Informasi keliru tentang terjadinya gerhana matahari pada 12 Juni 2026 tengah beredar di media sosial. Klaim tersebut dibantah tegas oleh astronom amatir Marufin Sudibyo yang menyebut informasi itu tidak memiliki dasar astronomis.
“Tidak ada peristiwa gerhana matahari pada 12 Juni mendatang. Itu hoaks,” tegas Marufin kepada Kompas.com, Senin (8/6/2026).
Marufin menjelaskan, secara astronomis terdapat dua syarat mutlak yang harus dipenuhi agar gerhana matahari dapat terjadi.
“Ada dua syarat mutlak terjadinya gerhana matahari: pertama, harus terjadi konjungsi Bulan-Matahari. Kedua, elongasi Bulan pada saat konjungsi terjadi bernilai kurang dari 0,5 derajat,” jelasnya.
Pada 12 Juni 2026, kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sama sekali. Menurut Marufin, konjungsi Bulan-Matahari baru akan terjadi pada Senin, 15 Juni 2026 pukul 09.56 WIB. Namun elongasi Bulan saat itu bernilai 4,6 derajat—jauh melampaui batas 0,5 derajat yang disyaratkan.
“Posisi Bulan dan Matahari pada Jumat 12 Juni 2026 adalah mustahil untuk bisa menghadirkan gerhana matahari,” tegasnya.
**Gerhana Matahari Total Benar Terjadi, tetapi 12 Agustus 2026**
Meski demikian, Marufin membenarkan bahwa gerhana matahari memang akan terjadi dalam waktu dekat—hanya saja bukan pada 12 Juni, melainkan 12 Agustus 2026.
“Dua syarat yang saya sebut di atas akan terjadi pada 12 Agustus 2026 mendatang,” kata Marufin.
Gerhana yang akan terjadi merupakan gerhana matahari total, namun wilayah yang dapat menyaksikannya sangat terbatas.
“Tetapi hanya terjadi di belahan bumi utara. Wilayah gerhana hanya meliputi Amerika bagian utara, Afrika bagian barat, dan separuh Eropa. Lintasan totalitas gerhana hanya melewati pulau Greenland dan Islandia,” papar Marufin.
Artinya, Indonesia tidak termasuk dalam jalur maupun area penumbra gerhana tersebut. Warga di Tanah Air tidak akan dapat menyaksikan fenomena langit ini pada 12 Agustus mendatang.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Si Pamutung: Sebuah Pemukiman Kuno di Pedalaman Sumatera Utara