Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengeluarkan pembaruan mengenai kondisi iklim global. Laporan terbaru menunjukkan adanya peluang sebesar 80 persen terjadinya fenomena El Nino selama periode Juni–Agustus 2026. Probabilitas atau kemungkinan fenomena ini akan terus berlanjut hingga setidaknya bulan November bahkan telah mendekati atau berada di atas 90 persen.
Meskipun masih ada ketidakpastian mengenai kapan waktu puncak dan seberapa besar kekuatannya, sebagian besar model prakiraan cuaca menunjukkan bahwa El Nino kali ini akan berada pada intensitas moderat (sedang) hingga berpotensi kuat.
Namun di sisi lain, Eddy Hermawan tidak langsung percaya. Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini melakukan apa yang ia sebut “uji forensik”—menelusuri dan membandingkan data dari berbagai lembaga iklim dunia, bukan hanya satu sumber.
Dan ia menemukan tiga kejanggalan yang menurutnya patut dipertanyakan sebelum publik ikut panik.
“Saya menemukan beberapa kejanggalan yang menyebabkan saya berpikir dua kali. Waspada okelah. Tapi apakah ini betul-betul Super El Nino—ternyata belum ada kesepakatan,” kata Eddy kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
**Tiga Kejanggalan El Nino 2026**
**Kejanggalan Pertama: Soal Tahun Genap**
Eddy mulai dengan pola historis yang jarang dibicarakan. Dua episode El Nino yang layak disebut “Godzilla” dalam sejarah modern—yakni 1997-1998 dan 2015-2016—keduanya berawal di tahun ganjil. Sebuah pola yang bukan kebetulan semata, melainkan mencerminkan siklus osilasi iklim yang membutuhkan waktu untuk menumpuk energi.
“Kalau kita perhatikan dua kejadian itu, berawalnya dari tahun-tahun ganjil. Ini kan tahun 2026—tahun genap. Itu salah satu yang mematahkan kemungkinan itu,” kata Eddy.
**Kejanggalan Kedua: Terlalu Cepat dari 2023**
Argumen kedua menyangkut jarak waktu. Indonesia baru saja melewati episode El Nino pada 2023 yang sudah tergolong ekstrem—mendorong suhu global ke rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan modern, memperparah kekeringan di sejumlah wilayah, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Secara historis, kejadian El Nino yang benar-benar dahsyat membutuhkan jeda panjang untuk “mengisi ulang” energinya. Dari El Nino ekstrem 1997-1998 ke episode serupa berikutnya di 2015-2016, dibutuhkan waktu 18 tahun.
“Artinya kejadian ekstrem itu berulang di antara 15 sampai 20 tahun. Kalau ada kejadian ekstrem 2023, di 2026 masa hanya butuh waktu 3 tahun? Itu kecil sekali kemungkinannya,” ujar Eddy.
Osilasi dinamika Nino 3.4 sendiri rata-rata berlangsung dalam siklus 4 hingga 7 tahun. Tiga tahun jelas terlalu pendek untuk skenario pengulangan kejadian ekstrem.
**Kejanggalan Ketiga: Tidak Ada Kolom Dingin di Timur Indonesia**
Argumen ketiga adalah yang paling teknis. Eddy menjelaskan bahwa pada El Nino 1997 maupun 2015, kolom air panas yang bergerak dari Pasifik diimbangi oleh kemunculan kolom air dingin di kawasan timur Indonesia—sebuah mekanisme fisik yang justru memperkuat dinamika El Nino secara keseluruhan.
Pertemuan dua kolom berlawanan itulah yang menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung El Nino kuat.
“Pada 1997 dan 2015, kolom panas dari Pasifik itu diimbangi dengan kolom dingin yang ada di kawasan timur Indonesia. Di 2026, tidak ada tanda-tanda kolom dingin itu muncul. Jadi beberapa kejanggalan inilah yang membuat saya berpikir: kecil kemungkinan lahirnya El Nino Godzilla,” papar Eddy.
**Jangan Terjebak Gambar Merah di Medsos**
Eddy juga menyoroti fenomena yang menurutnya turut memperkeruh suasana: visualisasi dramatis di media sosial yang menampilkan peta lautan berwarna merah menyala, seolah bumi sedang terbakar.
Ia mengingatkan bahwa data ensemble dari lembaga seperti IRI Columbia University—yang menggabungkan 16 model dinamik dan 16 model statistik—justru tidak menghasilkan anomali suhu yang melampaui angka 2, ambang batas El Nino super.
“Kalau gambar merah itu, sepertinya permainan visualisasi saja. Basis saya adalah data, bukan medsos. Kalau analisisnya dipertajam hanya fokus pada anomali di atas dua, probabilitasnya hanya 13 persen—kecil,” tegas Eddy.
Pesan akhirnya sederhana: El Nino 2026 nyata dan perlu diwaspadai. Tapi antara waspada dan menyimpulkan ini adalah Godzilla, ada jarak yang harus diisi dengan data—bukan kepanikan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: