Benarkah Kaisar Domitianus Kejam? Sejarawan Bongkar Konspirasi Politik Romawi Kuno

Selama berabad-abad, sejarah Kekaisaran Romawi hanya menyisakan ruang hitam-putih: kaisar yang bijaksana atau kaisar yang kejam. Nama Kaisar Domitianus (memerintah 81–96 M) hampir selalu disejajarkan dengan monster legendaris seperti Nero dan Caligula dalam daftar hitam sejarah.

Namun, benarkah ia seburuk itu, atau hanya korban dari taktik bertahan hidup politik para elite masanya?

Sejarawan Edward J. Watts menolak mentah-mentah label absolut tersebut. Menurutnya, Domitianus adalah korban dari penulisan sejarah yang bias dan penuh kepentingan.

“Dia sangat diremehkan dalam sejarah,” kata Watts dikutip National Geographic.

**Motif di Balik Pena Sejarawan Kuno**

Sebagian besar catatan sejarah Romawi awal yang dibaca hari ini ditulis puluhan tahun setelah peristiwa terjadi. Penulisnya bukan orang asing, melainkan anggota elite senatorial dan sastrawan yang intim dengan kekuasaan.

“Mereka bukanlah pengamat netral,” tegas Watts.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah Suetonius, penulis mahakarya The Twelve Caesars. Narasi sejarah yang ia bangun sengaja memuncak pada masa pemerintahan Domitianus, menggambarkannya sebagai titik nadir kemerosotan moral Romawi.

Kematian Domitianus akibat pembunuhan berencana kemudian dibingkai sebagai “pembersihan” yang sah demi tatanan baru. Pembingkaian inilah yang menipu generasi masa depan.

**Meritokrasi yang Berujung Dendam Aristokrasi**

Dosa terbesar Domitianus di mata Senat Romawi sebenarnya bukan kekejaman tanpa alasan, melainkan sistem meritokrasi yang ia terapkan. Berbeda dengan pendahulunya yang selalu “menyembah” Senat, Domitianus memerintah sebagai otokrat terbuka yang merangkul bakat-bakat baru dari kelas bawah.

“Menurut saya, Domitianus adalah sosok yang sangat diremehkan,” kata Watts. “Karena yang dilakukan Domitianus adalah menemukan orang-orang berbakat seperti Suetonius, yang berkeliaran di tingkat terendah kehidupan elite Romawi.”

Domitianus memangkas dominasi aristokrasi tradisional dengan mempromosikan administrator cakap yang setia kepadanya. Hasilnya, keuangan kekuasaan stabil dan Romawi menikmati 15 tahun tanpa perang saudara—sebuah prestasi langka.

Namun bagi Senat, hilangnya hak istimewa mereka adalah penghinaan yang memicu dendam mendalam.

**Cuci Tangan Massal Pasca-Pembunuhan**

Ketika Domitianus tewas dibunuh pada tahun 96 M dalam konspirasi yang melibatkan orang dalam, rezim baru langsung melabelinya sebagai tiran.

“Rezim baru yang berkuasa menolak Domitianus dan menyebutnya sebagai tiran,” ujar Watts.

Label baru ini menciptakan kepanikan moral di kalangan penulis besar seperti Tacitus, Pliny the Younger, termasuk Suetonius. Mereka semua adalah orang-orang yang kariernya melesat dan mendapat keuntungan besar di bawah pemerintahan Domitianus.

Demi bertahan hidup dan mengamankan posisi di rezim baru, para intelektual ini melakukan “cuci tangan” massal. Mereka menyerang mendiang Domitianus secara agresif lewat tulisan, mengubah sang kaisar menjadi monster demi melegitimasi penguasa baru sekaligus menghapus jejak kedekatan masa lalu mereka dengan Domitianus.

**Berbeda dengan Caligula dan Nero**

Watts mengingatkan pentingnya membedakan antara propaganda politik dan kegilaan nyata. Dalam kasus Caligula, yang menderita paranoia akut setelah sakit parah pada 37 M, reputasi buruknya memang sulit dibantah.

“Saya telah berusaha keras untuk menebus Caligula,” Watts mengakui. “Saya rasa itu tidak mungkin dilakukan. Tidak ada cara untuk merasionalisasi apa yang dia lakukan.”

Sementara itu, Nero digambarkan sebagai sosok yang rumit: punya ide reformasi yang bagus di awal, namun terlalu tidak kompeten dan bodoh untuk mengeksekusinya, hingga akhirnya berubah menjadi kejam.

Namun Domitianus berada di kategori yang sepenuhnya berbeda. Ia adalah pemimpin yang efektif dan menuntut, meski sangat curiga pada oposisi. Nasib malangnya menjadi penjahat sejarah murni karena ia kalah dalam narasi politik pasca-kematiannya.

“Soal Domitianus, saya rasa dia hanya mendapat reputasi buruk,” pungkas Watts.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo Romawi Kuno