Saat Api Karhutla Padam, Ini 3 Bahaya Sebenarnya Justru Baru Mengintai

Padamnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kita sambut dengan lega. Ketika asap hilang, kita mengira bahaya telah usai. Padahal, riset membuktikan sebaliknya: titik kritis bagi kesehatan dan lingkungan justru baru dimulai saat pemadaman dilakukan atau setelah titik api dinyatakan padam.

**Jebakan Gas Beracun dan Pembakaran Tidak Sempurna**

Ketika lahan gambut yang terbakar disiram air yang tidak sebanding dengan panasnya, proses oksidasi terganggu. Alih-alih padam sepenuhnya, penyiraman setengah matang ini memicu pembakaran tidak sempurna yang melepaskan gas karbon monoksida (CO) secara drastis.

CO adalah gas beracun tanpa warna dan bau yang mengikat hemoglobin darah jauh lebih kuat daripada oksigen. Akibatnya, tubuh pun akan kekurangan oksigen secara perlahan.

Selain CO, sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2) juga terlepas. Di bawah suhu tinggi, gas-gas ini bereaksi membentuk ozon permukaan tanah (O3), yaitu polutan agresif yang merusak jaringan paru-paru.

Gas-gas beracun ini bisa dideteksi melalui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Dosen Teknik Lingkungan ITB, Raden Driejana, menjelaskan bahwa pemantauan udara lewat ISPU justru krusial saat api karhutla padam.

“ISPU itu akan lebih-lebih lagi diperlukan justru ketika peralihan, sudah selesai nih kebakarannya,” ujar Driejana dalam webinar pada Senin (31/8/2026) malam.

“Apakah benar ini sudah boleh keluar atau jangan keluar dulu walaupun kebakarannya sudah padam, karena ISPU-nya sebetulnya masih buruk karena ada parameter-parameter yang tadi bisa keluar atau menjadi keluar lebih banyak ketika sudah terjadi pemadaman,” tutur Driejana.

**Partikel Nano dari Gas Beracun Bisa Menempel ke Berbagai Benda**

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, ancaman terbesar setelah api padam adalah partikulat sekunder berukuran mikro hingga nano yang terbentuk dari gas SO2 dan NO2.

Kabar buruknya, partikel mikro ini dengan mudah menembus masker biasa, menyusup ke aliran darah, dan menetap di organ dalam.

Ironisnya, bahaya ini juga menyelinap ke dalam rumah. Studi Universitas California, Los Angeles (UCLA) pada awal 2026 mengungkapkan bahwa warga yang kembali ke rumah pasca-kebakaran hutan masih berisiko terpapar senyawa organik volatil atau Volatile Organic Compounds (VOC) karsinogenik seperti benzena.

Saat kebakaran, benda berpori seperti bantal, sofa, dan boneka menyerap asap beracun. Setelah api padam, barang-barang tersebut melepaskan kembali gas beracun ke udara (off-gassing).

Profesor kesehatan lingkungan di UCLA, Yifang Zhu yang memimpin penelitian ini menggunakan sampel dari udara pasca-kebakaran hutan di Los Angeles, Amerika Serikat pada awal 2025 lalu.

“Yang membuat kebakaran hutan urban ini sangat mengkhawatirkan adalah potensi toksisitas asap yang dihasilkannya, karena VOC tersebar luas di kawasan pemukiman, dengan sumber umum termasuk bahan bangunan dan produk rumah tangga, seperti perlengkapan memasak dan kebersihan,” kata Zhu.

“Beberapa di antaranya bersifat karsinogenik dan jelas berbahaya bagi kesehatan manusia,” tegas Zhu.

**Kerusakan Air dan Ekosistem Jangka Panjang**

Dampak karhutla juga merusak sistem air. Ketika hujan mengguyur wilayah bekas kebakaran, air tidak dapat meresap karena tanah tertutup abu halus dan sedimen yang menyumbat pori-pori tanah (water repellency).

Aliran air kemudian membilas abu, sedimen, logam, hingga senyawa beracun polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) langsung ke sungai dan danau.

Peneliti dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) Universitas Colorado, Ben Livneh dalam penelitiannya yang terbit dalam jurnal Nature Communication Earth and Environment menyebutkan pemulihan kualitas air pasca kebakaran hutan memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan.

“Dapat memakan waktu dua hingga delapan tahun agar efeknya terasa sepenuhnya,” ungkap Livneh.

“Terkadang ini efek tertunda… atau terkadang Anda butuh badai yang cukup besar untuk melarutkan sisa kontaminan,” tambahnya.

Di Indonesia, pengendapan polutan asam bekas karhutla ini merusak tumbuhan dan badan air. Ini berisiko mengubah kualitas air secara drastis dan merusak ekosistem perairan.

“Bisa jatuh di tanah, bisa jatuh di badan air, bisa menimbulkan hujan asam, bisa menimbulkan kerusakan hutan yang masih sehat karena juga dampak dari deposisi itu bisa merusak tumbuhan,” ucap Driejana.

Sebagai gambaran, hujan asam ini dapat merusak batuan candi bersejarah secara perlahan. Di alam liar, satwa seperti orangutan juga menderita kerusakan paru-paru serupa manusia akibat polusi pasca-karhutla ini.

Kerusakan lahan gambut pun memicu lingkaran setan bencana: banjir di musim hujan bergantian dengan kekeringan serta kebakaran di musim kemarau.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Aku Ingin Tahu: Pemadam Kebakaran