El Nino tidak datang merata. Ia tidak menyerang 17.000 pulau Indonesia dengan tangan yang sama panjang. Ada wilayah yang akan merasakan dampak penuh, ada yang relatif terlindungi oleh geografi dan dinamika iklim lokalnya sendiri.
Memahami peta risiko ini, menurut Eddy Hermawan, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), adalah langkah pertama yang harus dilakukan sebelum merespons peringatan El Nino 2026—baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
“Yang akan diserang oleh El Nino itu kawasan-kawasan dengan pola hujan monsun, yang dalam klasifikasi iklim disebut tipe A. Bukan semua Indonesia,” kata Eddy kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
**Urutan Wilayah yang Terdampak**
Berdasarkan analisis Eddy, dampak El Nino 2026 akan bergerak secara bertahap mengikuti pola musim. Wilayah yang paling awal merasakan adalah kawasan Indonesia bagian selatan dan tengah yang memiliki musim kemarau paling tegas.
NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat adalah yang pertama masuk zona kering. Dari sana, pengaruhnya bergerak ke Sumatera Selatan, kemudian mengimbas ke Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
“Kawasan-kawasan yang ada di belahan utara—seperti Medan, sebagian Maluku—itu kawasan yang tidak akan terlalu terdampak. Karena memang El Nino menyerang kawasan dengan pola hujan monsun tipe A,” jelas Eddy.
Puncak tekanan diperkirakan berlangsung antara Juli hingga Oktober, sebelum angin monsun Asia mulai masuk sekitar akhir November dan secara alami melemahkan cengkeraman El Nino.
**Sentra Pangan: Prioritas Pertama**
Di antara semua ancaman, Eddy paling menekankan risiko terhadap kawasan sentra pangan. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur adalah tulang punggung produksi padi nasional—dan ketiganya masuk dalam zona paling rentan terdampak El Nino.
Tekanan kekeringan yang berlangsung dari Juli hingga September tepat bertumpang tindih dengan siklus tanam padi di banyak wilayah, berpotensi memicu defisit produksi yang langsung berdampak pada ketersediaan dan harga pangan.
“Selamatkan kawasan sentra pangan. Itu kawasan yang sangat riskan. Departemen pertanian harus fokus ke sana,” tegas Eddy.
Di samping pangan, pengelolaan cadangan air juga menjadi prioritas mendesak. Eddy menyebut waduk-waduk besar sebagai aset yang harus dijaga kapasitas simpannya sejak sekarang, sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
“Sentra-sentra waduk air juga harus diperhatikan. Dua hal itu—pangan dan air—adalah yang paling penting. Departemen pertanian dan departemen pengairan harus bergerak bersama,” katanya.
**Karhutla: Risiko Ada, tapi Lebih Terkendali**
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu menjadi momok saat El Nino datang, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Namun Eddy memberikan gambaran yang relatif lebih menenangkan untuk 2026, setidaknya berdasarkan data saat ini.
Karena IOD—indeks yang mengukur dinamika Samudra Hindia di sebelah barat Indonesia—diperkirakan tetap berada di fase normal-netral hingga akhir tahun, tekanan kekeringan ekstrem yang menjadi bahan bakar utama karhutla kemungkinan tidak akan separah 1997 atau 2015.
“Karena IOD-nya sedang tidak ikut mendukung, dia masih berada di fase normal netral. Dan itu akan menyelamatkan kita dari bahaya kemarau panjang tahun ini,” ujar Eddy.
**Pesan untuk Masyarakat: Siap, Bukan Panik**
Eddy menutup dengan pesan yang konsisten: kesiapsiagaan berbasis data, bukan kepanikan berbasis viral. Masyarakat di wilayah rentan—terutama petani di Jawa dan kawasan NTT-NTB—perlu memantau prakiraan BMKG secara berkala dan mempertimbangkan langkah adaptasi sejak dini.
Pemerintah, di sisi lain, perlu memastikan sistem irigasi berfungsi optimal, cadangan pangan aman, dan layanan kesehatan siap mengantisipasi dampak turunan dari kekeringan seperti kekurangan gizi dan penyakit berbasis air.
“Bukan pertama kali kita belajar tentang El Nino. Sejak 1962, 1972, 1982 kita sudah menghadapinya. Yang penting adalah kita tahu siapa yang paling terdampak, dan bergerak lebih cepat dari El Nino itu sendiri,” kata Eddy.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: