Voyager 1 Meredup di Ruang Antarbintang, NASA Terpaksa Matikan Instrumen Penting Jarak Jauh

Voyager 1, wahana antariksa terjauh dari Bumi, kini berpacu melawan waktu di kegelapan ruang antarbintang. NASA mengumumkan telah menonaktifkan salah satu instrumen sains utamanya untuk menghemat pasokan listrik yang terus menipis. Langkah ini diambil guna mempersiapkan manuver pemulihan daya ambisius yang dijuluki tim teknisi sebagai proyek “Big Bang”.

Setelah mengarungi ruang angkasa hampir setengah abad, Voyager 1 kini memasuki fase kritis. NASA mengirimkan perintah pada 17 April untuk menonaktifkan eksperimen Low-energy Charged Particles (LECP). Instrumen ini telah beroperasi selama 49 tahun dalam memetakan struktur ruang di luar tata surya.

**Krisis Daya di Jarak 25 Miliar Kilometer**

Saat ini, Voyager 1 berada sekitar 25,40 miliar kilometer dari Bumi. Di jarak sangat jauh dan suhu membekukan, teknisi NASA harus melakukan manuver rumit untuk menjaga wahana tetap beroperasi.

“Meskipun mematikan instrumen sains bukanlah pilihan utama bagi siapa pun, ini adalah opsi terbaik yang tersedia,” ungkap Kareem Badaruddin, Manajer Misi Voyager di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Pasadena, dikutip CNN.

**Masalah Generator dan Ancaman Pembekuan**

Masalah utama Voyager 1 adalah sumber tenaga yang terus merosot. Wahana menggunakan generator termoelektrik radioisotop yang mengubah panas peluruhan plutonium menjadi listrik. Namun, daya tersebut berkurang sekitar 4 watt setiap tahunnya.

Pada 27 Februari lalu, tim misi mencatat penurunan daya tak terduga. Jika tingkat daya turun terlalu rendah, sistem perlindungan otomatis akan mematikan komponen secara paksa, berisiko membuat Voyager 1 kehilangan kontak selamanya dengan Bumi.

“Saya mengibaratkan perlindungan gangguan ini seperti jaring pengaman bagi pemain trapeze—ia ada di sana, tetapi pemain tersebut seharusnya tidak pernah melepaskan pegangannya,” tambah Badaruddin.

**Misi Berisiko Tinggi “Big Bang”**

Untuk mencapai target usia 50 tahun pada 2027, teknisi NASA merancang peningkatan sistem yang disebut “Big Bang”. Rencana ini melibatkan pertukaran besar-besaran: mematikan perangkat lama yang memakan banyak daya dan mengaktifkan alternatif lebih hemat energi untuk menjaga suhu internal wahana agar tidak membeku.

Mengingat risiko tinggi, NASA akan menguji coba manuver ini pada Voyager 2 pada bulan Mei dan Juni. Jika berhasil, “Big Bang” akan diterapkan pada Voyager 1 di bulan Juli 2025. Jika misi sukses, instrumen LECP yang baru dimatikan bahkan berpeluang dihidupkan kembali.

**Keajaiban Teknologi Era 1970-an**

Meskipun instrumen utama dimatikan, sebuah motor kecil pada instrumen tersebut tetap menyala. Motor yang hanya membutuhkan daya 0,5 watt ini masih berfungsi meski suhu merosot hingga -62 derajat Celsius.

Stamatios Krimigis, peneliti utama instrumen dari Johns Hopkins Applied Physics Laboratory, mengungkapkan kekagumannya. “Stepper ini telah bekerja tanpa cacat selama hampir 49 tahun dan melalui lebih dari 8,5 juta langkah. Ini adalah hal-hal yang biasanya hanya ada di dalam mimpi!”

Voyager 1 masih memiliki dua instrumen yang beroperasi penuh: satu untuk mendengarkan gelombang plasma dan satu untuk mengukur medan magnet. Keduanya terus mengirimkan data dari wilayah ruang angkasa yang belum pernah dijelajahi wahana buatan manusia lainnya.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Tempo: Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman

Manajemen Strategis di Era Kecerdasan Buatan