Jagat maya baru-baru ini dihebohkan dengan unggahan foto dan video yang menampilkan fenomena “awan pelangi” atau secara ilmiah disebut iridescent clouds. Gradasi warna yang indah di pinggiran awan tersebut menarik perhatian warganet sekaligus memicu tanda tanya mengenai penyebab kemunculannya.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, memberikan penjelasan mendalam. Menurutnya, awan pelangi adalah fenomena optika atmosfer yang terjadi secara alami.
**Proses Pembentukan Awan Pelangi**
Berbeda dengan anggapan mistis, iridescent clouds murni merupakan hasil interaksi cahaya matahari dengan partikel di dalam awan. Sonni menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika sinar matahari mengalami difraksi oleh partikel droplet atau kristal es berukuran sangat kecil, yakni sekitar 0,001–0,01 mm.
“Karena cahaya matahari merupakan radiasi polikromatik, maka cahaya yang mengalami difraksi dengan panjang gelombang yang berbeda akan saling menguatkan atau saling melemahkan pada sudut tertentu, sehingga muncul warna merah, hijau, biru, ungu yang selalu muncul di pinggiran awan,” ujar Sonni dikutip dari laman IPB University.
Ia menambahkan bahwa syarat utama terjadinya fenomena ini adalah struktur awan yang harus tipis. Jika awan terlalu tebal, cahaya matahari akan tertutup dan efek warna tidak akan muncul.
“Struktur awan yang tipis memungkinkan cahaya matahari menembus dan berinteraksi dengan partikel-partikel di dalamnya, sehingga menghasilkan spektrum warna yang tampak berkilau,” jelasnya.
**Berbeda dengan Pelangi Konvensional**
Meski sama-sama menunjukkan spektrum warna, proses terbentuknya awan pelangi sangat berbeda dengan pelangi yang biasa muncul setelah hujan. Jika pelangi terbentuk melalui pembiasan (refraksi), awan pelangi terbentuk karena difraksi cahaya.
“Di iridescent clouds, ‘celah’ itu adalah tetesan air atau kristal es yang diameternya 1–10 mikrometer. Ukuran diameter ini kira-kira sama dengan panjang gelombang cahaya tampak 400–700 nm,” tutur Sonni.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap tetesan air atau kristal es bertindak seperti celah tunggal yang menyebarkan cahaya. Karena panjang gelombang tiap warna berbeda, sudut intensitas maksimumnya pun berbeda. Cahaya biru akan muncul lebih dekat ke sumber cahaya, sementara warna merah akan terlihat lebih jauh.
**Mengapa Bentuknya Tidak Beraturan?**
Jika pelangi membentuk busur sempurna, awan pelangi cenderung berbentuk tambalan warna yang tidak beraturan di pinggiran awan. Hal ini disebabkan oleh ukuran tetesan air yang sangat kecil dan jumlahnya yang sangat banyak, sehingga terjadi difraksi ganda yang saling tumpang tindih.
Kunci keindahan warna ini terletak pada keseragaman ukuran tetesan air di dalam awan. “Awan iridescent hanya terbentuk kalau tetesan airnya seragam. Itu biasanya terjadi di awan tipis altokumulus yang baru terbentuk dan belum sempat bergabung jadi tetesan besar,” urai Sonni.
Sonni menegaskan bahwa tidak semua awan bisa menghasilkan efek ini. Hanya partikel dengan ukuran tertentu yang sebanding dengan panjang gelombang cahaya matahari yang mampu membelokkan cahaya.
“Masyarakat dapat menikmati kemunculannya sebagai bagian dari keindahan alam sekaligus memahami proses ilmiah yang terjadi di baliknya,” pungkasnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: