Selama ini El Nino identik dengan bencana: kekeringan panjang, gagal panen, dan cuaca ekstrem. Namun, siapa sangka di perairan Indonesia, fenomena iklim global ini justru dapat membawa kabar baik bagi para nelayan?
Profesor dari University of Maryland, R. Dwi Susanto, menjelaskan bahwa ketika El Nino berkembang, suhu laut di sejumlah perairan Indonesia cenderung menurun akibat perpindahan massa air hangat ke bagian timur Samudra Pasifik. Kondisi ini memicu penguatan proses upwelling—yaitu naiknya massa air kaya nutrisi dari lapisan laut yang lebih dalam ke permukaan.
“Pada saat El Nino, produktivitas perairan di selatan Jawa dan Sumatra meningkat karena konsentrasi klorofil menjadi lebih tinggi. Kondisi ini mendukung ketersediaan pakan alami dan berpotensi meningkatkan kelimpahan ikan,” jelasnya dalam forum Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 yang diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN bersama University of Maryland, Selasa, 2 Juni 2026.
Sederhananya: air laut yang lebih dingin membawa lebih banyak nutrisi ke permukaan. Nutrisi ini memicu pertumbuhan fitoplankton—makanan dasar rantai makanan laut—yang pada akhirnya meningkatkan kelimpahan ikan di wilayah tersebut. Fenomena ini telah diamati pada sejumlah kejadian El Nino sebelumnya, terutama di perairan selatan Jawa, Bali, dan Sumatra.
**Tuna Lebih Mudah Ditangkap**
El Nino juga dapat mengubah distribusi ikan pelagis besar, termasuk tuna. Dwi menjelaskan bahwa selama El Nino, kedalaman termoklin—lapisan pemisah antara air hangat permukaan dan air dingin di bawahnya—di beberapa wilayah perairan Indonesia bisa menjadi lebih dangkal. Kondisi ini membuat tuna berada lebih dekat ke permukaan dan lebih mudah dijangkap.
“Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Nino terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif,” ujarnya dikutip dari BRIN.
**Tetap Ada Risiko yang Perlu Diwaspadai**
Meski membawa peluang, Dwi mengingatkan bahwa perubahan kondisi oseanografi tetap perlu dicermati karena dapat menimbulkan dampak berbeda pada setiap ekosistem laut. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap terumbu karang di wilayah tertentu akibat perubahan kondisi lingkungan laut.
Karena itu, pemantauan oseanografi secara berkelanjutan menjadi penting—tidak hanya untuk memahami risiko yang muncul, tetapi juga untuk mengidentifikasi peluang pemanfaatan sumber daya laut secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Prof. A’an Johan Wahyudi, menegaskan bahwa riset kelautan memiliki peran strategis dalam mengungkap dinamika laut sekaligus potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.
“Forum ilmiah yang mempertemukan peneliti dari berbagai institusi menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi dan mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan laut dalam Indonesia,” ujarnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: