Mengapa Penyakit Malaria di Indonesia Sulit Dikendalikan? Ini Penjelasan Pakar UGM

Karakteristik geografis dan kondisi lingkungan di berbagai wilayah Indonesia menjadi faktor utama yang membuat penyakit malaria sulit dikendalikan. Keberadaan genangan air jernih dan curah hujan tinggi terus mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles selaku vektor penular.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus malaria di Indonesia mengalami fluktuasi signifikan. Kondisi ini memerlukan penanganan serius dan dukungan dari berbagai pihak demi menyukseskan target eliminasi malaria di tahun 2030 mendatang.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, menilai bahwa malaria masih sulit dikendalikan di Indonesia karena erat kaitannya dengan kondisi lingkungan. Lingkungan di beberapa wilayah Indonesia dinilai sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles sebagai vektor penular penyakit.

“Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan,” ujarnya.

Di wilayah timur khususnya di Papua, kondisi geografis seperti curah hujan yang tinggi, topografi pegunungan, serta keberadaan banyak genangan air jernih menjadi tempat yang sangat ideal bagi perkembangbiakan vektor malaria. Kondisi alamiah ini menyebabkan sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di wilayah tersebut.

Wisnu menambahkan, kondisi serupa juga jamak ditemukan di daerah lain seperti Kalimantan, Sumatera, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo yang statusnya masih memiliki kasus malaria endemis.

“Jika kondisi geografis mendukung, otomatis dengan mudah vektor malaria dapat berkembangbiak,” katanya.

**Ancaman Malaria Zoonotik dari Satwa Liar**

Lebih lanjut, Wisnu menuturkan bahwa mata rantai malaria di Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari penularan antarmanusia. Jika ditinjau dari perspektif kesehatan hewan, terdapat ancaman nyata berupa malaria zoonotik yang bersumber dari satwa liar, khususnya kelompok primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan.

Salah satu jenis malaria yang perlu diwaspadai secara ketat adalah Plasmodium knowlesi. Parasit ini secara alami hidup pada primata dan dapat ditularkan ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.

“Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian,” jelas Wisnu.

**Tantangan Pengobatan dan Akses Wilayah Terpencil**

Dalam aspek penanganan medis, pemerintah selama ini sebenarnya telah menyediakan obat-obatan antimalaria secara gratis bagi masyarakat yang tinggal di wilayah endemis. Akan tetapi, efektivitas pengobatan di lapangan kini menghadapi tantangan serius.

Sejumlah obat lama, seperti obat Kina, ditemukan sudah tidak lagi efektif karena parasit malaria telah mengembangkan resistensi. Kondisi tersebut memaksa tenaga kesehatan untuk beralih menggunakan obat generasi baru. Konsekuensinya, harga obat menjadi lebih mahal dan membutuhkan rantai distribusi yang jauh lebih kompleks.

Selain faktor ketersediaan obat, proses distribusi logistik medis dan penempatan tenaga kesehatan di wilayah endemis malaria masih kerap terkendala oleh sulitnya akses transportasi serta faktor keamanan. Akibatnya, masyarakat yang berada di wilayah terpencil kerap menghadapi keterlambatan diagnosis dan penanganan.

Padahal, malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani dengan tepat.

Oleh sebab itu, Wisnu menekankan bahwa keberhasilan pengendalian malaria tidak bisa hanya bergantung pada layanan kesehatan di hilir, melainkan pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan di hulu.

“Edukasi terhadap masyarakat berperan sangat penting dalam pencegahan malaria, khususnya untuk pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan,” jelasnya.

**One Health Bukan Sekadar Slogan**

Target eliminasi malaria di tahun 2030 menurut Wisnu tetap bisa digapai, asalkan melalui penerapan pendekatan One Health secara konsisten dan menyeluruh. Pengendalian malaria tidak boleh lagi dibebankan secara tunggal kepada sektor kesehatan manusia semata.

Sektor kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan harus dilibatkan sebagai satu kesatuan yang bekerja secara terintegrasi, mulai dari tindakan deteksi, pengobatan, pengendalian vektor, hingga menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal.

“Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja,” tutup Wisnu.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Wabah dan Pandemi