Perdebatan Usia Lukisan Gua Sulawesi 67.800 Tahun: Dikritik Perancis, Dibela Arkeolog Dunia

Dunia arkeologi internasional belakangan ini bergejolak karena perdebatan sengit mengenai usia sebenarnya dari lukisan gua prasejarah terkuno di dunia yang ditemukan di Indonesia.

Sebelumnya, Guinness World Records resmi menobatkan lukisan cap tangan nonfiguratif di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai yang tertua di dunia dengan usia mencapai 67.800 tahun.

Namun, klaim spektakuler ini menuai kritik keras dari Georges Sauvet, peneliti senior dari Center for Research and Studies of Prehistoric Art di Prancis. Meski demikian, peneliti lain dari berbagai negara menyampaikan pendapat berbeda, dan peneliti BRIN yang terlibat dalam riset ini membuka peluang jika ada yang ingin menguji ulang sampel.

**Kritik Keras dari Ilmuwan Prancis**

Sauvet menilai para peneliti saat ini terjebak dalam “perlombaan” menemukan seni cadas tertua hingga kurang berhati-hati. Ia mempertanyakan keakuratan metode Uranium-Thorium (U-Th) yang digunakan, karena menganggap lapisan kalsit (mineral gua) yang membungkus lukisan tersebut rentan mengalami kebocoran uranium akibat aliran air gua (sistem terbuka).

Menurutnya, jika uranium hanyut, hasil penanggalan laboratorium akan membengkak dan membuat lukisan gua tampak jauh lebih tua dari usia aslinya.

**Pembelaan Ilmuwan Dunia dengan Teknologi Laser Canggih**

Kritik Sauvet langsung memicu pembelaan dari sejumlah ilmuwan terkemuka dunia. João Zilhão, profesor riset dari University of Lisbon, menegaskan bahwa semua metode penanggalan—termasuk radiokarbon—memiliki risiko eror masing-masing, sehingga tidak adil jika hanya menyudutkan metode U-Th.

Ia membandingkannya dengan metode radiokarbon tradisional yang juga sangat rentan terhadap kontaminasi.

Pembelaan kuat juga datang dari Maxime Aubert, arkeolog dan pakar geokimia dari Griffith University Australia yang memimpin riset di Sulawesi. Aubert menjelaskan bahwa timnya tidak lagi menggunakan cara lama.

“Mengatakan bahwa penanggalan seri-uranium tidak berfungsi pada seni cadas hanya karena ada beberapa kasus di mana sampel kalsit menunjukkan perilaku sistem terbuka adalah sebuah generalisasi yang berlebihan,” ujar Maxime Aubert.

Aubert mengakui bahwa secara teori, uranium memang bisa merembes keluar atau masuk ke dalam endapan kalsit akibat air gua dan mendistorsi usia aslinya. Namun, ia menjelaskan bahwa timnya tidak lagi menggunakan cara lama yang rentan salah.

Untuk menghindari distorsi penanggalan tersebut, mereka telah mengembangkan teknologi mutakhir berbasis laser yang disebut laser ablation.

“Metode ini memungkinkan zona-zona yang telah diubah oleh rembesan air luar untuk diidentifikasi dan dikeluarkan dari kalkulasi usia,” jelas Aubert.

Melalui teknologi canggih laser ini, tim Aubert menembakkan laser untuk mengikis bagian-bagian kecil di dalam setiap sampel, lalu mengukur rasio isotopnya guna membuat peta sebaran yang mendalam di seluruh lapisan kalsit.

Dengan memetakan pertumbuhan mineral gua tersebut, area yang menunjukkan variasi rasio isotop tinggi—yang menandakan adanya kontaminasi atau kebocoran—bisa langsung dideteksi secara akurat dan dibuang dari perhitungan usia lukisan.

**BRIN: Silakan Diuji di Laboratorium Lain**

Menanggapi polemik internasional tersebut, Dr. Adhi Agus Oktaviana, peneliti gambar cadas dan pakar arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terlibat langsung dalam penelitian ini, memberikan respons lugas, sekaligus menantang balik para peragu secara ilmiah.

Kepada Kompas.com, Dr. Adhi menegaskan bahwa tim peneliti Indonesia dan global sangat percaya diri dengan hasil penanggalan tersebut karena sudah melalui proses berlapis yang super ketat. Kendati demikian, BRIN sangat terbuka jika ada pihak luar yang ingin membuktikannya sendiri.

“Terus misalnya gini ada pertanyaan, coba di dating ke lab di selain yang di Southern Cross University. Ya silakan aja kita terbuka gitu. Jadi kalau ada peneliti lain mau ngambil sampel pertanahan misalnya di Leang Karampuang, itu bisa diambil. Apalagi yang di Metanduno ini nih, itu sebagian ada yang tertimpa koraloid. Kalau mau diambil sampelnya bisa juga di situ,” kata Adhi, Kamis (28/5/2026).

Adhi menerangkan, akurasi tinggi dari angka 67.800 tahun pada cap tangan Sulawesi didapatkan berkat penggunaan metode mutakhir bernama laser-ablasi uranium-series (LA-U-series).

Berbeda dengan teknik konvensional lama yang harus mengeruk dinding gua menggunakan bor hingga merusak estetika dan menghasilkan serbuk kasar, teknologi laser yang digunakan sejak tahun 2024 ini jauh lebih rapi, efisien, dan presisi.

Tim peneliti hanya menembakkan laser untuk mengambil sampel super kecil berukuran 44 mikron kali 44 mikron di atas lapisan pigmen warna lukisan.

“Beda dikit mikronnya ya, setengah ukuran rambut manusia lah,” jelas Dr. Adhi secara sederhana untuk menggambarkan betapa tipisnya sampel mineral yang diuji di laboratorium.

Demi memastikan akurasi mutlak dan menjawab keraguan komunitas sains global seperti yang diutarakan Sauvet, angka spektakuler minimal 67.800 tahun ini bahkan sempat dianalisis ulang pada tahun 2025 sebelum akhirnya resmi dipublikasikan di jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia, Nature, pada awal tahun 2026.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Rahasia di Balik Lukisan

Metode Ovulasi Billings

Seri Misteri Favorit: Misteri Gua Jepang