Pernahkah Anda mendengar istilah Blue Moon (Bulan Biru) dan Micromoon (Bulan Mikro)? Malam ini, kedua fenomena langit yang kerap memicu rasa penasaran tersebut akan menyapa Indonesia secara bersamaan.
Istilah Blue Moon digunakan ketika terjadi dua kali Bulan purnama dalam satu bulan kalender yang sama, sementara Micromoon terjadi saat Bulan purnama berada di sekitar titik terjauhnya dari Bumi sehingga tampak sedikit lebih kecil.
Menariknya, jika melihat data astronomis, puncak kedua fenomena ini sebenarnya tidak jatuh di jam yang sama persis.
**Timing yang Hampir Bersamaan**
Puncak fase Bulan purnama (Blue Moon) terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 15:47 WIB, sedangkan Bulan baru mencapai titik terjauhnya dari Bumi (apoge) pada Senin, 1 Juni 2026 pukul 12:34 WIB.
Meskipun puncak detiknya berbeda, para astronom tetap mengategorikan purnama malam ini sebagai Micromoon. Alasannya, selisih waktu antara puncak purnama dan titik terjauhnya sangat dekat, yaitu hanya 19 jam (selisih terpendek di sepanjang tahun 2026).
Dengan konstelasi waktu yang sangat dekat tersebut, efek dan tampilan Blue Moon yang berada di posisi terjauh Bumi ini sudah bisa dinikmati secara praktis dan bersamaan sejak Matahari terbenam di hari Minggu malam hingga Senin dini hari.
Namun, perlu dicatat bahwa purnama apogean pada akhir Mei ini bukanlah yang tampak paling kecil. Penampakan Bulan purnama yang benar-benar terkecil di tahun ini baru akan terjadi pada akhir Juni mendatang, ketika jarak antara Bumi dan Bulan mencapai angka maksimum bagi tahun 2026.
**Mengapa Dinamakan Blue Moon dan Micromoon?**
Dua istilah populer ini sering kali membuat orang awam bertanya-tanya, apakah Bulan malam ini akan berubah warna menjadi biru cerah atau menyusut drastis? Jawabannya adalah tidak.
Marufin Sudibyo, astronom amatir dari lembaga Ekliptika, menjelaskan bahwa penamaan ini murni merupakan istilah populer yang berkembang di masyarakat (folklor) dan tidak memiliki latar belakang ilmiah dalam sains astronomi.
Sementara itu, untuk fenomena Micromoon, para astronom lebih sering menggunakan istilah Bulan purnama apogean.
“Seperti halnya kosakata Supermoon dan Bluemoon, kosakata Micromoon juga tidak memiliki latar belakang ilmiah astronomi. Astronom umumnya menggunakan istilah Bulan purnama apogean, karena fase purnama terjadi di sekitar titik apoge Bulan (yakni titik dimana Bulan menempati jarak terjauhnya terhadap Bumi),” kata Marufin kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Karena posisinya yang sedang berada dekat dengan titik terjauh dari Bumi, ukuran Bulan purnama malam ini akan terkesan lebih kecil sekitar 10 persen jika dibandingkan dengan saat Bulan berada di titik terdekat (Supermoon).
**Cara Memotret Micromoon dengan Ponsel**
Kabar baiknya, Anda sama sekali tidak membutuhkan alat bantu atau teleskop mahal jika hanya ingin sekadar menyaksikan keindahan Bulan purnama malam ini. Namun, jika Anda berniat mengabadikannya lewat lensa kamera ponsel, Marufin Sudibyo membagikan tips praktisnya.
“Untuk sekadar menyaksikan Bulan purnama, tidak membutuhkan alat bantu apapun. Namun apabila ingin merekamnya, maka bisa menggunakan kamera dari ponsel apapun. Yang terpenting dilakukan pengaturan untuk fotografinya dan biasanya dilakukan secara manual. Sehingga bukaan rana kamera menjadi paling kecil dan memungkinkan imaji Bulan terekam sebagai benda langit tanpa cahaya berlebihan,” kata Marufin.
Bagaimana jika Anda ingin membuktikan secara ilmiah bahwa ukuran Bulan malam ini memang benar-benar lebih kecil (Micromoon)? Menurut Marufin, mata telanjang manusia tidak akan bisa mendeteksi perubahan ukuran tersebut. Anda harus merangkai kamera ponsel dengan bantuan teleskop.
“Sedangkan apabila hendak membuktikan bahwa purnama pada saat itu merupakan purnama apogean, maka dibutuhkan kamera pada ponsel apapun yang dirangkai dengan teleskop,” kata dia.
Hasilnya kemudian dibandingkan lagi dengan hasil rekaman menggunakan instrumen sejenis dan ponsel yang sama (dengan pengaturan yang sama pula) pada setengah tahun mendatang (ketika peristiwa Bulan purnama perigean akan terjadi).
**Dampak Polusi Cahaya dan Peringatan Banjir Rob**
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan padat penduduk, Anda tidak perlu khawatir dengan masalah polusi cahaya lampu kota. Cahaya Bulan purnama umumnya cukup kuat untuk menembus polusi cahaya, sehingga musuh utama pengamatan malam ini hanyalah faktor cuaca jika langit mendadak tertutup awan atau mendung.
Meski fenomena ini indah untuk dipotret, ada dampak alamiah yang wajib diwaspadai, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai. Puncak gravitasi yang terjadi selama fase purnama berpotensi memicu naiknya permukaan air laut.
Marufin Sudibyo memberikan peringatan dini terkait hal ini. “Pada dasarnya dalam peristiwa Bulan purnama apapun, pasang naik air laut mencapai maksimum. Dengan segala kemungkinan dampaknya. Termasuk banjir pantai (rob). Sebab pada saat itu resultan gaya tidal Bulan dan Matahari akan mencapai nilai maksimumnya. Sehingga pasang naik air laut tetap akan terjadi,” ungkap Marufin.
Oleh karena itu, sembari menikmati keindahan langit malam ini, pastikan masyarakat di wilayah pesisir tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: