Mengenal Gajah Sumatera, Mamalia Cerdas Penjaga Ekosistem yang Terdesak Konflik Lahan

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), mamalia darat terbesar di Indonesia, kini menghadapi situasi krisis yang semakin mengkhawatirkan. Konflik antara manusia dan satwa liar ini menjadi sorotan utama di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, di mana habitat aslinya telah menyusut drastis.

Lebih dari 80 persen tutupan hutan alami Tesso Nilo telah musnah akibat konversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan tanaman industri. Penyempitan lahan yang dramatis ini, menurut Randi Syafutra, Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, memaksa kawanan Gajah Sumatera keluar dari wilayah jelajahnya.

“Hasilnya adalah serangkaian serangan terhadap ladang warga, kerusakan rumah, dan bentrokan yang berulang,” tulis Randi dalam kolom Kompas.com.

**Konflik Berkelanjutan akibat Perambahan**

Konflik meningkat bukan hanya karena kebutuhan satwa akan ruang, tetapi juga karena perambahan dan pembalakan liar terjadi tanpa konsekuensi tegas. Tragisnya, data WWF menunjukkan bahwa kurang dari satu dekade terakhir, 129 gajah Sumatera terbunuh di Sumatera, dengan 59 persen kematian disebabkan racun.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, menyampaikan bahwa populasi gajah liar di TNTN saat ini hanya sekitar 150 ekor, menurun dari sekitar 200 ekor pada tahun 2004.

“Kalau jumlahnya memang berkurang, cuma kan tidak drastis. Kalau saya katakan masih stabil lah populasinya. Misalnya tahun 2004 berjumlah sekitar 200 ekor, saat ini sekitar 150 ekor,” kata Heru saat berbincang dengan Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (25/11/2025).

**Status Kritis: Satu Langkah Menuju Kepunahan**

Meskipun ia menilai penurunan ini “tidak begitu drastis,” angka tersebut tetap menggambarkan tekanan luar biasa pada populasi sisa Gajah Sumatera di kawasan tersebut.

Gajah Sumatera merupakan salah satu subspesies dari Gajah Asia, dan keberadaannya dikategorikan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai Critically Endangered (CR), satu langkah sebelum dinyatakan punah di alam.

**Peran Vital sebagai Arsitek Ekosistem**

Gajah memiliki peran sangat besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, menjadikannya “satwa perawat hutan.”

**Penyebar Biji Alami:** Dengan daya jelajah (homerange) mencapai 170 km persegi per hari dan konsumsi makanan sekitar 136 kg per hari, Gajah secara alami menyebarkan biji-bijian, memperbaiki dan memperbarui kondisi hutan.

**Pupuk Alami:** Kotorannya, yang dibuang setiap satu jam sekali karena sistem pencernaan yang buruk, berfungsi sebagai pupuk alami yang kaya bagi tanaman hutan.

**Pembuka Jalur:** Rombongan Gajah yang terus bergerak membuka ruang agar sinar matahari bisa menembus lantai hutan, mendukung proses fotosintesis dan pertumbuhan tumbuhan lain.

**Karakteristik Fisik yang Khas**

Secara ilmiah, Gajah Sumatera diklasifikasikan sebagai Elephas maximus sumatranus. Satwa endemik ini memiliki ciri-ciri fisik yang membedakannya dari subspesies lain:

**Bobot dan Tinggi:** Bobot sekitar 3-5 ton dengan tinggi 2-3 meter.

**Kulit:** Terlihat lebih terang dibandingkan Gajah Asia lain, seringkali dengan depigmentasi (flek putih kemerahan) di bagian kuping.

**Gading:** Hanya gajah jantan yang memiliki gading panjang. Gajah betina biasanya memiliki gading yang pendek atau hampir tidak terlihat, berbeda dengan Gajah Afrika yang jantan dan betinanya bergading.

**Kepala dan Telinga:** Memiliki dua tonjolan di bagian atas kepala (Gajah Afrika cenderung datar). Telinga Gajah Sumatera juga lebih kecil dan berbentuk segitiga.

**Ancaman Berlapis: Dari Deforestasi hingga Perburuan**

Dalam 25 tahun terakhir, Pulau Sumatera telah kehilangan sekitar 70 persen luas hutan tropis, yang merupakan habitat vital bagi gajah. Penyusutan habitat ini, ditambah dengan perburuan ilegal untuk gading, telah menyusutkan populasi hingga lebih dari separuh.

Estimasi populasi tahun 2007 sekitar 2.400-2.800 individu, dan kini diperkirakan telah menurun jauh dari angka tersebut.

**Konflik yang Tak Terelakkan**

Masalah diperparah karena 90 persen habitat gajah Sumatera tidak hanya berada di kawasan konservasi, tetapi juga di area konsesi perusahaan atau lahan masyarakat, yang memicu konflik berkelanjutan.

**Refleksi Perilaku Manusia**

Graydon Carter, seorang jurnalis Kanada, pernah mengungkapkan, “Kita mengagumi gajah sebagian karena mereka menunjukkan apa yang kita anggap sebagai sifat-sifat manusia terbaik: empati, kesadaran diri, dan kecerdasan sosial. Tetapi cara kita memperlakukan mereka justru menunjukkan perilaku terburuk manusia.”

**Urgensi Perlindungan Holistik**

Melindungi Gajah Sumatera adalah melindungi kehidupan kita sendiri. Sebagai satwa perawat hutan, kelangsungan hidup mereka adalah indikator kesehatan ekosistem Sumatera secara keseluruhan.

**Solusi Terintegrasi untuk Masa Depan**

Penanganan krisis gajah Sumatera memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Restorasi habitat harus dipercepat, penegakan hukum diperkuat, dan program koeksistensi manusia-gajah dikembangkan.

**Teknologi untuk Konservasi**

Pemanfaatan teknologi seperti GPS tracking dan sistem peringatan dini dapat membantu memantau pergerakan gajah dan mencegah konflik. Kolaborasi dengan perusahaan perkebunan juga penting untuk menciptakan koridor satwa yang menghubungkan fragmen habitat.

**Kesadaran Masyarakat sebagai Kunci**

Edukasi masyarakat tentang pentingnya gajah dalam ekosistem hutan perlu terus digalakkan. Program kompensasi bagi petani yang lahannya terkena dampak konf


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru