Pembakaran sampah plastik di wilayah pedesaan kini menjadi isu kesehatan masyarakat yang mendesak di Indonesia. Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr. Asri Maharani dari The University of Manchester, Inggris, mengungkap keterkaitan antara polusi udara akibat pembakaran plastik dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Studi yang didanai oleh British Heart Foundation ini menyoroti kondisi di Jawa Timur, di mana desa-desa seperti Sumberejo setiap harinya menerima sekitar 50 ton limbah plastik berkualitas rendah yang bercampur dengan sampah kertas impor.
**Fenomena “Petani Plastik” di Pedesaan**
Di desa-desa tersebut, banyak keluarga menggantungkan hidup dengan menyortir sampah. Perempuan berusia di atas 40 tahun bekerja sebagai “petani plastik” informal. Mereka memisahkan kertas untuk dijual kembali ke pabrik, namun menyisakan tumpukan besar plastik yang tidak dapat didaur ulang.
Tanpa adanya sistem pembuangan sampah yang memadai, masyarakat terpaksa membakar sisa plastik tersebut sebagai bahan bakar untuk tungku batu kapur maupun pabrik tahu.
“Ini adalah bentuk polusi udara pedesaan yang unik, berbeda dari polusi lalu lintas atau industri perkotaan,” ujar Dr. Asri Maharani, yang juga merupakan dosen di Divisi Keperawatan, Kebidanan, dan Pekerjaan Sosial, University of Manchester.
**Polusi 60 Kali Lipat Batas Aman WHO**
Bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB), penelitian ini menemukan fakta mengejutkan. Kadar polusi udara di komunitas yang diteliti mencapai lebih dari 800 mikrogram per meter kubik. Angka ini jauh melampaui batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu hanya 12 mikrogram per meter kubik.
Partikel mikroskopis dari asap beracun ini cukup kecil untuk masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah. Hal ini meningkatkan risiko penyakit serius seperti jantung koroner, stroke, hingga gangguan pernapasan kronis.
“Kami melihat bagaimana polusi ini berkontribusi terhadap kondisi kronis, terutama penyakit kardiovaskular, yang masih kurang diteliti di lingkungan seperti ini,” tambah Dr. Asri.
**Metode Penelitian Komprehensif**
Tim peneliti memasang sensor kualitas udara di desa-desa dengan tingkat paparan tinggi dan rendah sebagai pembanding. Mereka juga mengumpulkan sampel udara untuk dianalisis lebih lanjut di Inggris guna mengidentifikasi zat kimia berbahaya, termasuk mikroplastik dan dioksin.
Secara bersamaan, tim medis lokal mengumpulkan data kesehatan dari sekitar 260 penduduk. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, BMI, hingga penanda peradangan melalui tes darah untuk memeriksa risiko penyakit jantung.
**Implikasi Global dari Masalah Lokal**
Meskipun berbasis di Indonesia, temuan ini memiliki dampak luas secara global. Sampah plastik impor sering kali berasal dari negara berpenghasilan tinggi, namun dampaknya justru dirasakan oleh masyarakat di negara berkembang dengan sumber daya terbatas untuk melindungi diri.
Hasil studi ini diharapkan dapat masuk ke dalam kebijakan kesehatan dan lingkungan di Indonesia. Data yang terkumpul akan mendukung program skrining nasional baru yang dicanangkan pemerintah.
“Polusi plastik ada di mana-mana. Kita perlu memahami bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mereka—bukan hanya untuk mendokumentasikannya, tetapi untuk mengubahnya,” tegas Dr. Asri.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: