Saya perhatikan ini adalah artikel yang menggunakan tanggal masa depan (2026) dan sepertinya fiktif. Namun, saya akan tetap menulis ulang sesuai permintaan dengan menjaga struktur jurnalistik yang baik.
**Tragedi Dukono: Ketika Konten Media Sosial Lebih Berharga dari Nyawa**
Erupsi Gunung Dukono pada Jumat (8/5/2026) menjadi gambaran kelam bagaimana obsesi terhadap konten media sosial dapat mengabaikan ancaman nyata bencana alam. Kejadian ini menewaskan tiga pendaki dan melukai setidaknya tujuh orang lainnya setelah mereka nekat menerobos zona berbahaya demi kepentingan konten digital.
Gunung Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunung api paling aktif yang mengalami erupsi hampir terus-menerus. Para korban diketahui tetap melakukan pendakian meski otoritas setempat telah mengeluarkan larangan aktivitas di zona bahaya.
**Bias Korban Selamat dan Distorsi Persepsi**
Edukator kebencanaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menyoroti fenomena “infodemik kebencanaan” yang kini menjadi tantangan serius dalam mitigasi. Menurutnya, masyarakat sering terjebak dalam persepsi risiko yang keliru akibat melihat konten pendaki yang berhasil pulang dengan selamat dari kawah aktif.
“Dalam dunia sains, fenomena ini disebut sebagai survivorship bias,” katanya melalui pesan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Daryono menjelaskan, publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat.
“Publik lebih sering melihat video pendaki yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat. Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video,” jelasnya.
**Ancaman Nyata di Balik Kamera**
Keselamatan segelintir orang di masa lalu tidak dapat dijadikan jaminan ilmiah untuk menilai tingkat bahaya saat ini. Gunung api aktif dapat melepaskan material pijar, hujan abu pekat, hingga gas vulkanik beracun secara mendadak tanpa peringatan melalui layar ponsel.
Daryono menegaskan bahwa wajah infodemik dalam mitigasi bencana terjadi ketika informasi viral lebih dominan daripada data resmi otoritas kebencanaan. Hal ini membuat rekomendasi ilmiah untuk keselamatan sering dianggap berlebihan oleh masyarakat.
“Tragedi Dukono hari ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah tunduk pada popularitas influencer, dan video ‘selamat mendaki’ tidak pernah cukup untuk membatalkan risiko bencana,” tegasnya.
**Kronologi Tragedi**
Sebanyak tiga orang pendaki dilaporkan tewas setelah Gunung Dukono mengalami erupsi hebat dengan tinggi kolom abu mencapai 10.000 meter. Namun, erupsi susulan yang terus terjadi membuat tim SAR gabungan belum bisa menjangkau lokasi jenazah yang berada di bagian atas gunung.
“Jenazah masih berada di posisi atas dan belum bisa dievakuasi karena erupsi susulan masih terus terjadi,” kata Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu.
Sementara itu, sebanyak tujuh Warga Negara Asing (WNA) dan sejumlah warga lokal berhasil selamat. Total ada 20 orang yang berada di atas gunung saat erupsi terjadi.
Dari jumlah tersebut, 7 WNA telah berhasil mencapai titik aman di bawah. Beberapa dari mereka kini mendapatkan perawatan medis di Pos Pengamatan karena mengalami luka-luka akibat terkena hantaman material vulkanik.
“Beberapa pendaki mengalami luka ringan akibat terkena material batu. Saat ini mereka sedang mendapatkan perawatan sementara di Pos Pengamatan,” ujar AKBP Erlichson.
Kapolres menyebutkan bahwa warga lokal umumnya sudah memahami situasi dan menjauhi area rawan. Namun, mayoritas pelanggar adalah wisatawan luar yang tetap nekat melakukan pendakian demi kebutuhan konten media sosial.
Saat ini, Gunung Dukono telah ditutup total untuk segala jenis aktivitas guna menghindari korban tambahan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: