Ketika mendengar kata “sungai”, yang terbayang umumnya adalah aliran air panjang yang berliku menembus hutan, lembah, dan kota. Sungai Amazon di Amerika Selatan, misalnya, mengalir sepanjang 6.993 kilometer dan membawa lebih banyak air dibanding sungai mana pun di muka Bumi.
Namun, tahukah Anda bahwa salah satu sungai terpendek di dunia justru berada di Indonesia? Namanya Sungai Tamborasi, dengan panjang hanya 20 meter. Untuk membayangkan skalanya: itu kira-kira sama dengan panjang dua bus yang berjejer.
**Sungai Sepanjang 20 Meter yang Diakui Dunia**
Berdasarkan data World Atlas, Sungai Tamborasi yang berlokasi di Sulawesi Tenggara ini masuk dalam daftar sungai-sungai terpendek di dunia. Ukurannya bahkan mengalahkan pemegang rekor resmi Guinness Book of World Records, yaitu Sungai Roe di Montana, Amerika Serikat, yang panjangnya 61 meter.
Sungai Roe sempat dinobatkan sebagai sungai terpendek di dunia dalam Guinness Book of World Records edisi 1989. Sebelumnya, gelar itu dipegang oleh Sungai D di Lincoln City, Oregon, yang panjangnya 134 meter.
Namun kedua kota tersebut saling klaim dan memperdebatkan pengukuran masing-masing sungai, hingga akhirnya pada 2006, Guinness memutuskan menghapus kategori tersebut untuk menghindari kontroversi yang berkepanjangan.
Dengan dihapusnya kategori resmi itu, pertanyaan “sungai mana yang paling pendek di dunia” kini menjadi lebih terbuka—dan Sungai Tamborasi di Indonesia menjadi salah satu kandidat terkuat.
**Apa yang Membuat Sesuatu Disebut “Sungai”?**
Pertanyaan wajar pun muncul: apakah aliran air sepanjang 20 meter benar-benar layak disebut sungai? Menurut U.S. Geological Survey (USGS), sebuah aliran air disebut sungai jika memenuhi tiga syarat:
1. Airnya mengalir secara konstan dalam bentuk arus
2. Bersumber dari kawasan hulu
3. Bermuara ke laut, sungai lain, danau, atau daerah aliran sungai
Definisi ini cukup luas, sehingga panjang bukanlah syarat mutlak untuk disebut sungai. Secara umum, hierarki perairan mengalir dimulai dari anak sungai kecil (creek dan brook) yang bergabung membentuk aliran (stream), lalu aliran-aliran itu bergabung menjadi sungai, yang akhirnya mengangkut air dari dataran tinggi ke dataran rendah dan bermuara di laut.
**Sistem Klasifikasi Sungai: Dari Urutan 1 hingga 12**
Untuk mengklasifikasikan sungai secara lebih ilmiah, pada 1952 seorang profesor ilmu kebumian dari Columbia University bernama Arthur Newell Strahler memperkenalkan sistem yang kini dikenal sebagai Strahler Stream Order Classification.
Sistem ini membagi aliran air ke dalam 12 tingkatan berdasarkan jumlah anak sungai (tributaries) yang mengalir ke dalamnya. Aliran tingkat satu dan dua adalah aliran kecil yang mengisi aliran lebih besar, sementara aliran tingkat empat hingga enam dikategorikan berukuran sedang.
Aliran di atas tingkat enam—yang mendapat pasokan dari banyak anak sungai—barulah secara penuh disebut sungai besar. Sungai Mississippi di Amerika Serikat masuk kategori aliran tingkat delapan, sementara Sungai Amazon menempati puncak tangga dengan tingkat 12—tertinggi di dunia.
Lebih dari 80 persen jaringan perairan di seluruh dunia terdiri dari aliran headwater tingkat satu hingga tiga, yang mengalir ke bagian hulu daerah aliran sungai.
**Sungai Pendek, Peran Besar**
Meski ukurannya mungil, sungai-sungai pendek seperti Tamborasi bukan berarti tidak penting. Setiap aliran air, sekecil apa pun, memainkan peran dalam ekosistem lokal—menjadi sumber air tawar, habitat makhluk hidup, hingga pengatur keseimbangan air tanah di sekitarnya.
Keberadaan Sungai Tamborasi juga menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis dengan keanekaragaman geografis yang luar biasa, menyimpan banyak rekam jejak alam yang belum sepenuhnya dikenal dunia—termasuk rekor-rekor geografis yang menunggu untuk lebih banyak dieksplorasi dan dipublikasikan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: