Observatorium Vera C. Rubin baru memulai operasinya, tetapi langsung menggemparkan komunitas astronomi. Dari data pendahuluan yang dikumpulkan hanya selama tujuh malam pengamatan, teleskop canggih ini berhasil menemukan asteroid raksasa yang memecahkan rekor dunia: benda angkasa dengan rotasi tercepat di kelasnya.
Asteroid bernama 2025 MN45 tersebut memiliki lebar sekitar 710 meter, lebih besar dari mayoritas gedung pencakar langit di Bumi. Yang paling mengejutkan bukan ukurannya, melainkan kecepatan rotasinya: 2025 MN45 menyelesaikan satu putaran hanya dalam 113 detik.
Ini menjadikannya asteroid dengan putaran tercepat yang pernah diketahui untuk kategori berdiameter lebih dari 500 meter. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal Letters pada Rabu (7/1) sebagai bagian dari survei asteroid untuk memperdalam pemahaman tentang formasi dan evolusi benda-benda kecil di Tata Surya.
**Mengapa Kecepatan Rotasi Ini Penting**
Asteroid pada dasarnya adalah batu raksasa yang mengorbit Matahari. Sebagian besar merupakan “fosil” dari masa awal Tata Surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu, sebelum planet dan bulan terbentuk seperti sekarang. Karena itu, mempelajari asteroid seperti menelusuri serpihan sejarah cosmic.
Untuk asteroid sebesar 2025 MN45, berputar secepat itu sebenarnya berbahaya. Semakin cepat sebuah benda berputar, semakin besar gaya sentrifugal yang menarik materialnya ke luar. Pada banyak asteroid, putaran terlalu cepat bisa membuatnya hancur berkeping-keping.
Namun, 2025 MN45 tetap utuh. Ini memberikan petunjuk penting bahwa asteroid tersebut kemungkinan memiliki kekuatan struktural yang sangat tinggi.
**Struktur Seperti Batu Padat**
Sarah Greenstreet, asisten astronom di National Science Foundation’s National Optical-Infrared Astronomy Research Laboratory (NOIRLab), menjelaskan bahwa asteroid ini jelas tersusun dari material yang sangat kuat agar tidak hancur.
“Jelas, asteroid ini harus terbuat dari material yang memiliki kekuatan sangat tinggi agar tetap menyatu,” kata Greenstreet. “Ia membutuhkan kekuatan kohesif mirip batuan padat.”
Penjelasan ini menarik karena sebagian besar asteroid diyakini bukanlah batu utuh seperti monolit, melainkan “rubble pile asteroid”—tumpukan pecahan batu dan debu yang menyatu karena gravitasi sejak proses pembentukan Tata Surya atau akibat tabrakan kosmik.
Dengan kata lain, banyak asteroid itu ibarat “gundukan puing” raksasa. Kalau gundukan puing berputar terlalu cepat, mereka akan mudah tercerai-berai. Namun, 2025 MN45 tampaknya berbeda—lebih solid daripada kebanyakan asteroid.
**Kemungkinan Penyebab Rotasi Super Cepat**
Para peneliti menduga beberapa kemungkinan mengapa asteroid ini berputar sangat kencang:
Pertama, tabrakan dengan asteroid lain. Tumbukan bisa memberikan “dorongan” yang meningkatkan kecepatan rotasi.
Kedua, kemungkinan 2025 MN45 adalah fragmen dari asteroid besar yang hancur akibat benturan dahsyat, lalu tersisa bagian yang padat dan tahan putaran cepat.
Sebagian besar asteroid di Tata Surya berada di sabuk asteroid utama di antara Mars dan Jupiter. Di wilayah ini, kebanyakan asteroid yang merupakan “rubble pile” harus berputar minimal sekitar 2,2 jam untuk tetap stabil.
Karena itu, penemuan 2025 MN45 sangat signifikan: ia menunjukkan bahwa di sabuk asteroid utama pun ada asteroid besar yang mampu berputar jauh di bawah batas “aman” tersebut.
**Temuan Lain yang Mengejutkan**
Penemuan 2025 MN45 ternyata hanya permulaan. Dari dataset pertama Rubin, ilmuwan juga menemukan 16 asteroid “super-fast rotators” dengan periode rotasi antara 13 menit hingga 2,2 jam, serta dua asteroid “ultra-fast rotators” dengan putaran kurang dari 2 menit.
Semua asteroid tersebut memiliki panjang lebih dari 90 meter, dan hampir semuanya juga berada di sabuk asteroid utama.
Yang membuat penemuan ini makin mencengangkan adalah skala datanya. Dalam tujuh malam saja, observatorium ini sudah mengungkap ribuan asteroid yang sebelumnya tidak diketahui, termasuk sekitar 1.900 asteroid yang belum pernah terlihat sebelumnya.
**Masa Depan Astronomi**
Rubin Observatory akan menjalankan proyek besarnya, LSST (Legacy Survey of Space and Time)—survei langit selama 10 tahun menggunakan LSST Camera, kamera digital terbesar di dunia. Nantinya, Rubin akan terus memindai langit malam Belahan Bumi Selatan untuk menciptakan film time-lapse raksasa tentang alam semesta.
Penemuan seperti 2025 MN45 menunjukkan betapa kuatnya Rubin Observatory dalam menemukan objek baru dengan cepat, memetakan asteroid dalam jumlah masif, dan memberi data rotasi serta karakter fisik asteroid yang sebelumnya sulit diperoleh.
Asteroid seperti 2025 MN45 bisa membantu ilmuwan menjawab pertanyaan besar: Apakah ada lebih banyak asteroid padat di sabuk asteroid utama daripada yang selama ini diperkirakan? Dan apa artinya bagi sejarah tabrakan serta evolusi Tata Surya?
Jika tujuh malam pertama saja sudah menghasilkan temuan besar, maka 10 tahun survei Rubin berpotensi mengubah cara kita memahami Tata Surya—dan mungkin juga membantu pemetaan objek-objek yang relevan untuk keamanan planet kita di masa depan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan