Beda Kota Beda Sumber Polusi, BRIN Petakan Karakter Unik PM2.5 di 3 Kota Besar

Strategi penanganan polusi udara di Indonesia tidak boleh disamaratakan antarwilayah. Riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan bahwa setiap kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Tangerang, memiliki karakteristik bentuk partikel serta sumber emisi pencemar dominan yang berbeda-beda.

Partikulat halus atau PM2.5 telah menjadi salah satu masalah serius di kota-kota besar Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ukurannya yang sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, membuat partikel ini mudah masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Mengamati kondisi tersebut, BRIN melakukan kajian mendalam terhadap kondisi PM2.5 di Bandung, Jakarta, dan Tangerang. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Feni Fernita Nurhaini, melakukan riset pendahuluan yang bertujuan mengetahui karakter PM2.5 di sejumlah kota besar.

“Kami ingin mengisi gap penelitian terkait PM2.5 dengan melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui karakteristik permukaan (morfologi) PM2.5 dan komposisi unsur kimianya, untuk melihat profil PM2.5 secara komprehensif dan kaitannya dengan sumber pencemar yang dominan di beberapa kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, dan Tangerang,” jelas Feni, dikutip dari laman BRIN.

Penelitian tersebut dilakukan pada Mei hingga September 2022 dengan mengambil sampel udara pada permukaan filter Teflon selama 24 jam menggunakan alat Super Speciation Air Sampling System. Setelah itu, sampel dianalisis menggunakan beberapa metode laboratorium untuk mengetahui kadar, bentuk partikel, dan kandungan unsurnya.

Analisis dilakukan tidak hanya dari segi konsentrasinya saja, tetapi juga menyasar bentuk partikel serta unsur kimia yang terkandung di dalamnya.

Dari sisi kandungan unsur kimianya, sampel udara di Bandung-Tamansari ditemukan banyak dipengaruhi oleh debu tanah, pembakaran biomassa, dan kendaraan bermotor. Di sisi lain, wilayah Jakarta Selatan menunjukkan pengaruh kuat dari emisi kendaraan serta udara yang bertiup dari laut.

Sementara itu, Tangerang Selatan memiliki karakteristik tersendiri dengan kandungan sulfur dan timbal yang cukup tinggi.

“Setiap kota memiliki sumber polusi yang berbeda. Karena itu, penanganannya juga tidak bisa disamakan dan harus menyesuaikan kondisi daerah masing-masing,” kata Feni.

**Konsentrasi PM2.5 Lampaui Ambang Batas**

Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi PM2.5 di masing-masing kota berbeda. Wilayah Bandung-Tamansari mencatat rata-rata konsentrasi sebesar 41 μg/m³ pada hari kerja dan 42 μg/m³ saat akhir pekan.

“Angka tertinggi di Bandung mencapai 86,5 μg/m³. Sehingga, angkanya sudah melewati batas aman kualitas udara harian yang ditetapkan pemerintah, yaitu 55 μg/m³,” ungkap Feni.

Sementara itu, wilayah Jakarta Selatan memiliki rata-rata konsentrasi sebesar 36,5 μg/m³ pada hari kerja dan 36,3 μg/m³ saat akhir pekan. Sedangkan di Tangerang Selatan, rata-rata konsentrasi PM2.5 tercatat berada di angka 48,3 μg/m³ pada hari kerja dan 38,5 μg/m³ saat akhir pekan.

**Bentuk Partikel Tajam Mengiritasi Napas**

Selain mengukur kadar polusi, Feni dan timnya menemukan fakta menarik mengenai geometri atau bentuk partikel PM2.5 yang berbeda di tiap kota.

Di Bandung, partikel yang ditemukan banyak berbentuk tidak beraturan, menggumpal, dan menyerupai agregat. Kondisi tersebut berbeda dengan bentuk partikel PM2.5 di Jakarta yang cenderung semi-kristalin, memanjang, dan tabular menyerupai persegi.

Sementara di Tangerang, partikelnya lebih banyak berbentuk aglomerasi dan faset bersudut.

“Bentuk partikel ini penting dipelajari dan bermanfaat untuk penelitian lebih lanjut karena dapat memberi petunjuk sumber pencemaran sekaligus potensi dampaknya bagi kesehatan. Partikel yang tajam dan tidak beraturan bisa lebih mudah mengiritasi saluran pernapasan,” ujar Feni.

Melalui rilis hasil kajian ini, Feni berharap masyarakat dapat semakin sadar bahwa polusi udara bukan hanya asap tebal yang terlihat oleh mata, melainkan juga partikel kecil tak kasat mata yang dapat berdampak besar terhadap kesehatan jangka panjang.

“Karena itu, diperlukan kepedulian bersama baik dari masyarakat maupun pemangku kepentingan untuk menjaga kualitas udara demi kesehatan kita semua,” pungkasnya.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Luka Cinta Jakarta: Kumpulan Puisi

Seri Tempo: Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman