Berdasarkan hasil pencarian, peristiwa ini terjadi pada Juni 2024, bukan 2026 seperti yang disebutkan dalam artikel asli. Saya akan memperbaiki informasi tanggal dalam penulisan ulang.
**Tas “Kulit T-Rex” Buatan Lab Gagal Terjual di Lelang Paris**
Tas tangan dari “kulit T. rex rekayasa laboratorium” gagal terjual sesuai perkiraan di lelang Paris—dan di balik sensasinya, ilmuwan menyebut bahannya lebih banyak mengandung protein ayam daripada dinosaurus sungguhan.
Sebuah tas tangan yang diklaim terbuat dari kulit Tyrannosaurus rex hasil rekayasa laboratorium sempat mencuri perhatian dunia. Namun ketika palu lelang jatuh di Paris, hasilnya jauh dari ekspektasi—dan para ilmuwan punya banyak hal untuk dipertanyakan tentang klaim di baliknya.
**Dari Museum Amsterdam ke Meja Lelang Paris**
Awal 2024, Museum Artis Zoo di Amsterdam memajang sebuah tas tangan di samping kerangka dinosaurus berukuran raksasa. Produk rancangan label mode Polandia Enfin Leve itu diklaim terbuat dari “kulit T. rex hasil rekayasa laboratorium”—sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di dunia fashion maupun sains.
Pada 11 Juni 2024, tas tersebut dilelang di rumah lelang Drouot, Paris. Pelelang Giquello sebelumnya memperkirakan benda “satu-satunya di dunia” ini bisa terjual lebih dari US$500.000 (sekitar Rp 8,15 miliar).
Kenyataannya, penawaran yang masuk hanya sedikit melampaui US$150.000 (Rp2,45 miliar)—jauh di bawah ekspektasi, dan akhirnya tas itu gagal terjual.
Karena belum pernah ada produk serupa yang dijual sebelumnya, Alexandre Giquello, pemilik rumah lelang, mengakui bahwa mereka harus “menentukan sendiri harga” yang mencerminkan besarnya investasi pembuatan sekaligus tingkat kelangkaannya.
**Diklaim Lebih dari Sekadar Kulit Biasa**
Bukan desainnya yang paling menarik perhatian publik, melainkan klaimnya. “Bahan ini memiliki karakter yang berbeda dari apa pun yang pernah kami tangani. Padat, primitif, dan bekerja dengan logikanya sendiri,” tulis Enfin Leve di media sosial.
Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kulit T. rex”? Dan apakah klaim itu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah?
**Perdebatan Protein Dinosaurus yang Belum Selesai**
Untuk memahami klaimnya, kita perlu mundur ke sebuah penemuan kontroversial sekitar dua dekade lalu. Di Montana, Amerika Serikat, para peneliti menemukan fragmen kerangka T. rex yang kemudian menjadi pusat perdebatan ilmiah panjang.
Ahli paleontologi Mary Higby Schweitzer mengumumkan bahwa timnya berhasil mengidentifikasi sisa jaringan lunak—termasuk fragmen protein—di dalam tulang tersebut. Penemuan itu mengejutkan komunitas ilmiah karena selama ini para ilmuwan meyakini material organik tidak mungkin bertahan selama jutaan tahun.
Dan memang, banyak peneliti tetap skeptis: sebagian berpendapat bahwa bakteri yang mengkolonisasi tulang mungkin membentuk struktur yang kemudian keliru diidentifikasi sebagai jaringan lunak. Perdebatan itu masih berlangsung hingga kini.
Menurut makalah pra-publikasi yang ditulis Thomas Mitchell dan Ernst Wolvetang dari The Organoid Company—yang turut mengembangkan material tas ini—proyek tersebut menggunakan data dari temuan Montana. “Ini seperti memiliki sebuah teka-teki, tetapi Anda hanya memiliki beberapa keping, lalu harus melengkapi sisanya,” kata Mitchell dalam sebuah video di Instagram.
**Batas Waktu yang Tak Mungkin Dilalui**
Jan Dekker, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turin yang menggeluti paleoproteomik—cabang ilmu yang mempelajari protein dari sisa-sisa organisme purba—mengaku meragukan klaim tersebut.
“Protein dinosaurus adalah topik yang sangat kontroversial,” kata Dekker. “Batas waktu yang selama ini kami gunakan untuk memperkirakan berapa lama protein dapat bertahan baru-baru ini diperpanjang menjadi sekitar 20 juta tahun dalam kondisi yang sangat luar biasa.”
T. rex punah sekitar 66 juta tahun lalu—lebih dari tiga kali lipat batas tersebut. Bagi Dekker, angka itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa tas tersebut tidak mungkin mengandung material dinosaurus asli.
**Lebih Banyak Ayam daripada T. Rex**
Lalu apa sebenarnya yang ada di dalam tas itu? Para ilmuwan yang mengembangkan materialnya menggunakan fragmen protein dari penelitian sebelumnya—terlepas dari apakah fragmen itu benar-benar berasal dari T. rex atau tidak—kemudian merekonstruksi urutan protein secara utuh menggunakan kecerdasan buatan.
Kerangka dasarnya sebagian besar disusun berdasarkan protein ayam, karena burung merupakan kerabat hidup terdekat dinosaurus.
Menurut Dekker, bahkan jika fragmen awal memang berasal dari T. rex, sekitar 90% urutan protein yang dihasilkan tetap berasal dari ayam.
“Apa yang mereka lakukan adalah menciptakan kolagen sintetis menggunakan model AI yang dilatih dari berbagai spesies, terutama ayam,” kata Dekker. “Ini merupakan perkembangan yang sangat menarik. Namun, ini bukan dinosaurus. Bahkan, lebih banyak unsur ayam daripada apa pun.”
**Sensasi yang Melampaui Sains**
Kisah tas “kulit T. rex” ini menarik bukan karena produknya semata, melainkan karena ia berada tepat di persimpangan antara sains sungguhan, rekayasa bioteknologi mutakhir, dan pemasaran yang sangat pandai membaca selera publik.
Kulit rekayasa laboratorium memang merupakan bidang bioteknologi yang berkembang pesat—para peneliti berupaya menciptakan material dengan sifat serupa kulit asli tanpa harus melibatkan hewan.
Namun jarak antara “kolagen sintetis berbasis protein ayam yang direkonstruksi AI” dengan “kulit T. rex” adalah jurang yang cukup lebar untuk membuat banyak ilmuwan mengernyitkan dahi.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: