Terkubur 454 Juta Tahun, Gunung Berapi Raksasa Ditemukan di Bawah Pantai Inggris

Para ilmuwan baru saja mengungkap keberadaan sisa-sisa gunung api purba raksasa atau supervolcano yang terkubur jauh di bawah pantai timur Inggris.

Terpusat di bawah muara The Wash dan membentang hingga ke wilayah Norfolk serta Lincolnshire, gunung api purba ini memiliki diameter setidaknya 64 hingga 65 kilometer.

Menariknya, letusan dahsyat gunung purba ini diperkirakan terjadi sekitar 454 juta tahun lalu, atau sekitar 200 juta tahun sebelum dinosaurus pertama kali muncul dan berjalan di Bumi.

Penemuan ini tidak hanya mengubah pemahaman kita mengenai sejarah geologi Inggris, tetapi juga memecahkan misteri ilmiah yang telah membingungkan para ahli selama puluhan tahun.

**Terungkap Berkat Lockdown Covid-19**

Penemuan luar biasa ini ternyata berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Selama masa pembatasan sosial (lockdown) akibat pandemi COVID-19, para ilmuwan dari British Geological Survey (BGS) dan Universitas Oslo kembali memeriksa sampel batuan lama.

Sampel tersebut diambil sekitar 80 tahun lalu dari sumur bor sedalam ratusan meter di North Creake (Norfolk) dan Claxby (Lincolnshire).

Karena tidak bisa mengambil sampel baru secara langsung di lapangan akibat lockdown, mereka memanfaatkan peralatan dan teknologi terbaru untuk menganalisis ulang sampel arsip tersebut.

Fokus penelitian diarahkan pada kristal zirkon mikroskopis yang lebarnya hanya seukuran sehelai rambut manusia. Kristal ini terbentuk di dalam magma cair sesaat sebelum gunung meletus.

Zirkon mengandung unsur uranium radioaktif yang meluruh menjadi isotop timbal seiring berjalannya waktu. Dengan mengukur sisa isotop ini, ilmuwan berhasil menentukan usia kristal secara sangat presisi, yaitu sekitar 454,4 juta tahun lalu.

Hasil penanggalan batuan dari kedua lokasi sumur bor tersebut ternyata sama, membuktikan bahwa keduanya berasal dari gunung api yang sama.

**Letusan Dahsyat Setara Jutaan Bom Nuklir**

Berdasarkan analisis para ahli, letusan gunung purba ini sangatlah dahsyat. Kekuatannya diperkirakan setara dengan beberapa ribu bom hidrogen atau bahkan satu juta bom atom.

Erupsinya melontarkan sekitar ratusan hingga 1.000 kilometer kubik material kerak Bumi langsung ke lapisan stratosfer.

Jika letusan dengan skala yang sama terjadi hari ini, bencana tersebut dipastikan dapat mengancam kelangsungan hidup seluruh umat manusia.

Dahsyatnya letusan ini sekaligus menjawab asal-usul lapisan abu vulkanik tebal yang dikenal sebagai Kinnekulle tephra. Lapisan abu misterius ini tersebar luas di berbagai wilayah Eropa Utara, mulai dari Norwegia, Swedia, kawasan Baltik, Belarus, hingga Polandia.

Peneliti mencocokkan kristal zirkon asal Inggris dengan material abu purba yang dianalisis oleh Universitas Oslo di Norwegia. Hasilnya cocok secara presisi.

Abu vulkanik dari Inggris timur ternyata tertiup melintasi Laut Tornquist purba yang kala itu memisahkan Inggris dan Skandinavia, sebelum akhirnya mengendap di dasar laut Skandinavia.

**Apakah Masih Bisa Meletus Kembali?**

Penemuan gunung api purba raksasa ini menimbulkan kekhawatiran alami, apakah bisa meletus kembali. Namun, Dr. Tim Pharaoh, ahli geofisika dari BGS sekaligus penulis utama laporan penelitian ini, menegaskan bahwa gunung api purba ini sudah sepenuhnya mati dan tidak akan pernah meletus lagi.

“Berbeda dengan patahan bumi yang dapat aktif kembali secara seismik, gunung api yang sudah punah tidak memiliki kemampuan tersebut,” kata Pharaoh.

“Begitu sebuah gunung api dinyatakan mati, maka aktivitasnya selesai selamanya. Tidak ada yang perlu khawatir gunung berapi raksasa itu akan meletus lagi,” imbuhnya.

Kawasan bawah tanah yang kini dinamakan “Wash Igneous Complex” ini dipastikan aman dan tidak perlu dikhawatirkan oleh penduduk sekitar.

Profesor Jenni Barclay, ahli vulkanologi dari Universitas Bristol, menambahkan bahwa penemuan ini merupakan langkah maju yang sangat penting dalam menyusun potongan sejarah geologi Inggris Raya.

Pengetahuan mengenai struktur bawah permukaan ini juga sangat berguna untuk pemanfaatan sumber daya berkelanjutan seperti air dan mineral di masa depan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

200 Tahun Tambora