Pernahkah Anda menyadari bahwa cuaca ekstrem belakangan ini terasa makin sering terjadi? Mulai dari gelombang panas, kekeringan panjang, hingga banjir bandang di berbagai belahan dunia, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena El Nino saat ini tidak lagi berjalan sepenuhnya secara alami, melainkan telah diperkuat secara signifikan oleh perubahan iklim akibat ulah manusia.
Kepastian ini didapatkan setelah para ilmuwan berhasil merekonstruksi sejarah suhu permukaan laut selama 1.000 tahun terakhir.
Cara yang digunakan para ilmuwan terbilang unik, yaitu dengan menganalisis sisa-sisa kimia pada kerangka luar fosil terumbu karang kuno dan modern di Kepulauan Galapagos.
**Membaca Masa Lalu Lewat Terumbu Karang**
Mengapa harus terumbu karang di Galapagos? Kepulauan Galapagos terletak di wilayah Pasifik timur, yang merupakan jantung dari perkembangan siklus El Nino Southern Oscillation (ENSO). Karang-karang di wilayah ini bertindak layaknya penyimpan catatan sejarah alami bumi.
Melalui analisis kimiawi pada kerangka karang tersebut, ilmuwan dapat membaca variabilitas suhu laut dari abad ke abad. Metode ini berhasil mengisi kekosongan data sejarah iklim yang selama ini tidak terekam oleh alat instrumen modern manusia.
Dari hasil analisis tersebut, ilmuwan menemukan fakta bahwa kekuatan dan variabilitas El Nino telah meningkat sekitar 36 persen hingga 37 persen sejak era pra-industri dimulai.
Bahkan, data pemodelan iklim menunjukkan adanya lonjakan kekuatan El Nino hingga mendekati 40 persen hanya dalam kurun waktu empat dekade terakhir.
**Dampak Bahan Bakar Fosil dan Lingkaran Setan Perubahan Iklim**
Pemicu utama dari penguatan ekstrem ini adalah pemanasan global yang digerakkan oleh aktivitas manusia, khususnya pembakaran bahan bakar fosil.
Aktivitas ini memicu lingkaran setan (feedback loop) di mana konsumsi bahan bakar fosil meningkatkan pemanasan laut, dan pada gilirannya, pemanasan tersebut memperkuat intensitas badai serta anomali cuaca El Nino.
El Nino yang telah “diperkuat” ini memicu ancaman nyata bagi kelangsungan hidup manusia dan ekosistem alam. Dampak ekstremnya berkisar dari banjir bandang yang merusak infrastruktur penting hingga kekeringan parah yang memicu kegagalan panen dan kerawanan pangan parah bagi populasi rentan di berbagai belahan dunia.
Meskipun terdapat ruang diskusi dan perdebatan ilmiah mengenai bagaimana keselarasan data observasi instrumen modern dengan temuan jangka panjang dari fosil karang ini, korelasi antara kenaikan suhu bumi dan ketidakstabilan samudra sudah sangat jelas.
Studi ini menjadi peringatan keras akan pentingnya menekan konsumsi bahan bakar fosil demi mencegah kerusakan ekosistem dan ketidakstabilan lingkungan yang lebih parah di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: