Efektifkah Penguburan Ribuan Ikan Sapu-sapu di Jakarta? Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Operasi besar-besaran pembersihan sungai di Jakarta berhasil mengangkat hampir 7 ton ikan sapu-sapu dalam waktu singkat. Karena statusnya sebagai spesies invasif yang terkontaminasi polutan, ribuan ikan tersebut akhirnya dimusnahkan dengan cara dikubur massal. Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menilai metode penguburan saat ini merupakan opsi paling rasional untuk mengendalikan spesies invasif tersebut, meskipun ada beberapa catatan teknis dan etis yang harus dipenuhi.

**Solusi Praktis untuk Spesies Invasif**

“Untuk pengendalian ikan sapu-sapu, penguburan ikan sapu-sapu ini menurut saya sudah cukup efektif. Karena kita belum punya suatu upaya atau kegiatan yang memanfaatkan ikan sapu-sapu dalam bentuk lain, misalnya untuk pupuk atau sumber pakan ternak,” ujar Triyanto saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

**Prinsip Kesejahteraan Hewan**

Meski dinilai efektif secara teknis, Triyanto memberikan catatan penting terkait aspek kesejahteraan hewan. Ia menekankan agar petugas tidak mengubur ikan-ikan tersebut dalam kondisi masih bernapas.

“Ikan sapu-sapu ini jangan dikubur hidup-hidup ya, karena secara animal welfare itu tidak masuk dalam kriteria tersebut, karena akan menjadi stres, takut, dan mungkin tidak nyaman. Jadi kalau mau, kita harus matikan dulu,” jelasnya.

**Metode Pemusnahan yang Humanis**

Triyanto menyarankan metode pemusnahan cepat, misalnya dengan menusuk bagian kepala menggunakan benda tajam agar ikan segera mati sebelum dimasukkan ke dalam lubang.

“Kita harus punya rasa kehewanan juga,” tambahnya.

**Bahaya Logam Berat dalam Pemanfaatan**

Lantas, apakah ikan sapu-sapu bisa diolah menjadi pakan ternak? Wacana untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku pakan ternak memang menggiurkan secara ekonomi, namun Triyanto memperingatkan adanya risiko kesehatan yang mengintai.

**Risiko Transfer Polutan**

Jika ikan tersebut mengandung logam berat dari sungai Jakarta, polutan tersebut bisa berpindah ke hewan ternak dan akhirnya ke manusia.

“Jika memang ikan sapu-sapu ini mengandung logam berat, tentu saja nanti terhadap hewan ternak dan manusia yang memakannya juga akan memiliki risiko. Perlu penelitian lebih lanjut yang aman,” kata Triyanto.

**Dekomposisi Alami Lebih Aman**

Menurutnya, mematikan dan mengubur ikan tersebut justru lebih aman secara ekologis karena jasad ikan akan terurai menjadi trace element (unsur kelumit) di dalam tanah tanpa masuk ke rantai makanan konsumsi.

**Standar Teknis Penguburan**

Agar proses pengendalian ini tidak menimbulkan masalah baru, Triyanto memberikan rekomendasi teknis mengenai kedalaman lubang kubur. Hal ini penting untuk menjaga estetika dan kenyamanan lingkungan sekitar lokasi pemusnahan.

“Paling tidak 1 meter lah ya dalamnya, 1 atau 2 meter supaya tidak menimbulkan gangguan estetika dan gangguan bau yang menyengat nanti di lingkungan setempat,” pungkasnya.

**Solusi Sementara Menunggu Inovasi**

Hingga saat ini, penguburan tetap menjadi benteng terakhir dalam menekan ledakan populasi ikan invasif di Jakarta sembari menunggu pengembangan teknologi pengolahan limbah biologi yang lebih aman bagi makhluk hidup.

**Tantangan Pengendalian Berkelanjutan**

Metode penguburan ini hanya bersifat reaktif terhadap masalah yang sudah terlanjur terjadi. Diperlukan strategi preventif jangka panjang untuk mencegah masuknya spesies invasif ke perairan Jakarta di masa mendatang.

**Potensi Penelitian Lanjutan**

Sebelum memanfaatkan ikan sapu-sapu untuk keperluan komersial, diperlukan penelitian mendalam tentang tingkat kontaminasi dan metode detoksifikasi yang efektif dan ekonomis.

**Koordinasi Antarlembaga**

Penanganan massal seperti ini membutuhkan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan instansi lingkungan untuk memastikan protokol yang tepat.

**Edukasi Masyarakat**

Penting juga untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya membuang ikan hias ke sungai, yang merupakan salah satu penyebab utama invasi spesies asing di perairan Indonesia.

**Monitoring Jangka Panjang**

Setelah operasi pembersihan, diperlukan monitoring berkelanjutan untuk memastikan efektivitas pengendalian dan mencegah kembalinya populasi ikan sapu-sapu dalam jumlah besar.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Metode Ovulasi Billings

Dalam Hologram Kafka

Behind the Strike! 10 Tahun Mancing Mania