Penemuan ribuan kilogram ikan sapu-sapu di berbagai titik sungai Jakarta memunculkan pertanyaan mengenai keamanan pangan. Meski di beberapa negara ikan ini lazim dikonsumsi sebagai sumber protein, kondisi lingkungan di Jakarta memberikan catatan merah bagi keamanan daging ikan tersebut. Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional, Triyanto, menjelaskan bahwa berbagai riset akademis telah mengonfirmasi adanya polutan berbahaya di dalam tubuh ikan invasif ini.
**Hasil Penelitian Mengkhawatirkan**
“Sudah ada informasi, sudah ada hasil penelitian bahwa terdapat kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu di daerah yang tercemar. Saya membaca hasil penelitian rekan-rekan di BRIN maupun akademisi, ada kandungan logam berat seperti Pb (timbal) dan Cd (kadmium) di dalam dagingnya,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
**Proses Bioakumulasi yang Berbahaya**
Kandungan logam berat ini tidak muncul seketika, melainkan melalui proses yang disebut bioakumulasi. Sebagai ikan yang memakan apa pun di dasar sungai, ikan sapu-sapu menyerap polutan dari lingkungannya sedikit demi sedikit dalam waktu yang lama.
**Akumulasi Melalui Rantai Makanan**
“Bila daerah tercemar dikonsumsi oleh ikan sapu-sapu, tentu saja akan terjadi proses bioakumulasi di dalam tubuhnya atau ke dalam proses rantai makanan yang ada di perairan tersebut,” jelas Triyanto.
**Tidak Semua Ikan Sapu-sapu Berbahaya**
Namun, ia memberikan catatan bahwa tidak semua ikan sapu-sapu berbahaya. Ikan yang dipelihara di kolam bersih atau akuarium dipastikan aman dari logam berat. Kontaminasi hanya terjadi pada populasi yang menghuni wilayah perairan dengan tingkat pencemaran tinggi, seperti di kali-kali Ibu Kota.
**Pelajaran dari Tragedi Minamata**
Bahaya logam berat yang masuk ke tubuh manusia bukanlah isu baru dalam dunia sains. Triyanto mengingatkan kembali tragedi Minamata di Jepang sebagai contoh nyata dampak fatal konsumsi hasil laut yang tercemar merkuri.
**Dampak Fatal pada Kesehatan**
“Kasus Minamata dulu di Jepang itu mengonsumsi ikan di laut atau kerang-kerangan. Proses pencemaran logam berat yang masuk ke dalam tubuh manusia ini pasti akan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia itu sendiri yang memakannya,” tuturnya.
**Dari Protein Menjadi Ancaman**
Meski secara harfiah ikan sapu-sapu adalah sumber protein yang sah, kondisi “rumah” mereka di sungai tercemar mengubah nutrisi tersebut menjadi ancaman. Paparan timbal dan kadmium jangka panjang diketahui dapat merusak sistem saraf, ginjal, hingga memicu kanker.
**Kebijakan Pemusnahan yang Tepat**
Oleh karena itu, tindakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memusnahkan hasil tangkapan ikan sapu-sapu dengan cara dikubur dinilai tepat. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai makanan agar logam berat yang tersimpan di dalam tubuh ikan tersebut tidak berakhir di piring makan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui pakan ternak.
**Risiko Konsumsi Jangka Panjang**
Konsumsi ikan yang terkontaminasi logam berat secara berkelanjutan dapat menyebabkan kerusakan organ vital dan gangguan neurologis yang bersifat irreversible atau tidak dapat dipulihkan.
**Pentingnya Uji Laboratorium**
Sebelum mempertimbangkan pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk keperluan konsumsi atau industri, diperlukan pengujian laboratorium yang komprehensif untuk memastikan tingkat kontaminasi berada di bawah ambang batas aman.
**Indikator Pencemaran Lingkungan**
Tingginya kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu juga menjadi indikator kualitas air sungai di Jakarta yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dalam program perbaikan lingkungan.
**Edukasi Masyarakat Diperlukan**
Penting untuk mengedukasi masyarakat tentang risiko mengonsumsi ikan dari sungai tercemar, termasuk bahaya membeli ikan dari pedagang yang tidak jelas asal-usul tangkapannya.
**Monitoring Berkelanjutan**
Diperlukan sistem monitoring berkelanjutan terhadap kualitas air dan biota perairan di Jakarta untuk mencegah penyebaran kontaminasi ke spesies lain dalam ekosistem sungai.
**Alternatif Pemanfaatan Aman**
Para peneliti sedang mengkaji kemungkinan pemanfaatan ikan sapu-sapu yang terkontaminasi untuk keperluan non-konsumsi, seperti pupuk organik atau biogas, dengan teknologi yang tepat.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Si Pamutung: Sebuah Pemukiman Kuno di Pedalaman Sumatera Utara