Sekitar 540 juta tahun lalu, tepatnya pada era Pra-Kambrium yang dikenal sebagai periode Ediacaran, di ujung wilayah yang kini menjadi perbatasan Brasil dan Bolivia, organisme mikroskopis hidup di dalam sedimen Bumi. Selama hampir satu dekade, para ilmuwan meyakini makhluk tersebut adalah hewan kompleks purba, sebelum sebuah penelitian terbaru membuktikan bahwa mereka hanyalah koloni bakteri dan alga.
Makhluk-makhluk ini hidup tanpa otak, tanpa perut, bahkan tanpa kerangka. Ukurannya sangat kecil, bahkan nyaris tidak akan terlihat oleh mata telanjang manusia, andai saja mata biologis sudah berevolusi saat itu.
Pada 2017, para paleontolog menemukan petunjuk mikroskopis dari sisa-sisa kehidupan purba ini. Penemuan tersebut langsung memicu kebingungan besar di kalangan ilmuwan. Bagaimana tidak? Jika temuan tersebut ditelan mentah-mentah, para ahli harus menulis ulang hampir semua hal yang telah diketahui tentang catatan fosil Bumi sejauh ini.
Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Gondwana Research berhasil memecahkan teka-teki tersebut. Kesimpulan mereka mengejutkan: klaim 2017 itu ternyata keliru.
**Temuan yang “Seharusnya Tidak Ada”**
Bagi mata orang awam, fosil Corumbá yang ditemukan di Brasil tidak terlihat istimewa. Fosil ini hanya berbentuk seperti terowongan atau jalinan benang kecil dengan diameter maksimal 600 mikrometer—bahkan sehelai rambut manusia pun akan sulit masuk ke dalamnya.
Namun bagi para peneliti yang menemukannya pada 2017, struktur ini dianggap sebagai petunjuk monumental dari keberadaan meiofauna (hewan invertebrata mikroskopis) tertua di Bumi.
“Fosil baru kami menunjukkan bahwa hewan kompleks dengan kontrol otot sudah ada sekitar 550 juta tahun yang lalu, dan mereka mungkin terabaikan sebelumnya karena ukurannya yang sangat kecil,” kata Luke Parry, yang kini menjabat sebagai Profesor Rekanan Paleobiologi di University of Oxford, dalam sebuah pernyataan kala itu.
“Fosil yang kami jelaskan dibuat oleh hewan yang cukup kompleks yang kami sebut bilaterian. Sebagian besar fosil hewan bilaterian berusia lebih muda, pertama kali muncul pada periode Kambrium,” jelas Parry.
Kabar tersebut sempat menjadi berita besar. Meiofauna merupakan fondasi penting dari ekosistem global saat ini. Mereka adalah kelompok hewan paling beragam di Bumi yang mencakup sekitar 25 dari 35 filum hewan yang ada, dengan jumlah mencapai sekstiliun individu seperti nematoda dan kopepoda.
Keberadaan meiofauna di masa purba bertindak sebagai indikator penting kesehatan ekosistem. Mereka mengaduk sedimen, meningkatkan porositas, serta memperkaya oksigen di dalam tanah purba, menciptakan lingkungan yang cocok untuk kolonisasi hewan-hewan yang lebih besar.
Oleh karena itu, menemukan jejak mereka di era Ediacaran adalah pencapaian yang sangat signifikan. Namun, studi terbaru mematahkan asumsi tersebut.
**Bukan Jejak Hewan, Melainkan Alga dan Bakteri**
Bruno Becker-Kerber, seorang peneliti pascadoktoral di bidang biologi organisme dan evolusi di Harvard University sekaligus penulis utama studi baru ini, menjelaskan bahwa interpretasi fosil Corumbá sebagai jejak meiofauna sebelumnya sempat dianggap selesai.
Namun, klaim tersebut selalu menyisakan kontroversi karena hewan bertubuh lunak berukuran mikro sangat mustahil meninggalkan jejak yang awet di dalam batuan selama ratusan juta tahun.
Untuk membuktikannya, Becker-Kerber dan timnya memeriksa kembali fosil 2017 tersebut, ditambah dengan fosil serupa yang baru ditemukan di dekat Serra da Bodoquena. Mereka menggunakan teknologi mutakhir untuk menganalisis fosil pada skala mikro dan nanometer.
Hasilnya, detail struktur tersebut tidak menunjukkan karakteristik perilaku hewan.
“Morfologi, gaya pengawetan, dan susunan spasial dari material yang dipelajari lebih mendukung asal-usul fosil tubuh daripada fosil jejak yang dihasilkan oleh meiofauna,” tulis tim peneliti dalam makalah mereka.
“Banyak filamen yang berdiameter kurang dari 20 mikrometer, bahkan beberapa sekecil 6 mikrometer. Ukuran ini lebih konsisten dengan sisa-sisa mikroba daripada aktivitas meiofauna di dalam substrat.”
Selain ukurannya yang terlalu kecil untuk ukuran hewan, bentuk selnya pun bervariasi. Peneliti menyimpulkan bahwa filamen-filamen ini merupakan kumpulan dari berbagai kelompok mikroorganisme yang berbeda.
Filamen yang lebih besar diidentifikasi mirip dengan alga merah dan hijau, sedangkan yang lebih kecil kemungkinan adalah cyanobacteria (bakteri hijau-biru). Beberapa di antaranya bahkan mengandung pirit—sebuah mineral besi dan sulfur yang menjadi tanda khas dari keberadaan bakteri pengoksidasi sulfur.
“Bukti ini jauh lebih dekat dengan bakteri atau alga daripada sekadar tanda gangguan yang disebabkan oleh hewan,” ujar Becker-Kerber.
“Saya akan mengatakan ini adalah koreksi dari catatan sejarah sekaligus kumpulan temuan baru berdasarkan spesimen yang diawetkan dengan lebih baik, yang akhirnya memungkinkan kami untuk menyelesaikan hubungan biologis mereka,” tambah Becker-Kerber.
**Kebanggaan atas Teknologi Modern**
Keberhasilan mengungkap misteri fosil purba ini tidak lepas dari peran teknologi tingkat tinggi yang tersedia di Campinas, Brasil. Sebagian besar metode analisis, termasuk nanotomografi dan tomografi zoom, dilakukan menggunakan fasilitas synchrotron (akselerator partikel) bernama MOGNO di Sirius, milik Brazilian Center for Research in Energy and Materials (CNPEM).
“Inilah mengapa fasilitas besar seperti ini sangat penting. Mereka membantu kita menyinari cahaya baru pada fosil-fosil kecil dan kuno ini,” kata Becker-Kerber.
“Sangat luar biasa bisa menggunakan synchrotron baru Brasil, dan sebagai orang Brasil, saya sangat bangga dengan infrastruktur ilmiah kami dan semua orang yang mewujudkannya.”
Meski misteri fosil Corumbá telah terpecahkan, Becker-Kerber menegaskan bahwa perjalanan memahami awal mula kehidupan di Bumi
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan