang ular yang masuk ke permukiman warga semakin sering terdengar? Ternyata, fenomena ini bukan sekadar kebetulan atau mitos belaka. Para ilmuwan lingkungan mengungkapkan bahwa perubahan iklim global dan masifnya alih fungsi lahan menjadi pemicu utama yang meningkatkan frekuensi pertemuan berbahaya antara ular dan manusia.

Kondisi tersebut dipicu oleh perubahan suhu bumi, pergeseran curah hujan, hilangnya habitat asli, hingga berpindahnya sumber pakan yang akhirnya memaksa kawanan ular bermigrasi mendekati area aktivitas manusia.

**Ular Mengikuti Ke Mana Tikus Pergi**

Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, menjelaskan bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang sangat nyata terhadap perilaku, distribusi, dan pola pergerakan ular.

“Sebagai hewan ektotermik, ular sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya. Peningkatan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian dan musiman ular, termasuk waktu berburu, reproduksi, dan penggunaan habitat,” kata Prof. Mirza Dikari Kusrini, Pakar Ekologi Satwa Liar dikutip IPB University.

Menurut Prof Mirza, cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan berkepanjangan, hingga perubahan pola curah hujan otomatis menurunkan kualitas habitat alami ular. Mau tidak mau, reptil ini harus mencari lokasi alternatif yang aman dan menyediakan makanan.

Area permukiman manusia menjadi tujuan favorit karena dinilai menyediakan paket lengkap bagi kelangsungan hidup ular: mulai dari keberadaan tikus, ayam, kolam, saluran drainase, hingga berbagai tempat lembap untuk berlindung.

Ketika populasi mangsa utama mereka seperti hewan pengerat (rodensia) dan katak (amfibi) bergeser akibat perubahan lingkungan, ular akan cenderung bergerak mengikuti distribusi mangsanya tersebut.

**Kobra hingga Weling Mulai Geser ke Permukiman**

Fenomena pergeseran habitat ini sangat mungkin dan sedang terjadi di Indonesia. Kenaikan suhu udara dan ketidakpastian musim hujan diperkirakan akan langsung memengaruhi distribusi sejumlah spesies ular, terutama yang terbiasa hidup di kawasan pertanian dan pinggiran kota.

“Ular yang sering ditemukan di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman seperti ular kobra, ular welang, dan weling yang makanannya rodensia berpotensi bergeser ke permukiman dan meningkatkan potensi gangguan terhadap manusia,” kata Prof. Mirza.

Meski perubahan iklim berpengaruh besar, alih fungsi lahan dan fragmentasi hutan justru menjadi faktor pendorong yang jauh lebih instan dan langsung dalam memicu konflik ini. Ketika hutan ditebang atau rawa diuruk, ular kehilangan rumah mereka dalam sekejap.

Kondisi darurat ini memaksa mereka mencari tempat berlindung, mencari pasangan untuk kawin, atau sekadar mencari makan di area terdekat, yang sayangnya sudah berubah menjadi perumahan manusia.

**Solusinya Bukan Membunuh Ular**

Bagaimana cara kita mengantisipasi ancaman ini? Prof Mirza mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus di rumah, serta menutup celah-celah bangunan yang berpotensi menjadi pintu masuk ular.

Ia juga mengingatkan agar warga menghindari tindakan nekat menangkap atau membunuh ular tanpa adanya pelatihan khusus. Sebab, dari kacamata sains, memusnahkan ular dari rantai makanan justru akan memicu bencana baru, seperti ledakan populasi tikus yang merusak pertanian dan menyebarkan penyakit.

“Strategi mitigasi yang ideal bukanlah menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya,” ungkap Prof. Mirza.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya peran pemerintah untuk mengamankan koridor ekologis agar satwa tidak lari ke rumah warga. Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penguatan respons konflik satwa, serta pengembangan perangkat medis seperti Venom Detection Kits (VDK) dan antivenom lokal sangat mendesak dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penanganan kasus gigitan ular di Indonesia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan