Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?

Pecinta astronomi dan pengamat langit di Indonesia bersiaplah! Minggu malam dan Senin malam, langit akan menyuguhkan fenomena langit unik yang jarang terjadi. Dua istilah populer dalam dunia perbintangan, yaitu Blue Moon (Bulan Biru) dan Micromoon (Bulan Mikro), akan menghiasi langit malam.

Bagi yang membayangkan Bulan akan berubah warna menjadi biru cerah atau tampak mengecil drastis, sebaiknya simak dulu penjelasan ilmiahnya agar tidak salah paham.

Fenomena Blue Moon ini dapat disaksikan pada Minggu malam hingga Senin dini hari, sementara fenomena Micromoon pada Senin malam.

**Blue Moon Bukan Berarti Bulan Berwarna Biru**

Nama Blue Moon sering kali membuat orang awam keliru. Faktanya, Bulan minggu malam tidak akan memancarkan cahaya berwarna biru. Marufin Sudibyo, astronom amatir dari lembaga Ekliptika, menjelaskan bahwa istilah ini sama sekali tidak memiliki latar belakang ilmiah dalam dunia astronomi.

“Kosa kata Blue Moon tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi, namun lebih kepada folklor Amerika Serikat yang mulai berkembang di tahun 1937. Sebelum itu tidak dikenal. Blue Moon dinisbatkan kepada Bulan purnama kedua dalam sebuah bulan kalender Gregorian terutama pada kondisi dimana dalam setahun Gregorian terjadi 13 kali Bulan purnama,” kata Marufin kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).

Secara normal, dalam setahun kalender Masehi dari Januari hingga Desember hanya terjadi 12 kali Bulan purnama. Namun, jika Bulan purnama di awal tahun kebetulan jatuh di pertengahan bulan kalender, maka akan ada satu bulan yang memiliki dua kali Bulan purnama.

Purnama kedua di bulan yang sama itulah yang disebut sebagai Blue Moon, dan untuk tahun 2026 ini, momen tersebut jatuh pada bulan Mei.

Berbeda dengan kejadian Micromoon yang rutin terjadi di pertengahan tahun, kemunculan Blue Moon ini tergolong acak. Rata-rata fenomena ini hanya muncul setiap 32 hingga 33 bulan sekali, atau sekitar 41 kali saja dalam satu abad.

**Micromoon: Bulan di Titik Terjauh**

Sementara pada Senin malam, langit malam akan dihiasi Micromoon. Sama seperti Bulan Biru, istilah Micromoon juga merupakan penamaan populer dari masyarakat dan bukan istilah resmi astronomi.

“Seperti halnya kosakata Supermoon dan Bluemoon, kosakata Micromoon juga tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi. Astronom umumnya menggunakan istilah Bulan purnama apogean, karena fase purnama terjadi di sekitar titik apoge Bulan (yakni titik dimana Bulan menempati jarak terjauhnya terhadap Bumi).”

Ketika berada di titik apoge ini, Bulan berada pada jarak sekitar 406.000 kilometer dari pusat Bumi. Jarak yang menjauh ini membuat ukuran Bulan purnama terlihat sekitar 10 persen lebih kecil jika dibandingkan saat terjadi Supermoon (purnama terdekat).

Meski dibilang “mengecil”, jangan kecewa jika tidak melihat ada perubahan ukuran pada Bulan minggu malam. Marufin Sudibyo mengingatkan bahwa fenomena mengecilnya Bulan ini tidak akan bisa disadari jika hanya dilihat begitu saja.

“Secara kasat mata ‘mengecilnya’ ketampakan Bulan tidak bisa dideteksi dengan mata telanjang. Kita membutuhkan perangkat teleskop dan kameranya untuk merekam Bulan dan membandingkannya dengan rekaman menggunakan instrumen sejenis pada saat terjadinya Bulan purnama perigean (Supermoon). Barulah saat itu bisa dikatakan Bulan tampak ‘mengecil’,” paparnya.

**Waktu Optimal Mengamati di Indonesia**

Bagi yang ingin mengamatinya, Bulan purnama (fase puncak) akan terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15:47 WIB. Sementara itu, Bulan akan mencapai titik terjauhnya (apogean) pada Senin, 1 Juni 2026 pukul 12:34 WIB dengan jarak 406.350 kilometer.

Artinya, hanya ada selisih waktu 19 jam antara puncak purnama dengan titik terjauh Bulan. Ini merupakan selisih waktu terpendek bagi fenomena purnama-apogean sepanjang tahun 2026.

Berkat konstelasi waktu yang sangat dekat ini, masyarakat Indonesia bisa menikmati keindahan Blue Moon ini dengan optimal sepanjang Minggu malam hingga Senin dini hari.

Satu catatan menarik dari para astronom, meskipun purnama minggu malam berstatus Micromoon, ini bukanlah penampakan Bulan terkecil sepanjang tahun. Penampakan Bulan yang benar-benar paling kecil baru akan terjadi pada akhir Juni mendatang, ketika jarak antara Bumi dan Bulan akan mencapai titik maksimumnya untuk tahun 2026.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Aku Senang Ada: Bintang dan Bulan