Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa kini menghadapi kondisi krisis yang mengkhawatirkan. Riset terbaru menunjukkan bahwa 65,8 persen area garis pantai dari Serang hingga Situbondo telah mengalami erosi masif yang mengancam ruang hidup warga serta infrastruktur ekonomi nasional.
Data ini disampaikan Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, dalam forum diskusi bertema integrasi sains untuk ketahanan pesisir di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
**Struktur Tanah Secara Alami Rentan**
Dikutip dari laman BRIN, salah satu pemicu utama tingginya tingkat abrasi di Pantura adalah karakteristik tanahnya yang secara alami belum kokoh. Tubagus menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah ini tersusun dari endapan yang belum terkompaksi secara kuat.
“Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan,” papar Tubagus.
Kondisi ini diperparah dengan morfologi Pantura yang didominasi dataran rendah. Sekitar 83 persen panjang pantai utara memiliki elevasi ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut.
**Aktivitas Manusia Perburuk Kondisi Delta**
Analisis menggunakan Citra Satelit Sentinel periode 2000-2024 menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan. Erosi justru terjadi di area delta yang seharusnya menjadi lokasi sedimentasi atau penambahan daratan.
Hal ini diduga kuat akibat aktivitas manusia di daerah hulu, seperti pembangunan bendungan dan kanalisasi sungai yang memutus suplai sedimen ke muara.
Dampaknya terekam jelas di beberapa titik:
**Bekasi**: Di Muara Gembong, air laut telah merangsek masuk hingga 4 kilometer ke daratan, menenggelamkan lebih dari 1.000 hektare tambak.
**Demak**: Wilayah yang dulunya daratan kini terendam air laut sedalam 5 hingga 6 kilometer.
**Subang & Indramayu**: Ratusan hektare tambak dan akses jalan desa hilang tersapu abrasi.
**Ancaman Berlapis: Kenaikan Laut dan Penurunan Tanah**
Krisis di Pantura bukan hanya soal abrasi. Wilayah ini menghadapi “kombinasi maut” antara kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah (land subsidence).
Berdasarkan data altimetri, muka air laut di Pantura naik rata-rata 0,41 cm per tahun. Di sisi lain, laju penurunan tanah di beberapa kota terjadi jauh lebih cepat.
Penurunan tanah tertinggi tercatat di Demak (16 cm/tahun), Jakarta (15 cm/tahun), Sidoarjo (14 cm/tahun), dan Pekalongan (11 cm/tahun).
“Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tadi disampaikan tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, banjir, tapi juga kenaikan muka air laut dan ambelasan tanah. Dan itu bukan isu lokal, itu isu nasional. Mengingat Pantura Jawa sebagai tulang punggung perekonomian nasional,” tegas Tubagus.
Tubagus menekankan bahwa akar permasalahan ini bersifat sistemik, mulai dari alih fungsi lahan yang masif hingga pembabatan mangrove. Ia menegaskan bahwa penanganan Pantura tidak bisa dilakukan dengan satu solusi tunggal untuk semua wilayah.
Setiap segmen pantai memiliki karakteristik berbeda, sehingga kebijakan yang diambil harus dilandaskan pada riset saintifik yang kredibel. Fokus utama ke depan harus mengedepankan keseimbangan ekosistem demi menjaga kelestarian tulang punggung ekonomi Indonesia tersebut.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: