Dunia konservasi internasional merayakan kelahiran seekor bayi burung istimewa di Kebun Binatang San Antonio, Amerika Serikat. Bayi burung Raja Udang Mikronesia (Micronesian Kingfisher) ini menjadi simbol harapan bagi spesies yang telah dinyatakan punah di alam liar selama hampir empat dekade.
Keberhasilan penetasan ini memberikan titik terang di tengah sejarah kelam kepunahan burung asli Pulau Guam tersebut. Menetaskan burung Raja Udang Mikronesia atau Raja Udang Guam bukanlah hal mudah karena spesies ini sangat selektif dalam memilih pasangan.
**Sejarah Kelam Akibat Spesies Invasif**
Awalnya hanya ditemukan di Pulau Guam, Pasifik, populasi burung ini menyusut drastis akibat serangan ular pohon cokelat (brown tree snake)—spesies invasif yang tidak sengaja terbawa masuk melalui peti kemas pada tahun 1940-an.
Penurunan populasi begitu cepat hingga akhirnya Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyatakan spesies ini punah di alam liar pada tahun 1988.
**Program Penyelamatan Selama 40 Tahun**
Beruntung, para konservasionis bergerak lima tahun sebelum kepunahan total di alam terjadi. Melalui Guam Bird Rescue Project, 29 burung terakhir yang tersisa dibawa ke dalam perawatan manusia. Sejak saat itu, institusi seperti San Antonio Zoo bekerja keras mempertahankan dan memperluas populasi mereka.
Kelahiran kali ini merupakan yang pertama di kebun binatang tersebut dalam lima tahun terakhir, sekaligus menjadi individu ke-47 yang berhasil menetas sejak pasangan pertama tiba di sana pada tahun 1985.
“Kebun Binatang San Antonio telah menjadi bagian dari kisah spesies ini selama lebih dari 40 tahun, dan penetasan ini melanjutkan warisan tersebut,” ungkap Tim Morrow, Presiden dan CEO Kebun Binatang San Antonio, dikutip IFL Science.
Morrow menambahkan, “Keahlian dan komitmen tim kami membantu memastikan Raja Udang Mikronesia tidak hanya bertahan hidup, tetapi suatu hari nanti dapat berkembang biak kembali di alam liar.”
**Tantangan Reintroduksi ke Habitat Asli**
Langkah bersejarah menuju reintroduksi telah dimulai pada tahun 2024, ketika sembilan ekor burung dilepaskan di Atol Palmyra, sebuah pulau terpencil yang bebas predator. Namun, status mereka masih dianggap “punah di alam liar” karena lokasi pelepasliaran berada jauh dari jangkauan wilayah asal mereka.
Menurut kriteria IUCN, suatu spesies tetap dianggap punah di alam liar jika lokasi pelepasliarannya berada jauh di luar wilayah asal. Atol Palmyra berjarak hampir 6.000 kilometer melintasi Samudra Pasifik dari Guam, sehingga kriteria tersebut tetap berlaku.
Para ilmuwan kini terus melakukan observasi mendalam di Atol Palmyra untuk memastikan populasi tersebut berkelanjutan sebelum akhirnya benar-benar dikembalikan ke habitat asli mereka di Guam. Keberhasilan program ini dapat menjadi model konservasi bagi spesies terancam lainnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: