Musim kemarau tahun ini berpotensi tidak seperti biasanya. El Nino—fenomena alam yang membuat awan-awan hujan “berpindah” dari Indonesia ke tengah Samudra Pasifik—sedang aktif dan mulai memberikan dampak. Beberapa wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami kekeringan yang lebih panjang, ketersediaan air yang menyusut, hingga risiko kebakaran lahan yang meningkat.
Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa dampak El Nino 2026 sudah cukup serius untuk diwaspadai—meski tidak perlu dilebih-lebihkan.
Bagaimana El Nino bekerja dan mengapa Indonesia terdampak? Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik naik lebih panas dari normal. Pemanasan ini menciptakan pusat tekanan udara rendah di sana, yang menarik awan-awan penghasil hujan menjauh dari wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
“Semakin panas lautan Pasifik di sana, maka awan-awan kita akan ditarik menuju Pasifik tengah. Akibat pusat tekanannya di sana. Karena ditarik, kawasan kita tidak kebagian hujan,” kata Eddy kepada Kompas.com.
Hasilnya adalah musim kemarau yang datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan curah hujan yang jauh di bawah rata-rata. Ini bukan hanya soal cuaca terasa lebih panas—dampaknya langsung menyentuh sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko kebakaran hutan.
**Wilayah mana yang perlu paling waspada?**
Menurut Eddy, wilayah yang pertama dan paling terdampak adalah NTT dan NTB. Dari sana, dampak kekeringan bergerak ke barat: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga masuk dalam zona rawan, terutama karena dua wilayah terakhir ini memiliki banyak lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat kering.
Untuk Sulawesi Selatan, Eddy juga menyebut wilayah ini perlu waspada terhadap kekeringan.
“Sementara Papua dan Sulawesi Utara diprediksi relatif aman dari dampak El Nino kali ini,” kata Eddy.
**Yang bisa dilakukan sekarang**
Bagi petani di wilayah-wilayah terdampak, informasi jadwal musim dari BMKG penting untuk diikuti agar bisa menyesuaikan waktu tanam sebelum sumber air menyusut. Masyarakat umum bisa mulai lebih hemat air dari sekarang, karena puncak kemarau berpotensi membuat sumur dan waduk lebih cepat surut dari tahun-tahun normal.
Di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan, kesiagaan terhadap kebakaran lahan perlu ditingkatkan sedini mungkin.
**Lantas, benarkah ini El Nino terparah sepanjang sejarah?**
Kabar yang beredar di media sosial menyebut El Nino 2026 akan melampaui El Nino dahsyat tahun 1877. Eddy meluruskan klaim ini dengan tegas. Menurutnya, perbandingan dengan 1877 tidak bisa dilakukan secara ilmiah karena data iklim yang andal dari lembaga-lembaga resmi rata-rata hanya tersedia hingga tahun 1850.
Lebih jauh lagi, kondisi bumi di abad ke-19 sangat berbeda—tidak ada kerusakan lingkungan seperti sekarang, emisi karbon nyaris nol, sehingga membandingkannya secara langsung tidak adil.
“Jangan bandingkan dengan sekarang. Tahun 1877, tanamannya masih hijau, lautnya masih bagus, tidak ada kerusakan di mana-mana. Emisinya mungkin masih nol,” kata Eddy.
Referensi yang lebih tepat untuk El Nino kuat, menurut Eddy, adalah kejadian tahun 1997-1998 dan 2015-2016. Keduanya pernah dikaji dalam publikasi ilmiah dan dikenal sebagai El Nino yang benar-benar ekstrem.
Eddy mengingatkan masyarakat untuk tidak panik dan tetap perlu waspada karena dampaknya nyata—kemarau lebih panjang, risiko kekeringan, dan potensi kebakaran lahan di beberapa wilayah. Namun ini bukan bencana iklim historis yang perlu membuat masyarakat panik.
Eddy menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari BMKG sebagai lembaga pemerintah yang berwenang mengeluarkan prakiraan iklim dan cuaca di Indonesia, dan tidak terbawa arus klaim yang belum terverifikasi secara ilmiah.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: