Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah merilis data menunjukkan kemungkinan 80 persen El Nino akan terbentuk antara Juni hingga Agustus 2026. Probabilitas fenomena ini bertahan sampai November bahkan mencapai 90 persen.
“Sains telah berbicara dengan jelas: El Nino akan tiba di depan pintu kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pernyataan video resmi pada awal Juni 2026.
Di tengah hiruk-pikuk peringatan global tersebut, Eddy Hermawan, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingatkan hal yang sering terlewat dari pemberitaan: Indonesia bukan negara biasa dalam urusan El Nino.
“Harus dipahami bahwa Indonesia itu kawasannya unik, kawasannya spesifik. Dia diapit oleh dua benua besar, Asia dan Australia, dan diapit oleh dua samudra besar. Tidak bisa ujug-ujug begitu,” kata Eddy kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
**El Nino di Indonesia Bukan Hanya Soal Pasifik**
El Nino pada dasarnya adalah fenomena yang lahir dari Samudra Pasifik—ketika angin pasat melemah dan suhu permukaan laut di Pasifik bagian timur menghangat secara signifikan. Inilah yang kemudian mengganggu pola hujan dan suhu di berbagai penjuru dunia.
Namun bagi Indonesia, Eddy menekankan, ceritanya tidak sesederhana itu. Di sebelah barat kepulauan Nusantara, ada Samudra Hindia yang juga memiliki dinamika tersendiri, diukur lewat indeks yang disebut IOD atau Indian Ocean Dipole.
“Di kawasan barat Indonesia ada yang namanya IOD—Indian Ocean Dipole. Walaupun dia tidak sebesar Samudra Pasifik, tapi lokasinya berhadapan langsung dengan kita. Jadi sebelah barat ada Samudra Hindia, sebelah selatan ada Samudra Indonesia. Itu juga harus kita pertimbangkan,” jelas Eddy.
Dengan kata lain, Indonesia berada di persimpangan dua sistem laut sekaligus. Seberapa keras El Nino memukul Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di Pasifik, tetapi juga oleh kondisi Samudra Hindia di sebelah barat.
**IOD Sedang Tidak Mendukung El Nino**
Di sinilah data terkini memberi gambaran yang berbeda dari narasi global. Berdasarkan pemantauan dari Poama Australia dan JAMSTEC—lembaga sains kelautan Jepang—IOD saat ini diperkirakan berada di fase normal-netral hingga akhir tahun, dengan nilai hanya sekitar 0,4 hingga 0,5. Jauh dari angka yang dibutuhkan untuk memperparah dampak El Nino di Indonesia.
“IOD berdasarkan prediksi dari pihak Poama Australia, dia berada di fase nyaman hingga akhir tahun. Tidak ada indikasi kalau dia akan mendukung El Nino,” kata Eddy.
Ini bukan tanpa preseden. Eddy menunjuk perbedaan antara El Nino 1997 dan 2015 sebagai bukti betapa krusialnya peran IOD. Pada Oktober 1997, anomali suhu Pasifik (Nino 3.4) mencapai 2,4—sangat tinggi. Tapi yang membuat dampaknya begitu dahsyat bagi Indonesia adalah IOD yang ikut melonjak ke angka 1,8 di bulan yang sama. Gabungan keduanya menciptakan badai sempurna.
Pada 2015, Nino 3.4 juga menyentuh 2,4—angka yang identik. Namun IOD hanya berada di 0,8. Hasilnya? El Nino 2015 tetap terasa, tapi tidak separah 1997.
“Setinggi apapun Nino 3.4, di mana IOD-nya tidak ikut mendukung, gagal dia,” tegas Eddy.
**Baru Tiga Tahun dari Ekstrem 2023**
Ada satu lagi argumen yang memperkuat skeptisisme Eddy terhadap skenario El Nino super di 2026: jarak waktu. Indonesia baru saja melewati cuaca ekstrem pada 2023, ketika El Nino kembali aktif dan memicu kekeringan di sejumlah wilayah, memperparah kebakaran hutan dan lahan, serta mendorong suhu global ke rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan modern.
Secara historis, kejadian El Nino ekstrem—yang oleh sebagian ilmuwan disebut “Godzilla”—berulang dalam rentang 15 hingga 20 tahun. El Nino dahsyat 1997-1998 baru diikuti episode serupa pada 2015-2016, jeda 18 tahun. Jika polanya konsisten, kejadian sekaliber itu baru akan relevan dikhawatirkan paling cepat di awal 2030-an.
“Baru saja kita mengalami ekstrem 2023. Masa hanya butuh waktu 3 tahun akan terjadi ekstrem lagi? Osilasi dinamika Nino 3.4 itu rata-rata 4 sampai 7 tahun. Jadi 3 tahun itu terlalu cepat,” kata Eddy.
**Dua Pertiga Lautan, Ribuan Pulau**
Faktor lain yang membuat Indonesia berbeda adalah komposisi wilayahnya sendiri. Dua pertiga dari total luas Indonesia adalah lautan. Laut memiliki sifat yang berlawanan dengan daratan—ia lambat menyerap panas dan lambat pula melepaskannya.
“Jangan samakan dampak El Nino ke India yang daratan semua—ya pasti panas. Dampak El Nino ke negara-negara Eropa yang daratan—ya iyalah (terdampak). Indonesia enggak begitu,” tegas Eddy.
Di antara lautan-lautan besar itu, tersebar ribuan pulau dengan selat-selat yang memisahkannya—Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Makassar, dan ratusan lainnya. Setiap elemen geografi ini turut memodifikasi bagaimana energi panas dari Pasifik akhirnya sampai—atau tidak sampai—ke berbagai wilayah di Indonesia.
Artinya, alarm global WMO tetap relevan dan perlu diperhatikan. Tapi membacanya untuk konteks Indonesia membutuhkan lapisan pemahaman tambahan—bukan sekadar menyalin peringatan global dan menempelkannya pada peta kepulauan kita.
Kewaspadaan adalah sikap yang tepat. Kepanikan yang tidak berbasis data, justru tidak.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: