Setelah lebih dari satu dekade menjadi mata dan telinga umat manusia dalam menguak misteri atmosfer Mars, pesawat ruang angkasa MAVEN milik NASA secara resmi dinyatakan berhenti beroperasi sepenuhnya.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengumumkan kabar tersebut pada Rabu (3/6/2026), menyusul hilangnya kontak total dengan wahana pengorbit tersebut sejak akhir tahun lalu.
Penyebab utama kematian MAVEN teridentifikasi sebagai baterai yang terkuras habis (drained battery), dipicu oleh anomali putaran misterius yang mengubah jalur orbitnya.
**Detik-Detik Hilangnya Sang Penjelajah**
Tragedi ini bermula pada 6 Desember 2025. Saat itu, MAVEN (singkatan dari Mars Atmosphere and Volatile Evolution) sedang melakukan manuver rutin, berayun ke belakang Mars hingga posisinya terhalang dari Bumi.
Namun, ketika tiba waktunya MAVEN muncul kembali, jaringan antena radio global milik NASA, Deep Space Network (DSN), tidak menangkap sinyal apa pun.
Setelah berbulan-bulan melakukan investigasi intensif melalui dewan peninjau anomali yang dibentuk pada Februari lalu, tim ahli akhirnya menyerah.
Data telemetri terakhir yang sempat tertangkap menunjukkan bahwa MAVEN berputar pada kecepatan yang sangat tinggi di luar kendali saat keluar dari balik Mars. Putaran abnormal ini membuat panel surya tidak dapat menangkap cahaya matahari, menguras habis baterai, mematikan sistem komunikasi, dan meninggalkan MAVEN dalam kondisi mati total yang tidak bisa diselamatkan.
“Misi penjelajahan ini diibaratkan seperti kehilangan orang yang dicintai secara mendadak. Namun di sisi lain, MAVEN adalah pengamat terbaik untuk fenomena pelepasan atmosfer di seluruh tata surya kita,” kata Shannon Curry, Principal Investigator MAVEN yang dikutip Live Science.
**Warisan Sains dari MAVEN**
Meski kini telah menjelma menjadi sampah antariksa yang membeku, jasa MAVEN selama 11 tahun di orbit Mars tidak akan pernah terlupakan. Sejak tiba di Planet Merah pada 21 September 2014, wahana ini telah mengitari Mars sebanyak 6,6 kali setiap hari bumi, mengirimkan gudang data berharga yang mengubah cara pandang kita terhadap tetangga terdekat kita.
Salah satu kontribusi terbesar MAVEN adalah membuktikan proses ilmiah bernama sputtering. Fenomena ini terjadi ketika angin matahari yang bermuatan energi tinggi menabrak lapisan atas atmosfer Mars, lalu melemparkan partikel-partikel atmosfer ke luar angkasa.
Proses pengikisan yang berlangsung selama jutaan tahun inilah yang menjawab teka-teki besar: mengapa Mars yang dulunya diduga basah dan hangat seperti Bumi, kini berubah menjadi planet yang kering, dingin, dan tampaknya mati.
Bahkan sesaat sebelum kehilangan kontak, data MAVEN berhasil mengungkap bahwa perisai magnetik Mars yang tipis ternyata mampu memberikan perlindungan terhadap radiasi matahari lebih kuat dari dugaan awal para ilmuwan.
Informasi komprehensif mengenai interaksi atmosfer dan radiasi matahari ini menjadi modal krusial yang wajib dipelajari sebelum umat manusia benar-benar mengirimkan astronaut pertamanya ke Mars di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: