Megahnya Busana Bangsawan Nubia Kuno Lewat Rekonstruksi Mural Katedral Faras

Berawal dari kampanye penyelamatan UNESCO pada tahun 1960 di Bendungan Aswan, rahasia kemegahan Nubia Kristen perlahan terungkap. Melalui penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity, para ahli kini berhasil mewujudkan mural dua dimensi menjadi pakaian nyata yang dikenakan oleh para elit 1.200 tahun silam.

Keagungan masa lalu Nubia Kristen abad pertengahan kini tidak lagi hanya bisa dinikmati melalui dinding-dinding katedral yang membeku. Para peneliti berhasil merekonstruksi busana mewah yang dikenakan oleh raja, ibu suri, hingga uskup dari wilayah yang kini menjadi bagian dari Mesir dan Sudan tersebut.

**Emosi yang Tergugah**

Hasil rekonstruksi busana yang didasarkan pada mural berusia 1.200 tahun ini ditampilkan melalui sebuah pertunjukan yang memukau, sebagaimana dikutip Live Science. Kehadiran sosok-sosok dari masa lalu ini dilaporkan membuat para penonton yang hadir meneteskan air mata karena haru.

Karel Innemée, arkeolog dari Universitas Warsawa sekaligus penulis pendamping studi ini, menjelaskan bahwa penggambaran hidup individu elit ini merupakan sarana komunikasi yang sangat kuat.

Innemée mengenang momen emosional saat sesi pemotretan berlangsung di sebuah gereja di Den Haag, Belanda.

“Model-model asal Sudan tersebut langsung menunjukkan sikap aristokrat saat mereka mengenakan kostum itu. Sementara kami, penonton, benar-benar meneteskan air mata saat melihatnya,” ujar Innemée melalui surat elektronik kepada Live Science.

Reaksi serupa juga dilaporkan terjadi saat busana-busana ini dipamerkan dalam pertunjukan di Paris, Berlin, dan London.

**Temuan Tak Terduga di Faras**

Sejarah penemuan mural ini bermula secara tidak sengaja pada tahun 1960. Saat itu, UNESCO meluncurkan kampanye internasional untuk menyelamatkan situs arkeologi sebelum terendam air akibat pembangunan Bendungan Tinggi Aswan di Mesir.

Tim arkeolog Polandia yang awalnya mencari kuil di Faras justru menemukan sebuah katedral Kristen yang terawat baik. Di dalamnya terdapat lebih dari 150 lukisan mural yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-14.

“Mereka menemukan katedral Kristen yang dihiasi dengan lebih dari 150 lukisan mural, mencakup periode abad ke-8 hingga ke-14,” kata Innemée.

Mural-mural tersebut kini disimpan di museum nasional di Sudan dan Warsawa.

**Instrumen Politik dan Keagamaan**

Lukisan-lukisan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga instrumen politik untuk memperkuat otoritas gereja dan negara. Innemée menjelaskan bahwa jabatan raja dan uskup pada masa itu dianggap berasal dari Tuhan.

“Beberapa dari mereka (tokoh dalam mural) digambarkan bersama Kristus atau Perawan Maria yang berdiri di belakang atau di samping mereka, dengan tangan di bahu sebagai isyarat perlindungan,” tambahnya.

**Komitmen Material Otentik**

Proses rekonstruksi busana ini bukanlah perkara mudah. Tim peneliti berkomitmen hanya menggunakan kain dan pewarna alami yang tersedia di Afrika Timur Laut pada abad pertengahan.

“Dengan pewarna (berbasis tanaman) ini, berbagai eksperimen dilakukan pada berbagai kain: katun, linen, sutra, dan wol,” ungkap Innemée.

Mereka juga bekerja sama dengan desainer kostum film profesional, Dorothée Roqueplo, untuk mencocokkan tekstur kain dengan apa yang terlihat pada mural.

**Evolusi Gaya Busana**

Secara gaya, busana Nubia mengalami evolusi yang menarik. Awalnya, pakaian mereka merupakan replika persis dari busana Bizantium. Namun, sekitar tahun 1.000 Masehi, elemen lokal mulai muncul, seperti penggunaan celana dan selempang yang dipengaruhi oleh dunia Islam.

“Hal ini menunjukkan tumbuhnya kepercayaan diri budaya dan pergeseran dari Bizantium sebagai model peran,” jelas Innemée.

Selain sebagai pencapaian akademis, proyek ini bertujuan memberikan pemahaman kepada audiens yang lebih luas tentang bagaimana Nubia abad pertengahan menjadi titik temu berbagai budaya dan periode sejarah yang menyatu dengan harmonis.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti

How to Win An Election: Panduan Klasik untuk Politisi Modern