El Nino Menguat, Pakar Global Prediksi 2027 Jadi Tahun Terpanas Sejak 1998

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja mengeluarkan peringatan bahwa fase baru dari pola cuaca alami El Nino diperkirakan akan dimulai dalam hitungan minggu. Kehadiran fenomena ini diprediksi akan mendongkrak suhu bumi yang saat ini sebenarnya sudah mengalami tekanan berat akibat perubahan iklim.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa El Nino kali ini kemungkinan besar akan terus menguat sepanjang sisa tahun 2026. Akibatnya, cuaca ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia diperkirakan akan menjadi jauh lebih parah.

Bahkan, beberapa prediksi dari lembaga cuaca nasional di berbagai negara mengindikasikan bahwa fenomena yang sedang terbentuk ini bisa menjadi salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah—atau yang sering disebut sebagai “Super El Nino”.

**Awal Mula Terbentuknya Suhu Mengerikan**

Berdasarkan laporan BBC, memprediksi kapan tepatnya El Nino muncul dan seberapa kuat dampaknya memang bukan perkara mudah. Namun, para ilmuwan telah mendeteksi tanda-tanda yang tak terbantahkan di wilayah tengah Samudra Pasifik.

Sebagai gambaran, pada bulan Desember lalu, wilayah perairan ini sebenarnya masih terpantau lebih dingin dari rata-rata. Namun, hanya dalam waktu tiga bulan, situasi berubah drastis menjadi jauh lebih hangat, terutama di lepas pantai Amerika Selatan.

Pada bulan April, tanda-tanda kehadiran El Nino sudah tidak bisa diragukan lagi karena suhu air di wilayah pemantauan utama terus merangkak naik hingga saat ini.

Fenomena El Nino sendiri terjadi ketika ada perubahan pola angin yang memungkinkan air laut yang lebih hangat menyebar ke seluruh samudra Pasifik tropis. Banyak ilmuwan yang meyakini bahwa El Nino kali ini akan membawa kekuatan yang sangat besar.

“Kami sangat yakin bahwa ada fenomena besar yang sedang datang. Ini bahkan mungkin bisa menjadi rekor peristiwa terpanas,” kata Prof. Adam Scaife, Head of Monthly to Decadal Prediction di UK Met Office.

Data dari satelit dan pelampung laut menunjukkan adanya gelombang air hangat yang luar biasa di kedalaman ratusan meter di bawah permukaan Pasifik, di mana suhunya mencapai 6 derajat Celsius di atas rata-rata pada beberapa titik.

“Kehangatan air di kedalaman ini mampu menandingi beberapa peristiwa El Nino terkuat yang pernah kita saksikan sebelumnya,” ungkap Michelle L’Heureux, Physical Scientist di Climate Prediction Center NOAA.

Panas di laut dalam ini merupakan pertanda awal bahwa suhu di permukaan laut juga akan meningkat, yang kemudian memanaskan udara di atasnya dan mengacaukan pola cuaca di seluruh dunia.

“Kondisi El Nino akan menyiramkan bahan bakar ke dalam api dunia yang sedang memanas. Dampaknya akan memukul lebih keras, bergerak lebih jauh, dan melintasi batas-batas negara dengan kecepatan yang merusak,” kata António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.

**Ancaman Bagi Indonesia dan Dunia**

Meskipun dampak El Nino berbeda-beda di setiap wilayah, El Nino yang kuat biasanya memicu cuaca yang sangat panas dan kering di sebagian wilayah Amerika Selatan, Australia, termasuk Asia Tenggara (di mana Indonesia berada).

Hal ini secara otomatis meningkatkan risiko terjadinya kekeringan parah dan kebakaran hutan yang hebat. Sebaliknya, fenomena ini juga bisa melemahkan angin muson di India dan membawa kondisi kering di Afrika, sementara wilayah Amerika Serikat bagian selatan justru berisiko mengalami curah hujan tinggi dan banjir.

Di masa lalu, El Nino yang kuat selalu dikaitkan dengan lonjakan harga pangan global serta kerugian ekonomi yang mencapai miliaran hingga triliun dolar karena gagal panen dan terganggunya rantai pasok komoditas.

**Efek Gabungan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya**

Satu hal yang paling ditakuti oleh para ilmuwan adalah karena kita belum pernah menghadapi fenomena “Super El Nino” di planet yang suhunya sudah telanjur sangat panas akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

El Nino memang biasanya menyumbang kenaikan suhu sementara sekitar 0,2 derajat Celsius, namun tren pemanasan jangka panjang tetap dikendalikan oleh perubahan iklim.

“Tahun 2027 kemungkinan besar akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah bumi,” kata Zeke Hausfather, Climate Scientist dari Berkeley Earth.

Zeke menambahkan bahwa pada tahun 1998 silam, bumi pernah mengalami El Nino yang sangat kuat dan menjadi tahun paling panas pada masa itu.

“Jika suhu tahun 1998 itu terjadi hari ini, maka tahun tersebut akan dianggap sebagai tahun yang sangat dingin dibandingkan dengan dua dekade terakhir. Hal ini menunjukkan seberapa besar dampak yang telah diberikan manusia terhadap iklim kita,” pungkasnya.

Mengingat kekuatan El Nino biasanya baru mencapai puncaknya di sekitar waktu Natal, para ilmuwan akan terus memantau pergerakan pola angin yang menjadi penentu utama seberapa ekstrem fenomena ini nantinya. Sembari menunggu, kesiapan global untuk menghadapi bencana kekeringan dan krisis pangan harus mulai diperketat dari sekarang.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Breaking the Spell: Agama sebagai Fenomena Alam

Nat Geo: Cuacapedia

Fajar Harapan dalam Anomali Cuaca