Perdebatan sengit tengah mengguncang dunia arkeologi internasional mengenai usia sebenarnya lukisan gua prasejarah tertua di dunia. Kritik ilmiah muncul menantang klaim usia puluhan ribu tahun pada karya seni purba yang ditemukan di beberapa gua di Spanyol dan Indonesia.
Selama beberapa tahun terakhir, para peneliti melaporkan temuan lukisan gua dengan angka usia yang semakin tua. Dua contoh yang paling sering dibahas adalah lukisan dinding di gua Spanyol yang diperkirakan berusia sekitar 65.000 tahun, serta lukisan cap tangan dari Sulawesi, Indonesia, yang dinilai berumur sekitar 67.800 tahun. Guinness World Record baru-baru ini menobatkan lukisan cap tangan di gua Lian Metanduno, Sulawesi, sebagai yang tertua di dunia.
Angka dari gua Spanyol langsung menyedot perhatian dunia karena memunculkan dugaan bahwa manusia purba Neanderthal yang menciptakan seni simbolis tersebut jauh sebelum manusia modern memasuki Eropa.
**Keraguan dari Peneliti Prancis**
Georges Sauvet, peneliti senior dari Center for Research and Studies of Prehistoric Art di Prancis, meragukan hal tersebut. Dalam makalah ilmiah terbaru yang diterbitkan di AOJ of Histoarchaeology and Anthropological Exploration, ia memperingatkan bahwa para peneliti saat ini terlalu mudah menerima angka usia ekstrem demi memenangkan “perlombaan” menemukan seni cadas tertua di dunia.
Perdebatan ini berfokus pada metode penanggalan Uranium-Torium (U-Th). Metode ini mengukur peluruhan radioaktif dari unsur uranium yang terperangkap di dalam kalsit—lapisan mineral tipis yang perlahan terbentuk menutupi lukisan gua ketika air mengalir melewati batu kapur.
Teknik ini menjadi andalan para ilmuwan karena bahan pembuat lukisan purba, seperti oker atau pahatan langsung pada batu, tidak mengandung bahan organik yang bisa diuji dengan metode radiokarbon konvensional.
**Masalah “Sistem Terbuka” dalam Penanggalan**
Menurut Sauvet, metode U-Th berasumsi bahwa lapisan kalsit tersebut tetap stabil secara kimiawi setelah terbentuk. Padahal di alam nyata, air terus mengalir melalui lapisan mineral gua selama ribuan tahun.
Proses ini bisa menghanyutkan atau melarutkan kandungan uranium keluar dari kalsit yang disebut fenomena “sistem terbuka”. Ketika uranium bocor keluar, sampel batuan tersebut secara otomatis akan terlihat jauh lebih tua dari umur aslinya saat diuji di laboratorium.
Sauvet mencontohkan beberapa keanehan hasil uji di lapangan. Di Gua Nerja, Spanyol, lapisan kalsit di atas coretan arang menghasilkan usia U-Th hampir 119.000 tahun. Namun, ketika arang itu sendiri diuji dengan metode radiokarbon, usianya ternyata hanya sekitar 19.000 tahun.
Di Leang Balangajia, Sulawesi, lapisan kalsit bagian luar justru menghasilkan usia yang 7.800 tahun lebih tua daripada lapisan kalsit di bawahnya. Padahal secara logika geologi, lapisan luar gua seharusnya terbentuk paling akhir dan berusia lebih muda.
**Dampak terhadap Sejarah Evolusi Manusia**
Dampak perdebatan ini sangat besar bagi ilmu sejarah evolusi manusia. Jika angka puluhan ribu tahun itu terbukti “membengkak” akibat kebocoran uranium, maka bukti bahwa Neanderthal mampu menciptakan karya seni simbolis akan melemah drastis.
Sauvet menyarankan agar penelitian ke depan tidak hanya bertumpu pada satu metode, melainkan menggabungkan analisis U-Th dengan penanggalan radiokarbon serta pengujian fisikokimia yang mendalam.
**Respons Terbuka Peneliti BRIN**
Meski ada kritik dari peneliti luar negeri, para arkeolog terus bekerja keras menyempurnakan teknologi pengujian demi menjawab keraguan tersebut. Dr. Adhi Agus Oktaviana, peneliti gambar cadas dan pakar arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia yang terlibat langsung dalam penelitian gua prasejarah terkuno, memberikan tanggapan lugas dan optimistis.
Dalam wawancara dengan Kompas.com, Adhi mengizinkan sampel untuk diuji di laboratorium lain.
“Misalnya ada pertanyaan, coba di-dating ke lab selain yang di Southern Cross University. Ya silakan saja, kita terbuka. Jadi kalau ada peneliti lain mau mengambil sampel penanggalan misalnya di Leang Karampuang, itu bisa diambil. Apalagi yang di Metanduno ini, sebagian ada yang tertimpa koraloid. Kalau mau diambil sampelnya bisa juga di situ,” katanya Kamis (28/5/2026).
Dr. Adhi menerangkan bahwa akurasi tinggi dari angka 67.800 tahun pada cap tangan Sulawesi didapatkan berkat penggunaan metode mutakhir bernama laser-ablasi uranium-series (LA-U-series).
Berbeda dengan teknik konvensional lama yang harus mengorek dinding gua menggunakan bor hingga menjadi serbuk kasar, teknologi laser yang digunakan sejak 2024 ini jauh lebih rapi, efisien, dan presisi.
Tim peneliti hanya menembakkan laser untuk mengambil sampel super kecil berukuran 44 mikron kali 44 mikron di atas lapisan pigmen warna lukisan.
“Beda sedikit mikronnya, setengah ukuran rambut manusia,” jelas Dr. Adhi secara sederhana untuk menggambarkan betapa tipisnya sampel mineral yang diuji di laboratorium.
Melalui teknologi canggih laser tersebut, tim ilmuwan dapat memetakan pertumbuhan mineral kalsit gua secara mendalam dan mengambil sampel terdalam yang paling dekat dengan cat lukisan purba.
Demi memastikan akurasi mutlak dan menjawab keraguan komunitas sains global, angka fantastis minimal 67.800 tahun ini bahkan sempat dianalisis ulang pada 2025 sebelum akhirnya resmi dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature pada awal 2026.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: