Selama ini kita mengenal ulat sebagai serangga sederhana yang bergerak lambat dan hanya sibuk memakan daun. Namun penelitian terbaru menunjukkan fakta mengejutkan: ulat ternyata mampu mendeteksi suara predator, meskipun mereka sama sekali tidak memiliki telinga.
Temuan ini berawal dari sebuah kejadian sederhana di laboratorium, lalu berkembang menjadi riset ilmiah yang membuka pemahaman baru tentang cara hewan kecil merasakan bahaya. Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini bahkan berpotensi menginspirasi pengembangan teknologi sensor suara di masa depan.
**Observasi Awal di Laboratorium**
Cerita ini bermula di Binghamton University, Amerika Serikat. Carol Miles, profesor madya Ilmu Biologi, memperhatikan sesuatu yang tampak sepele namun janggal. Setiap kali ia berbicara di laboratorium tempat ulat berada, ulat-ulat tersebut tiba-tiba meloncat.
“Setiap kali saya bilang ‘boo’ ke mereka, mereka langsung meloncat,” kata Miles. Reaksi itu mirip refleks kaget manusia saat mendengar suara keras mendadak.
Awalnya, kejadian itu hanya ia simpan di benaknya. Namun bertahun-tahun kemudian, rasa penasaran itu kembali muncul. Apakah mungkin ulat benar-benar bisa mendengar, meski tidak memiliki telinga?
**Kerja Sama Lintas Disiplin**
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Carol Miles menggandeng Ronald Miles, profesor teknik mesin di universitas yang sama. Ronald memiliki pengalaman meneliti cara serangga seperti lalat dan laba-laba mendeteksi suara—penelitian yang bahkan pernah membuahkan paten mikrofon.
“Teknologi pendeteksi suara terus berkembang, tapi kita masih perlu cara yang lebih efisien,” ujar Ronald. “Selama ini, cara terbaik adalah belajar dari alam dan melihat bagaimana hewan mendeteksi suara.”
Kolaborasi antara biologi dan teknik inilah yang menjadi fondasi kuat penelitian tentang kemampuan “pendengaran” ulat.
Untuk memastikan hasil yang akurat, para peneliti menggunakan ruang anechoic chamber—salah satu ruangan paling sunyi di dunia. Ruangan ini dirancang untuk menyerap gema dan menahan suara dari luar, sehingga peneliti dapat mengontrol gelombang suara secara presisi.
Dengan fasilitas ini, mereka dapat memisahkan efek suara di udara dan getaran yang merambat melalui permukaan, seperti batang tanaman tempat ulat biasanya berada.
**Reaksi Terhadap Gelombang Suara**
Tim peneliti kemudian menguji ulat tembakau (tobacco hornworm caterpillar) dengan suara berfrekuensi rendah sekitar 150 hertz dan frekuensi tinggi hingga 2.000 hertz. Mereka ingin mengetahui apakah ulat bereaksi terhadap suara di udara atau getaran yang menjalar melalui permukaan tempat berpijak.
Hasilnya cukup tegas. Reaksi ulat terhadap suara di udara ternyata 10 hingga 100 kali lebih kuat dibandingkan reaksi terhadap getaran permukaan. Ini menunjukkan bahwa ulat benar-benar mendeteksi suara, bukan sekadar getaran fisik.
**Rambut Halus Sebagai Sensor Alami**
Pertanyaan berikutnya pun muncul: jika tidak punya telinga, bagaimana ulat mendengar? Jawabannya ternyata ada pada rambut-rambut halus di tubuh ulat, terutama di bagian dada dan perut.
Para peneliti dengan hati-hati menghilangkan rambut-rambut ini dan mengulangi eksperimen. Hasilnya jelas. Setelah rambut dihilangkan, kemampuan ulat mendeteksi suara menurun drastis.
Rambut-rambut kecil tersebut bergerak mengikuti getaran udara, berfungsi layaknya sensor suara alami. Banyak serangga lain juga menggunakan mekanisme serupa, di mana gerakan udara menjadi sinyal penting untuk mendeteksi lingkungan sekitar.
**Frekuensi yang Mirip Suara Predator**
Penelitian ini juga menemukan bahwa ulat paling responsif terhadap frekuensi rendah, sekitar 100-200 hertz. Menariknya, rentang ini sangat mirip dengan frekuensi kepakan sayap tawon predator.
Ketika mendengar suara tersebut, ulat bereaksi dengan meloncat, membeku, atau berkedut—respons khas saat menghadapi ancaman. Reaksi cepat ini kemungkinan besar membantu ulat meningkatkan peluang bertahan hidup di alam.
**Potensi Aplikasi Teknologi**
Siapa sangka, serangga kecil yang sering dianggap remeh ternyata memiliki sistem pendeteksi suara yang sangat canggih. Dengan mempelajari cara rambut halus ulat merespons getaran udara, para ilmuwan berharap dapat merancang mikrofon dan sensor suara yang lebih sensitif, hemat energi, dan efisien.
Penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi besar sering kali datang dari pengamatan terhadap makhluk paling kecil. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Acoustical Society of America.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: