Rahasia di Balik Kacamata Jennie: Kenapa Lensanya Bisa Berubah Gelap?

Jika kamu memperhatikan foto-foto Jennie Blackpink saat tampil dengan kacamata Ray-Ban miliknya, kamu akan menemukan sesuatu yang menarik: Di dalam ruangan lensanya tampak terang dengan semburat warna lembut, tapi begitu ia melangkah ke luar dan terkena sinar matahari, lensa itu berubah gelap seperti kacamata hitam biasa.

Tidak ada tombol, tidak ada baterai, atau aplikasi yang perlu dibuka. Semuanya terjadi secara otomatis.

Fenomena ini bukan sulap, apalagi editan. Kacamata itu memakai teknologi bernama lensa photochromic. Nah, dari mana asal teknologi ini, dan bagaimana ia bisa “membaca” cahaya matahari?

**Bukan Teknologi Baru, Tapi Sudah Ada Sejak Abad ke-19**

Menariknya, ide di balik lensa yang berubah warna ini sama sekali bukan barang baru. Cikal bakalnya sudah tercatat sejak akhir tahun 1880-an, ketika seorang ilmuwan bernama Markwald pertama kali mengamati fenomena perubahan warna material akibat paparan cahaya. Saat itu ia menyebutnya “phototropy”.

Baru pada tahun 1950-an, ilmuwan bernama Yehuda Hirshberg mengusulkan istilah yang lebih dikenal sekarang: photochromism.

Namun, mengubah fenomena ini menjadi produk yang bisa dipakai sehari-hari butuh waktu lebih lama lagi. Baru pada tahun 1960-an, dua ilmuwan kimia asal Amerika Serikat, Stanley Donald Stookey dan William Armistead dari Corning Glass Works, berhasil menciptakan lensa kacamata photochromic pertama di dunia menggunakan bahan kaca mineral.

Produk ini dipasarkan dengan nama PhotoGray, dan pada 1968 Rodenstock menjadi produsen pertama yang membawanya ke pasar Eropa.

Masalahnya, lensa kaca ini berat dan mudah pecah. Para ilmuwan pun mulai mencari cara agar teknologi serupa bisa bekerja pada bahan plastik yang lebih ringan.

Perjalanan ini tidak mudah: American Optical sempat merilis lensa plastik fotokromik bernama Photolite pada awal 1970-an, tapi kurang laku di pasaran.

Titik baliknya datang saat PPG Industries menemukan kelompok senyawa organik baru bernama blue pyridobenzoxazines pada 1983, yang akhirnya menyempurnakan prototipe lensa plastik pada 1988.

Setahun setelahnya, PPG menggandeng raksasa optik Prancis, Essilor International, dan pada 1990 lahirlah perusahaan patungan bernama Transitions Optical, Inc. Produksi massal pertamanya dimulai 1991, dan sejak itu nama “Transitions” melekat sehingga banyak orang menyebut semua lensa adaptif sebagai “lensa transitions”, meski sebenarnya itu adalah nama merek dagang.

**Bagaimana Lensa Ini “Tahu” Ada Sinar Matahari?**

Rahasianya ada pada reaksi kimia reversibel alias bolak-balik yang dipicu oleh sinar ultraviolet (UV). Ketika lensa berbahan kaca dan plastik terkena UV, mekanismenya sedikit berbeda.

Pada lensa kaca, di dalamnya tertanam kristal perak halida seperti perak klorida (AgCl). Saat terkena UV-A dari matahari, ion klorida melepaskan elektronnya dan berubah menjadi klorin.

Elektron yang lepas ini kemudian “ditangkap” oleh ion perak, mengubahnya menjadi perak elemental yang menyerap cahaya—itulah yang membuat lensa tampak gelap. Ketika UV hilang, reaksinya berbalik dan perak kembali menjadi ion tak berwarna, sehingga lensa kembali bening.

Pada lensa plastik atau polikarbonat yang lebih umum dipakai sekarang, perak halida tidak bisa digunakan. Sebagai gantinya, produsen memakai senyawa organik berbasis karbon seperti naphthopyrans atau spirooxazines.

Saat terkena UV, ikatan kimia molekul ini melemah dan mengalami perubahan bentuk struktural (isomerisasi)—dari bentuk tertutup menjadi bentuk terbuka dan datar yang mampu menyerap cahaya tampak.

Begitu lensa dibawa masuk ruangan yang tidak memiliki paparan UV, molekul ini akan melepaskan energi panas yang tersimpan dan kembali ke bentuk semula yang transparan.

Seiring waktu, senyawa yang dipakai pun terus disempurnakan: generasi awal Transitions memakai pyridobenzoxazines, lalu beralih ke naphthopyrans, hingga kini menggunakan indenonaphthopyrans—hasil peleburan gugus indene ke struktur naphthopyran yang membuat molekul lebih tahan lama dan transisinya lebih cepat.

Satu inovasi lain yang membuat Transitions unggul adalah metode imbibing. Alih-alih hanya melapisi permukaan lensa (yang hanya menembus sekitar 5 mikron), pewarna photochromic dipanaskan agar meresap hingga kedalaman 100–150 mikron ke dalam material lensa.

Hasilnya, warna gelap yang muncul jadi jauh lebih merata—bahkan pada lensa kacamata resep dengan ketebalan tidak rata, seperti untuk mata minus tinggi atau silinder.

**Lensa dengan Sentuhan Warna Personal**

Nah, kembali ke kacamata yang dipakai Jennie. Pada 31 Agustus 2026, Optik Seis lewat kolaborasi Ray-Ban x Transitions, memperkenalkan generasi terbaru lensa photochromic bernama Transitions Color Touch, lensa yang dipakai personel Blackpink itu.

Bedanya dengan lini Transitions sebelumnya seperti GEN S dan XTRActive yang tampil jernih atau nyaris tanpa warna saat di dalam ruangan, Color Touch justru sengaja mempertahankan sentuhan warna yang terlihat meski dipakai indoor.

Namun begitu terkena sinar matahari di luar ruangan, lensa akan menggelap otomatis dan tampil lebih intens layaknya kacamata hitam biasa.

Dalam keterangannya, Transitions menyebutkan, “Lensa ini dirancang untuk memberikan pengalaman melihat yang nyaman tanpa usaha, dengan perlindungan terhadap sinar UV serta penyaringan cahaya biru-ungu, baik di dalam maupun di luar ruangan.”

Lensa diklaim mampu memblokir 100 persen sinar UVA dan UVB, menggelap di luar ruangan, serta memfilter 26–51 persen cahaya biru-ungu di dalam ruangan dan 78–93 persen di luar ruangan, tergantung warna lensa.

Lensa ini hadir dalam lima pilihan warna—Ruby, Emerald, Sapphire, Amethyst, dan Amber—yang masing-masing tersedia dalam dua efek tint, yaitu gradient (bergradasi) dan washed (warnanya rata).

Jadi, jika kamu masih bertanya kenapa kacamata Jennie bisa berubah warna, jawa


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Bukit Cahaya dan Serpihan Cerita Lainnya

Seri Klasik Semasa Kecil: Rahasia Lukisan

Warna Asli Nusantara