Apa yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata buaya? Rahang besar? Gigi-gigi tajam yang mengerikan? Atau tubuh panjang menyerupai balok kayu yang merayap dengan empat kaki? Jika itu yang Anda bayangkan, maka siap-siaplah dibuat terkejut oleh penemuan terbaru para ahli paleontologi.
Baru-baru ini, ilmuwan berhasil mengidentifikasi spesies baru nenek moyang buaya yang hidup 212 juta tahun lalu. Alih-alih menyeramkan, hewan purba ini justru tidak memiliki gigi, berparuh, dan berjalan tegak dengan dua kaki. Sangat berbeda dengan buaya yang kita kenal sekarang.
Reptil unik ini resmi diberi nama Labrujasuchus expectatus, atau yang dijuluki sebagai “Witch Croc” (Buaya Penyihir). Ia merupakan anggota terbaru dari keluarga Shuvosauridae, kelompok reptil punah yang sekilas justru lebih mirip dinosaurus theropoda berlengan pendek ketimbang seekor buaya.
**Mengapa Disebut “Buaya Penyihir”?**
Nama Labrujasuchus diambil dari kata Ranchos de los Brujos (artinya Peternakan para Penyihir). Ini merupakan nama kuno dari Ghost Ranch di New Mexico, Amerika Serikat, tempat di mana fosil unik ini ditemukan.
Menurut legenda setempat, nama bernuansa mistis itu sengaja digunakan oleh para peternak zaman dulu untuk menakut-nakuti orang agar menjauh dari lokasi pencurian ternak. Sementara nama belakangnya, expectatus, memiliki arti “yang diharapkan.”
Nama ini dipilih karena para ilmuwan memang sudah lama memprediksi adanya mata rantai yang hilang di antara dua fosil shuvosaurid yang ditemukan sebelumnya di wilayah tersebut.
**Punya Paruh Tapi Bukan Burung**
Kehadiran paruh pada Labrujasuchus merupakan contoh sempurna dari evolusi konvergen—sebuah fenomena di mana makhluk hidup yang tidak berkerabat dekat mengembangkan fitur tubuh yang mirip karena tuntutan lingkungan atau gaya hidup yang sama.
Lantas, digunakan untuk apa paruh tanpa gigi tersebut? Karena fosilnya baru diteliti, para ilmuwan masih terus mencari jawaban pastinya.
“Kami belum tahu pasti apa yang dilakukan Labrujasuchus dengan paruhnya. Namun, beberapa studi pada kerabatnya menunjukkan bahwa rahang bawah kelompok shuvosaurid relatif lemah. Kemungkinan mereka adalah pengunyah spesialis tanaman atau vegetasi yang lunak,” kata Nathan Smith, salah satu penulis penelitian dari Natural History Museum of Los Angeles County.
**Masa Lalu Buaya yang Penuh Warna**
Bagi manusia modern, membayangkan buaya berjalan dengan dua kaki mungkin terdengar sangat aneh. Namun di zaman Trias (era fajar dinosaurus), nenek moyang buaya ternyata mengeksplorasi banyak gaya hidup.
Sebelum akhirnya berevolusi menjadi predator air berkaki empat seperti sekarang, beberapa leluhur buaya ada yang menjadi pelari cepat, ada yang tinggal di atas pepohonan, dan ada pula yang berjalan bipedal seperti Labrujasuchus.
Alan Turner, penulis utama penelitian dari Stony Brook University di New York, menjelaskan bahwa strategi bertahan hidup ini sebenarnya sangat sukses pada zamannya.
“Berjalan dengan dua kaki memang jalur yang unik untuk kerabat buaya. Namun, jalur ini juga sukses diambil oleh dinosaurus dan kemudian burung. Strategi ini terbukti berhasil untuk hewan-hewan tersebut,” ungkap Alan Turner dalam sebuah pernyataan resmi.
Penelitian komprehensif mengenai si “Buaya Penyihir” yang unik ini telah resmi diterbitkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology. Penemuan ini menjadi tonggak sejarah penting setelah tim peneliti menghabiskan waktu selama 20 tahun melakukan investigasi di Ghost Ranch.
Para ilmuwan yakin, masih banyak “makhluk aneh” lainnya yang terkubur di peternakan penyihir tersebut dan menunggu untuk ditemukan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: