Penelitian arkeologi bawah laut skala besar di Teluk Algeciras, dekat Selat Gibraltar, berhasil mengungkap sejarah panjang pelayaran dunia yang terkubur selama ribuan tahun. Tim peneliti dari Universitas Cádiz, Spanyol, berhasil mengidentifikasi 151 situs arkeologi, termasuk 124 bangkai kapal karam yang berasal dari era Fenisia, Romawi, abad pertengahan, hingga periode modern Perang Dunia II.
**Gerbang Strategis Antara Dua Benua**
Selat Gibraltar telah lama dikenal sebagai jalur sempit yang memisahkan Eropa dan Afrika, sekaligus penghubung vital antara Laut Mediterania dan Samudra Atlantik. Namun, siapa sangka jika perairan di sisi timur selat ini, yakni Teluk Algeciras, menyimpan ratusan bangkai kapal yang menjadi saksi bisu konflik dan perdagangan lintas peradaban.
**Pemetaan Kekayaan Sejarah Maritim**
Melalui survei yang dilaksanakan antara tahun 2020 hingga 2023, para arkeolog Spanyol berhasil memetakan kekayaan sejarah di teluk seluas 29 mil persegi tersebut. Temuan ini mengonfirmasi posisi teluk ini sebagai pusat maritim global sejak masa kuno.
**Jalur Wajib Pelayaran Dunia**
Felipe Cerezo Andreo, profesor arkeologi bawah laut dari Universitas Cádiz, menjelaskan bahwa Selat Gibraltar adalah jalur wajib bagi setiap kapal yang ingin menyeberang dari Mediterania ke Atlantik.
“Semua kapal harus melewati Selat Gibraltar, dan sebagian besar dari mereka kemungkinan harus berlabuh dan menunggu kondisi cuaca yang lebih baik di Teluk Algeciras, yang merupakan ‘pelabuhan’ dari selat tersebut,” ujar Andreo dikutip CNN, Selasa (21/4/2026).
**Jejak Peradaban Lintas Zaman**
Kekayaan situs yang ditemukan mencakup rentang waktu yang sangat luas. Temuan tertua berasal dari abad ke-5 SM, sebuah kapal yang diyakini membawa muatan saus ikan (garum) hasil produksi dari kota Cádiz untuk didistribusikan ke wilayah Mediterania.
**Sisa-sisa Konflik Militer**
Selain kapal dagang kuno, tim peneliti juga menemukan sisa-sisa armada dari era Perang Napoleon di awal abad ke-19, serta teknologi militer dari Perang Dunia II. Salah satu yang paling menarik adalah penemuan Maiale atau “Pig”—sebuah kapal selam mini yang digunakan oleh angkatan laut Italia untuk menyerang armada Inggris di Selat Gibraltar.
**Minimnya Penelitian Arkeologi Bawah Air**
“Banyak bangkai kapal yang tetap tidak ditemukan karena selama ini sangat sedikit studi arkeologi tentang sejarah yang terkubur di bawah air,” tambah Andreo.
**Dampak Tak Terduga Perubahan Iklim**
Menariknya, terungkapnya situs-situs bersejarah ini berkaitan erat dengan fenomena lingkungan saat ini. Arkeolog mencatat bahwa perubahan iklim memengaruhi arus laut dan pergerakan sedimen di teluk, yang secara tidak langsung “menyapu” tumpukan pasir yang menutupi bangkai kapal selama berabad-abad.
**Sedimen yang Terkikis**
“Perubahan iklim menyebabkan terungkapnya semua bangkai kapal ini,” jelas Andreo.
**Teknologi Canggih untuk Dokumentasi**
Untuk mendokumentasikan temuan tersebut, tim menggunakan teknik geofisika canggih seperti multibeam echosounder untuk memetakan dasar laut secara 3D dan magnetometer untuk mendeteksi anomali logam yang terkubur di bawah sedimen.
**Potensi Temuan di Kedalaman**
Meskipun baru meneliti area dangkal hingga kedalaman 10 meter, para ahli percaya masih banyak rahasia yang terkubur di kedalaman teluk yang mencapai 400 meter, termasuk jejak pemukiman dari zaman Paleolitikum.
**Ancaman dari Aktivitas Modern**
Kini, fokus utama tim adalah perlindungan hukum dan fisik terhadap situs-situs tersebut. Aktivitas kapal tanker minyak besar yang sering berlabuh di teluk menjadi ancaman nyata bagi kelestarian artefak bawah laut ini.
**Urgensi Dokumentasi dan Perlindungan**
“Bagi kami, penting untuk mencatat dan mendokumentasikannya secara virtual dan teknis guna melindunginya secara hukum maupun fisik,” pungkas Andreo.
**Kolaborasi Lintas Disiplin**
Penelitian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari arkeologi maritim, oseanografi, hingga teknologi geofisika, menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengungkap warisan bawah laut.
**Nilai Sejarah dan Budaya**
Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan tentang sejarah pelayaran dan perdagangan, tetapi juga mengungkap dinamika budaya dan teknologi dari berbagai peradaban yang pernah melintasi wilayah strategis ini.
**Metodologi Penelitian Modern**
Tim menggunakan pendekatan sistematis yang menggabungkan survei geofisika, penyelaman arkeologi, dan analisis laboratorium untuk memastikan dokumentasi yang akurat dan komprehensif.
**Kontribusi untuk Pengetahuan Global**
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi studi arkeologi maritim global dan memberikan pemahaman baru tentang jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia.
**Rencana Penelitian Lanjutan**
Para peneliti berencana memperluas survei ke area yang lebih dalam dan menggunakan teknologi robotik bawah laut untuk mengakses situs-situs yang tidak dapat dijangkau penyelam manusia.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: