Kisah Kura-kura Sulcata Bangkit dari Kematian Usai 2 Kali Terlindas Mobil

Masalah kompleks membutuhkan solusi kreatif. Prinsip inilah yang dipegang oleh dokter hewan spesialis hewan eksotis, Nielsen Donato, saat menangani pasien uniknya baru-baru ini: seekor kura-kura darat Afrika berusia empat tahun yang bernasib malang.

Kura-kura jenis Geochelone sulcata tersebut dibawa ke klinik Vets in Practice di Filipina setelah mengalami kecelakaan tragis. Reptil malang ini terlindas mobil sebanyak dua kali, yang mengakibatkan tempurungnya retak parah dan jaringan lunaknya terekspos.

**Langkah Pertolongan Darurat**

Dikutip Popsci, saat pasien pertama kali tiba, Donato tidak berada di lokasi, namun ia memberikan instruksi ketat melalui telepon. Tim medis harus memastikan jaringan lunak yang terpapar tetap lembap dengan membilas tempurung menggunakan cairan saline (air garam).

Langkah stabilisasi awal dilakukan dengan memasang sekrup terbalik pada berbagai bagian tempurung menggunakan dempul epoksi, yang kemudian dihubungkan dengan karet gelang untuk menahan retakan.

“Fokus utama kami saat itu adalah menstabilkan kondisi kura-kura dari syok akibat cedera. Selama tiga minggu pertama, kami memastikan tidak ada lalat yang bertelur dan berubah menjadi belatung,” ujar Donato dalam keterangannya.

Selain menjaga kebersihan luka, kura-kura tersebut juga diberi hidrasi, makan melalui selang, berjemur di bawah sinar matahari, serta mendapatkan antibiotik dan obat pereda nyeri.

**Inovasi Bingkai Kawat Penyangga**

Setelah kondisi kura-kura mulai stabil dan menunjukkan nafsu makan, Donato memulai prosedur perbaikan tempurung. Tantangan tersulit adalah mengangkat bagian tempurung yang hancur dan tertekan ke dalam.

Untuk mengatasinya, Donato merancang sebuah bingkai khusus yang dipasang di atas tempurung. Bingkai ini berfungsi sebagai penyangga untuk menarik bagian tempurung yang hancur menggunakan kawat.

“Saat kami memutar kawat tersebut, kami melihat tempurungnya mulai sejajar dan retakannya kembali menyatu,” jelas Donato.

Setelah posisi tempurung selaras, tim medis menutup retakan tersebut menggunakan akrilik dental.

**Pemulihan yang Menggembirakan**

Setelah tiga minggu menggunakan alat penyangga kawat tersebut, kondisi tempurung kura-kura malang ini menjadi jauh lebih stabil. Tim medis kemudian melepas seluruh rangkaian kawat, sekrup, dan dempul dari tubuhnya.

“Saat kunjungan terakhir, kura-kura ini mulai bergerak lebih aktif dan pemiliknya tidak lagi khawatir karena nafsu makannya telah kembali normal,” lapor Donato dengan bangga.

Upaya luar biasa dari tim medis ini membuktikan bahwa dengan dedikasi dan sedikit kreativitas, nyawa satwa yang terluka parah sekalipun masih bisa diselamatkan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Yang Tak Kunjung Usai

Berbagi Senyum: Kisah-kisah yang menguatkan dari halaman belakang rumah Andi Sahrandi