Tahun 1627 menandai berakhirnya sebuah era ketika individu Aurochs terakhir di dunia mati di Hutan Jaktorów, Polandia. Spesies sapi liar raksasa yang pernah mendominasi daratan Eurasia ini dinyatakan punah sepenuhnya. Kini, hampir 400 tahun kemudian, sekelompok ilmuwan ambisius berupaya melawan sejarah dengan mencoba “menghidupkan kembali” raksasa bertanduk ini melalui rekayasa genetika dan pembiakan selektif.
Aurochs (Bos primigenius) bukanlah sapi biasa. Di masa kejayaannya, mereka merupakan penguasa liar di Eurasia dan Afrika Utara dengan tubuh sangat besar dan berotot. Bahkan pemimpin Romawi kuno, Julius Caesar, pernah menggambarkan betapa mengerikannya makhluk ini.
“Ukurannya sedikit di bawah gajah, kekuatan dan kecepatan mereka luar biasa. Mereka tidak menyayangkan manusia maupun binatang buas yang mereka lihat,” tulis Caesar dalam catatan sejarahnya, dikutip IFL Science.
**Nenek Moyang Semua Sapi Domestik**
Aurochs merupakan nenek moyang liar dari semua sapi domestik yang ada saat ini. Analisis genetik menunjukkan bahwa seluruh populasi sapi di dunia sekarang berasal dari hanya 80 ekor betina Aurochs yang dijinakkan di Timur Dekat sekitar 10.500 tahun lalu, tepat setelah Revolusi Pertanian.
Muncul pertama kali dalam catatan fosil sekitar 700.000 tahun lalu, populasi Aurochs mulai merosot drastis pada akhir Abad Pertengahan. Perburuan berlebihan dan hilangnya habitat menjadi penyebab utama. Selain itu, mereka diduga menjadi korban penyakit menular yang ditularkan oleh sepupu sapi domestik mereka.
**Dokumentasi Kepunahan yang Lengkap**
Nasib tragis Aurochs terdokumentasi dengan baik karena Kerajaan Polandia secara aktif mengelola Hutan Jaktorów sebagai benteng terakhir mereka. Meskipun dekrit kerajaan dikeluarkan untuk tindakan perlindungan mendesak, upaya tersebut terlambat. Laporan kerajaan pada tahun 1630 menyatakan bahwa Aurochs terakhir adalah betina yang mati karena penyebab alami tiga tahun sebelumnya.
**Proyek Ambisius “De-Ekstingsi”**
Meskipun secara fisik telah lenyap, DNA Aurochs masih hidup di dalam tubuh sapi domestik saat ini. Hal ini memberikan para ilmuwan “jalan pintas genetik” yang tidak dimiliki proyek ambisius lainnya, seperti upaya menghidupkan kembali mammoth berbulu atau dodo.
Melalui teknik pembiakan selektif pada ras sapi kuno yang secara genetik paling dekat dengan aslinya, para peneliti telah menghasilkan ras khusus yang dikenal sebagai Tauros. Makhluk mirip Aurochs ini bahkan sudah mulai diperkenalkan kembali ke beberapa bagian Eropa, termasuk Skotlandia, Belanda, Ceko, Kroasia, Spanyol, dan Portugal.
“Di zaman di mana para ilmuwan secara serius mendiskusikan de-ekstingsi mammoth berbulu dan dodo, mungkin sapi karismatik ini adalah salah satu ‘comeback’ yang paling mungkin dicapai,” tulis peneliti dalam ulasan sains tersebut.
Kembalinya Aurochs dalam bentuk “Tauros” diharapkan dapat membantu memulihkan ekosistem Eropa yang telah lama kehilangan peran herbivora besar ini sebagai pengelola alami lanskap liar.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: