Bangunannya Megah, Pemandian Umum Pompeii Ternyata Menjijikkan

Di balik struktur bangunannya yang megah, pemandian umum di Pompeii menyimpan rahasia yang menjijikkan. Penelitian terbaru dari Johannes Gutenberg University (JGU) Mainz membongkar bahwa air yang digunakan warga Romawi untuk berendam ternyata jauh dari standar higienis.

**Analisis Endapan Mineral Ungkap Kondisi Menjijikkan**

Melalui analisis endapan mineral pada sumur, pipa, dan kolam, para geoscientist menemukan bahwa standar kebersihan di kota tersebut sangat rendah, terutama sebelum pembangunan akuaduk (saluran air) pada abad ke-1 Masehi.

Pemandian kuno di Pompeii ternyata sangat kotor, penuh timbal, hingga tercemar limbah manusia.

**Kontaminasi Logam Berat dan Limbah Organik**

Sebelum adanya akuaduk, air pemandian diambil dari sumur dalam di bawah tanah menggunakan mesin bertenaga budak. Analisis isotop menunjukkan bahwa air tersebut terkontaminasi logam berat seperti timbal, seng, dan tembaga, serta limbah manusia berupa keringat hingga urine.

“Di Pemandian Republik—fasilitas pemandian umum tertua di kota itu yang berasal dari zaman pra-Romawi sekitar 130 SM—kami berhasil membuktikan bahwa air pemandian berasal dari sumur dan tidak diganti secara rutin,” ujar penulis utama studi, Dr. Gül Sürmelihindi, dari Institut Geosains JGU dikutip dari BBC Science Focus.

**Bantahan terhadap Mitos Kebersihan Romawi**

Menurutnya, kondisi tersebut sangat jauh dari standar higienis tinggi yang selama ini diatribusikan kepada bangsa Romawi.

“Oleh karena itu, kondisinya tidak memenuhi standar higienis tinggi yang biasanya dikaitkan dengan Romawi,” tambahnya.

**Era Akuaduk: Perbaikan Terbatas**

Kondisi air mulai membaik saat akuaduk dibangun karena air diambil dari mata air alami yang kadar logam beratnya lebih rendah. Akuaduk mampu mengalirkan air 50 kali lebih banyak dibandingkan mesin pengangkat air manual yang hanya mampu mengalirkan sekitar 3.200 liter per jam.

Meski debit air meningkat, kebersihan kolam tetap menjadi masalah.

**Pengalaman Mandi yang Mengerikan**

Profesor Cees Passchier, rekan penulis studi, menjelaskan bahwa kolam akan tetap kotor jika air tidak diganti dalam waktu lama.

“Mengunjungi pemandian pastinya merupakan pengalaman yang bising, ramai, dan mungkin berbau—lebih merupakan acara sosial daripada hal lainnya,” kata Passchier.

**Perspektif Sejarawan tentang Kondisi Nyata**

Senada dengan temuan tersebut, sejarawan Romawi Alexander Meddings yang tidak terlibat dalam studi ini menyebut pemandian kuno akan terasa sangat mengerikan jika dibandingkan standar zaman sekarang.

“Para pengunjung akan mencemari air dengan berbagai luka yang membusuk, kencing di kolam, berkeringat setelah berolahraga, dan mengikis kulit mati mereka,” ujar Meddings.

**Lapisan Sampah yang Mengapung**

Ia memperkirakan pemandangan umum di sana adalah lapisan sampah yang keruh dan mengapung.

Bahkan, para penulis kuno pun menyadari kontradiksi ini.

**Ironi yang Disadari Orang Romawi**

“Pada tingkat tertentu, orang Romawi tahu bahwa mandi itu buruk bagi mereka, dan banyak penulis merenungkan ironi mencari kesehatan di tempat di mana orang pergi untuk ‘merendam diri dalam lendir orang lain’,” pungkas Meddings.

**Penelitian Lanjutan dengan Analisis DNA**

Saat ini, tim peneliti tengah melakukan analisis DNA lebih lanjut pada endapan kapur untuk mengungkap lebih banyak informasi mengenai kondisi kesehatan di pemandian bersejarah tersebut.

**Metodologi Penelitian yang Canggih**

Tim dari Johannes Gutenberg University menggunakan teknik analisis geokimia modern untuk mengidentifikasi komposisi endapan mineral yang terbentuk selama ratusan tahun. Metode ini memungkinkan para peneliti untuk merekonstruksi kondisi air di masa lampau dengan tingkat akurasi yang tinggi.

**Sistem Distribusi Air Romawi**

Sebelum era akuaduk, Pompeii mengandalkan sistem sumur artesis yang mengandalkan tenaga manusia dan hewan untuk mengangkat air dari kedalaman tanah. Sistem ini tidak hanya tidak efisien, tetapi juga rentan terhadap kontaminasi dari permukaan tanah.

**Dampak Kesehatan bagi Masyarakat Romawi**

Kontaminasi logam berat, terutama timbal, kemungkinan besar berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan yang dialami masyarakat Romawi. Paparan timbal dapat menyebabkan keracunan kronis, gangguan neurologis, dan masalah reproduksi.

**Fungsi Sosial vs Fungsi Higienis**

Meski kondisi airnya memprihatinkan, pemandian umum tetap menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat Romawi. Fasilitas ini berfungsi sebagai tempat bersosialisasi, berdiskusi politik, dan menjalin relasi bisnis, sehingga aspek kebersihan seringkali terabaikan.

**Perbandingan dengan Standar Modern**

Jika dibandingkan dengan standar kesehatan modern, air di pemandian Pompeii akan dikategorikan sebagai tidak layak untuk kontak langsung dengan kulit, apalagi untuk berendam dalam jangka waktu lama.

**Teknologi Pengolahan Air Terbatas**

Keterbatasan teknologi pengolahan air pada masa itu menyebabkan air yang terkontaminasi tidak dapat dimurnikan secara efektif. Sistem filtrasi sederhana yang ada tidak mampu menghilangkan kontaminan logam berat dan bakteri patogen.

**Evolusi Pemahaman Kesehatan Publik**

Temuan ini memberikan wawasan baru tentang evolusi pemahaman kesehatan publik. Meskipun Romawi dikenal memiliki sistem sanitasi yang maju untuk zamannya, pengetahuan tentang mikrobiologi dan toksikologi masih sangat terbatas.

**Implikasi untuk Arkeologi Modern**

Studi ini menunjukkan bagaimana teknik analisis modern dapat mengungkap aspek kehidupan sehari-hari masa lampau yang selama ini tersembunyi. Pendekatan interdisipliner antara arkeologi, geokimia, dan mikrobiologi membuka peluang penelitian yang lebih komprehensif.

**Pembelajaran untuk Pengelolaan Air Kontemporer**

Meski terjadi ribuan tahun lalu, temuan ini mengingatkan pentingnya pengelolaan kualitas air yang proper dalam fasilitas publik. Sirkulasi air yang baik dan pemeliharaan rutin tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan masyarakat.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo Romawi Kuno

Kaum Demokrat Kritis: Analisis Perilaku Pemilih Indonesia